Postingan

Menampilkan postingan dari Agustus, 2025

Tegar dari runtuh

Biarlah angin membawa sisa jejakmu, seperti bayang yang enggan menua bersama waktu. Aku bukan tanah yang rela ditanami racun, bukan telaga yang sudi menampung arus keruhmu. Ada saatnya ranting patah tak layak disambung, biarlah gugur, agar pohon tak ikut rebah. Dan dari runtuh itu, tumbuhlah akar yang tegar, menyimpan hidup tanpa perlu kembali menawar. Jika cinta hanyalah rantai yang berkarat, lebih mulia kutanggalkan, meski berdarah di pergelangan. Karena jiwa ini bukan tawanan yang pasrah, tapi mercusuar yang tetap menyala, walau kapalmu karam. Oleh: Sarah Bneiismael

Biarkan saja

Aku bukan bunga yang dipamerkan di singgasana, hanya rumput liar di tepian jalan desa. Jika kau pijak, aku masih tumbuh apa adanya, jika kau abaikan, aku tetap bernapas di bawah cahaya-Nya. Engkau datang dengan rayu yang manis, seperti gula yang larut tanpa sisa, habis. Aku tersenyum, bukan karena terpesona, melainkan karena tahu: semua itu hanya sandiwara dunia. Kalau cinta hanya untuk mereka yang indah rupa, maka dunia ini tak lebih dari cermin yang penuh dusta. Apalah arti manis kata yang kau tabur, jika hatimu sendiri hanyalah ruang yang hampa dan kabur. Aku tidak marah, tidak pula kecewa, aku hanya tertawa, sebab permainanmu begitu biasa. Seindah apa pun gerakmu menggoda, tetap saja kosong, tak berharga di mata jiwa. Biarlah—aku tidak butuh tepuk tangan semu, tidak perlu ikut menari di pesta palsu. Hatiku bukan pasar yang bisa kau tawar, rinduku bukan koin yang bisa ditukar. Jika aku tampak hina, biarkan saja, bukankah yang mencipta lebih tahu nilainya? Aku tidak diciptakan untuk ...

TENTANG KITA YANG SALING MENGHANCURKAN: Prosa Liris.

POLOG PEMBUKA: Ada kisah yang lahir dari pertemuan dua hati yang pernah begitu yakin pada satu janji. Mereka tertawa dalam mimpi yang sama, berpegangan tangan seolah dunia tidak sanggup meruntuhkan mereka. Namun, seperti langit yang tak selamanya biru, cinta itu perlahan berubah menjadi hujan yang deras. Di antara kehangatan dan luka, terdapat percakapan yang tak pernah selesai, tentang kesetiaan yang dipertanyakan, tentang kerinduan yang tak pernah benar-benar terjawab. Mereka saling mencintai, tapi juga saling melukai. Mereka saling membutuhkan, namun justru saling menuduh. Beginilah cinta— kadang hadir bukan untuk dimiliki selamanya, melainkan untuk mengajarkan arti kehilangan, agar jiwa memahami bahwa mencintai tak selalu berarti selalu harus memiliki. Dan di titik inilah cerita mereka dimulai: di ambang perpisahan, ketika cinta harus diuji antara bertahan dengan luka, atau melepaskan dengan sisa harga diri. --- DIALOG 👩: "Aku sudah menyerahkan seluruh hatiku padamu. Kesetiaa...

Pagi yang menyala dalam sepi | Puisi ini tentang perjalanan batin seseorang yang merasa sendiri, tidak dipedulikan, dan sering disalahkan, tetapi tetap memilih bertahan dan yakin hidup punya makna.

Pagi kembali datang, membawa embun yang menggigil di ujung daun, matahari meneteskan madu ke pelupuk mataku, dan aku terbangun dalam dunia yang sama, dunia yang tak pernah berubah, dunia yang sepi namun tetap berdetak. Aku melangkah ke kebunku, tempat sunyi menanam doa, tempat tanah menyimpan rahasia, tempat aku mengadu tanpa suara. Tidak ada kesibukan, tidak ada riuh manusia— hanya bisikan angin, dan degup kecil dalam dadaku yang berkata: "Bertahanlah, meski kau sendiri." Orang-orang, oh orang-orang… mereka sibuk memahat wajahnya di cermin, sibuk menata singgasana egonya, sibuk menutup telinga atas tangis yang bukan miliknya. Kesalahanku yang hanya setitik, mereka besarkan menjadi samudra, sementara seribu kebaikan yang kupersembahkan lenyap begitu saja, seperti api lilin yang padam di tengah badai. Namun aku tetap berjalan. Aku tahu, berharap pada manusia hanya akan melahirkan patah hati yang disengaja. Meminta hangat dari es, meminta cahaya dari kegelapan. Sia-sia… tetapi ...

Orkestra yang retak ditengah senandung | Puisi cinta yang berakhir jadi pelajaran

Aku pernah bertemu denganmu, bukan di jalan berdebu, bukan di taman berbunga, melainkan di ruang yang tak bertubuh— tempat suara menggema tanpa wajah, tempat huruf-huruf menari tanpa tangan. Di sanalah, kau hadir bagai gema yang menembus sunyi, seperti bintang jatuh yang menabrak dadaku dan menyalakan malam yang sebelumnya padam. Kita awalnya hanya diam, dua orang asing yang saling tahu tanpa berani menyapa. Aku membaca napasmu lewat jeda kata, aku mendengar senyummu lewat nada yang pecah di mikrofon. Lalu perlahan, kau merangkai jembatan dari tatapan virtual, dan aku menyeberanginya dengan hati yang gemetar. Hari-hari setelah itu adalah pesta cahaya. Aku merasa setiap detik bersamamu adalah perayaan kecil yang ditiupkan Tuhan ke telingaku. Segalanya indah: senyummu adalah musim semi yang berulang, suaramu adalah air hujan yang menenangkan bumi, dan cintamu— oh cintamu— kupikir adalah kitab suci yang tak akan pernah berubah ayatnya. Aku menyerahkan segalaku padamu, seolah-olah aku memb...

Indah yang tak pernah ku miliki l mencintai diam-diam

Aku mencintaimu, dengan cara yang mungkin tak pernah bisa kau dengar. Cinta ini berdiam di ruang dada, bersembunyi di balik senyum, terjaga dalam tatapan yang pura-pura biasa. Seperti langit yang menampung rahasia hujan, aku menampung namamu tanpa pernah menjatuhkannya. Aku tahu, langkahmu bukan menuju padaku, tapi aku tetap menanti, seperti dermaga yang rela menua menunggu kapal yang tak pernah kembali. Matamu... ah, matamu adalah sepasang senja yang tak pernah habis kutatap, membuatku ingin berlama-lama, meski aku sadar— aku hanyalah bayangan yang tak kau cari. Kau tersenyum, dan senyum itu bagai bulan purnama yang membuat laut di dadaku pasang, gelisah namun indah, sebab aku tahu, bahkan bulan pun tidak bisa kusentuh, meski cahayanya jatuh begitu lembut di wajahku. Aku pernah melihatmu menggenggam tangan orang lain. Saat itu, dadaku bergemuruh seperti badai, namun entah mengapa, badai itu cepat reda. Karena aku sadar, aku tidak pernah benar-benar ingin memiliki, aku hanya ingin mera...

Taman dari tubuh yang retak :bertahan hidup

Aku adalah kota mati, Lampu-lampu redup, jalan-jalan tanpa penghuni. Jam terus berdetak—tapi aku tidak bergerak, Hanya daging yang bernafas, tanpa jiwa yang pulang. Hari-hariku hanyalah parade bayangan. Senyum orang lain lewat di mataku, Tapi tak satu pun berhenti mengetuk pintu. Aku hanyalah kerangka yang berbaring di ranjang, Membelai layar ponsel, Seperti mengusap batu nisan yang dingin. Namun… dari retak tubuhku, Kudengar bisikan tanah memanggil namaku. Bumi berkata: “Jika kau tak punya siapa-siapa, Tancapkan aku di dadamu, Biarlah aku jadi sahabatmu yang terakhir.” Maka, kugali luka-lukaku. Kutanam benih di dalamnya. Akar-akar kecil menjulur di nadi, Daun-daun hijau tumbuh dari hatiku yang pecah. Aku jadi taman, Bukan karena bahagia. Tapi karena aku tak ingin mati tanpa makna. Seribu kali bibitku gugur, Seolah langit menertawakan ketabahanku. Seribu kali hujan menenggelamkan harapanku, Dan matahari membakarnya menjadi abu. Tapi aku tetap menanam… Karena menyerah hanya akan mengubu...

Aku yang lelah

Di dadaku, bulan retak dua, cahayanya samar, redup tak berdaya, napas tersengal bagai burung patah sayap, ingin terbang, namun jatuh di tepi gelap. Aku berjalan di ladang sunyi, rumputnya tajam, menusuk nadi, setiap langkah hanyalah gema, yang kembali memukul dada tanpa suara. Marahku menjerit dalam bisu, seperti ombak yang terikat batu, aku menahannya—hingga tubuhku sendiri, merintih pelan bagai biola berdebu. Di pundakku ada langit runtuh, beban bukan milikku, namun dipaksa kutanggung utuh, mereka yang seharusnya jadi penopang, hilang, menanggalkan tanggung jawab di jalan yang bising dan panjang. Aku menyerahkannya pada Tuhan, pada langit malam, pada sepi yang tak terhitung, namun bayanganku sendiri mencemooh, mengatakan aku tak cukup layak bahkan untuk mengetuk pintu keabadian. Aku ingin kuat, namun tanganku kosong, aku ingin memberi semangat, namun bibirku hanya melahirkan kabut kering yang hanyut. Oh, ayah dan ibuku, dimana rindu harus kutitip bila engkau tak lagi ada? Aku mencari...

Langkah yang tak pernah sampai

Aku berjalan seperti bayangan yang kehilangan tubuhnya, diterpa cahaya, namun tak pernah benar-benar terlihat. Orang-orang menilai dari kelopak, padahal akarku sudah lama patah. Mereka menuntut wangi, sementara aku bahkan sulit bertahan dari layu. Jika hidup harus seperti penari, maka aku menari dengan kostum robek, dipaksa tersenyum agar tetap nampak indah. Tak ada yang tahu, di balik tirai, aku menangis kepada diriku sendiri. Aku ingin menjadi indah, tapi cermin selalu memantulkan wajah asing yang bahkan aku pun enggan menyapanya. Maka kuikat sunyi pada diri, kuhembuskan sesak dalam napas yang bergetar, dan kubiarkan dunia bertepuk tangan untuk tokoh yang sebenarnya tak pernah kupilih untuk kuperankan.

Lakon dari luka

Aku berjalan seperti bayangan yang kehilangan tubuhnya, diterpa cahaya, namun tak pernah benar-benar terlihat. Orang menilai dari kelopak, padahal akarku sudah lama patah. Mereka menuntut wangi, sementara aku bahkan sulit bertahan dari layu. Jika hidup adalah panggung, maka aku berdiri dengan kostum robek, dipaksa tersenyum agar lakon tetap berjalan. Tak ada yang tahu, di balik tirai, aku menangis kepada diriku sendiri. Aku ingin menjadi indah, tapi cermin selalu memantulkan wajah asing yang bahkan aku pun enggan menyapanya. Maka kuikat sunyi di dadaku, kuhembuskan sesak dalam napas yang bergetar, dan kubiarkan dunia bertepuk tangan untuk tokoh yang sebenarnya tak pernah kupilih untuk kuperankan.

Bayangan yang tak pernah kupilih | Puisi

Ada wajah di cermin yang selalu menatapku, seperti tamu asing yang menetap tanpa izin. Aku tersenyum padanya, namun di balik senyum itu, aku tahu: ada ruang yang retak, ada napas yang berat, ada doa yang tak pernah sempat selesai. Orang-orang berjalan sambil menunjuk bunga, katanya indah, katanya wangi, katanya layak dipuji. Lalu aku menunduk pada tanah basah di bawahnya, bertanya dalam hati: “Jika aku tumbuh sebagai rumput, haruskah aku meminta maaf karena bukan bunga?” Malam datang tanpa ditanya, membungkus tubuhku dengan dingin. Aku ingin hangat, namun tak ada api yang memilih singgah di sini. Hanya kesunyian yang setia, menepuk bahuku dengan lembut sambil berbisik: “Bertahanlah, meski tidak ada yang melihat.” Dan aku pun berdiri, meski rapuh. Seakan semesta ingin menjadikanku bukti bahwa tak semua luka bisa diperbaiki, tapi tetap bisa bernapas, meski dengan dada yang sesak.

Puisi : Tegar yang tak pernah suka rela

Ada jiwa yang tampak gagah berdiri, seperti pohon yang akarnya menancap kokoh di tanah gersang. Orang-orang berkata: betapa kuat, betapa tegar. Padahal ia hanya tak pernah diberi izin untuk tumbang. Setiap langkahnya terdengar seperti nyanyian kemenangan, namun gema itu hanya gaung di ruang kosong. Ia berkata bangga pada dirinya, padahal hatinya hanya sedang belajar merayakan kesepian. Seandainya ada tangan yang menuntun, ia tak akan berjalan sendiri. Seandainya ada bahu untuk bersandar, ia tak akan pura-pura nyaman memikul langit seorang diri. Mandiri, katanya… Tapi siapa tahu, itu hanyalah nama lain dari keterpaksaan. Sebab sesungguhnya, berdiri sendirian adalah beban yang diam-diam mengikis jiwa, namun tak seorang pun melihat air mata yang disembunyikan di balik senyum yang dipuja.

Lelah yang tak terucap

Seperti pohon tua di tengah musim kering, aku berdiri rapuh tanpa angin, namun daunku gugur sendiri, seakan hidup tak lagi punya alasan berdiri. Tangisku sering tak bersuara, ia mengendap di balik dada, menjadi genangan yang dingin, menyiksa tanpa seorang pun tahu ia ada. Meminta tolong, sama halnya berbicara pada dinding retak: sunyi hanya membalas sunyi, dan jawabannya hanyalah hampa. Kepada Tuhan aku berbisik, namun lidahku gemetar, kadang yakin, kadang ragu, seakan jarak begitu jauh meski namanya selalu kupanggil dalam lirih. Kesabaran kupeluk erat, namun ia sering berkhianat, jatuh dari genggamanku, meninggalkan aku sendiri dengan emosi yang meledak dan tubuh yang sakit tanpa sebab, tanpa obat, hanya letih yang tak berkesudahan. Aku lelah, bahkan saat tidak melakukan apa-apa, seperti hidup yang menghukum hanya karena aku masih bernafas.

Padang yang sepi ( Puisi tentang kehilangan seluruh anggota keluarga satu persatu)

Kadang angin berbisik di malam hening, membawa harum tanah basah seakan suaramu ikut serta. Aku menoleh, namun hanya sunyi yang menjawab, dan rindu kembali jatuh seperti hujan tanpa reda. Engkau bagai bulan yang tenggelam terlalu cepat, meninggalkan langitku kosong dan pucat. Namun cahaya yang pernah kau titipkan, masih menyelinap di sela gelap, menuntunku agar tak tersesat. Kepergianmu lama, tapi rasanya masih dekat, seperti mimpi yang enggan usai. Setiap langkahku masih berpijak pada bayanganmu, setiap doa masih menyebut namamu. Aku ingin bersua, ingin memelukmu dalam kehangatan yang tak lagi ada. Namun aku pun tahu, jika engkau masih di bumi ini, derita hanya akan menetes dari sikap anak-anakmu. Maka biarlah engkau damai di sana, sementara rinduku menjelma doa. Ibu, suatu saat kelak, di antara kabut waktu dan batas yang fana, akan ada pagi tanpa perpisahan, saat aku pulang ke pelukanmu, hingga berjumpa lagi.

Hingga berjumpa lagi (Puisi Ibu)

Kadang angin berbisik di malam hening, membawa harum tanah basah seakan suaramu ikut serta. Aku menoleh, namun hanya sunyi yang menjawab, dan rindu kembali jatuh seperti hujan tanpa reda. Engkau bagai bulan yang tenggelam terlalu cepat, meninggalkan langitku kosong dan pucat. Namun cahaya yang pernah kau titipkan, masih menyelinap di sela gelap, menuntunku agar tak tersesat. Kepergianmu lama, tapi rasanya masih dekat, seperti mimpi yang enggan usai. Setiap langkahku masih berpijak pada bayanganmu, setiap doa masih menyebut namamu. Aku ingin bersua, ingin memelukmu dalam kehangatan yang tak lagi ada. Namun aku pun tahu, jika engkau masih di bumi ini, derita hanya akan menetes dari sikap anak-anakmu. Maka biarlah engkau damai di sana, sementara rinduku menjelma doa. Ibu, suatu saat kelak, di antara kabut waktu dan batas yang fana, akan ada pagi tanpa perpisahan, saat aku pulang ke pelukanmu, hingga berjumpa lagi.

Jejak dijalan yang sunyi

Kerap kudapati musim yang enggan menurunkan hujan, sementara ladang menanti, tanah retak memanggil-manggil. Awan hanya bergelayut, berat oleh janji, namun tak juga menjatuhkan setetes pun penawar dahaga. Aku pun berjalan, memikul kendi kosong, berharap ada mata air di balik bukit. Dan benar, di balik sunyi itulah kutemukan, sebuah aliran kecil, jernih, meski tak dimiliki siapa pun. Ada saatnya angin tak mau bersuara, daun pun hanya diam, pura-pura tak tahu. Namun akar tetap menembus bumi, meski sendirian menahan gelap dan beban batu. Maka kusadari, kadang yang kita tunggu takkan pernah datang. Kadang cahaya harus kita sulut sendiri, meski hanya sebatang api kecil yang lahir dari gesekan luka. Dan ternyata, berjalan sendirian bukanlah kutukan. Ia adalah caraku belajar, bahwa bintang pun sanggup menyinari malam, meski tak ditemani rembulan.

Cinta yang terkunci

Kau mencintaiku, aku pun karam dalam cintamu. Namun takdir menulis garis lain, ada rumah yang kau genggam, ada jiwa yang harus kau lindungi. Betapa perih mencintai tanpa boleh menggenggam, betapa indah namun harus kupendam. Kita bagai dua bintang di langit jauh, saling bersinar, saling menatap, tapi tak pernah bisa bersatu dalam satu pelukan. Aku candu pada hangatmu, kau pun tenggelam di mataku. Namun cinta ini harus bersembunyi, agar tak ada hati lain yang hancur, agar kita tak berubah menjadi luka bagi orang lain. Biarlah kita jadi rahasia semesta, cinta yang hidup di balik dada, tanpa nama, tanpa pesta. Karena kadang yang paling tulus, adalah cinta yang rela terikat, agar tak melukai siapa pun di jalan yang kita tapaki.

Ranting yang retak

Aku adalah ranting di bawah tajukmu, menadah hujan, menahan badai, sementara kau berdiri tinggi, memetik cahaya tanpa menoleh lagi. Kadang aku ingin patah, melepaskan diri dari batang yang kaku, namun akar menahan— “kau tetap satu tubuh, satu nyawa.” Burung-burung hinggap di dahammu, mereka bernyanyi untukmu, sedang aku hanya mendengar gema, suara yang tak pernah singgah pada telingaku. Ada bara yang menyala di dadaku, seperti gunung yang menahan letusan, namun kututup dengan tanah basah, agar api tak melalap hutan persaudaraan. Maka biarlah aku jadi diam, meski retak tak lagi bisa tersembunyi. Sebab meski engkau menusuk dengan bayangan, aku tetap menjelma naungan.

Sunyi di Tengah Luka

Ada burung yang kehilangan sarang, ditelan angin, dihantam hujan datang. Ia menjerit di ranting patah, namun suaranya tenggelam di lebat semak. Ada sungai yang nyaris kering, menangis lirih di bebatuan gersang. Ia tetap merangkak meski tertatih, menyimpan janji pada laut yang jauh menanti. Ada rusa yang jatuh di rimba, dikejar lapar, diburu derita. Namun ia tetap menatap langit, seakan bintang menghibur langkah yang sulit. Begitulah hidup—penuh perih, kadang menusuk tanpa henti. Namun dari retak yang tak terperi, lahir bunga yang lebih wangi. Jangan menyerah, wahai jiwa terluka, meski tangis menenggelamkan malammu. Karena pagi selalu menjemput dengan cahaya, dan luka pun, akhirnya, tumbuh jadi dirimu.

Suara yang tenggelam

Ada sebuah suara yang selalu karam di tengah riuh, disangka riak tak penting, padahal ia adalah teriakan dari perahu yang nyaris tenggelam. Aku menanam seribu langkah di tanah retak tanpa hujan, tapi mata mereka hanya melihat debu, bukan jejak. Apa gunanya api yang kupelihara jika kalian hanya menghangatkan diri tanpa bertanya siapa yang terbakar? Mereka berkata aku cerewet, padahal aku hanya mengetuk pintu yang mestinya terbuka untukku. Mereka bilang aku tak berjuang, padahal aku telah berdarah dari perang yang tak pernah mereka saksikan. Suatu saat jika heningku jadi batu nisan, atau jika gelap menelanku tanpa jejak, barulah kalian tahu: semua yang kulakukan adalah doa yang tak pernah sempat kusebutkan namanya. Aku tak butuh cinta, aku hanya ingin dikenang sebagai seseorang yang pernah ada— sebelum bayangan ini benar-benar hilang dari cahaya. By: Sarahbneism/Y

Satu perahu dilautan riuh

Aku menggantungkan malam pada jendela, mencari cahaya yang tak pernah benar-benar singgah. Jam berdetak seperti hujan, mengikis sabar hingga tinggal gema. Kau sibuk bercakap dengan dunia, sementara aku berbicara pada hening yang hanya tahu mengulang namamu. Aku tidak menuntut apa-apa, selain sebuah lirih pengakuan bahwa hatiku pernah kau dengar. Kadang aku marah, bukan karena ingin menang, tapi karena ingin kau peluk kata maaf meski tak ada salah yang kau rasa. Bukan untuk membenarkan aku, melainkan untuk membuatku percaya bahwa aku tidak sendiri menunggu. Kau ramai, aku sunyi. Kau punya lautan, aku hanya satu perahu. Dan di antara riuhmu, aku tetap menambatkan jangkar pada nama yang sama: kamu. Ditulis oleh: Sarahbneism/Y