Postingan

Menampilkan postingan dari November, 2025

Membenciku adalah kesia-siaan

Masuklah, wahai kafilah pemikul hitam— telah kutubuhi dengki dengan darah upacara, agar jalanmu tak tersesat. Jentikanlah darah pada kabut; aku telah mereguk hitam sampai malam pucat dan kelelahan tak mampu lagi menyeruput lebih dari yang kutelan. Jejampi gugur terputus dari akar gelapnya, Membenciku adalah kesia-siaan mengering tak sempat bertuah. Kau, kau datang, membawa segelas darah untukku yang terbiasa berenang di dalamnya. Aku telah selesai sebelum upacara kehilangan sakralnya. Tak ada yang lebih membenciku selain diriku. Bukankah itu sia-sia? _______ Karya: Sarah Bneiismael 

Diri ditinggal sendiri

Luka datang, luka pergi; pikiran disulap jadi lengan sebuah ironi pada relung kosong yang selalu membuka jalan selain kepada diri. Pandangan dibuat redup, ketidakjelasan dijadikan alasan untuk tak menatap bagian diri. Lebam-lebam, luka-luka berbicara kendati tak didengar. Besok-besok, jangan terlalu sibuk mengawasi luka orang lain; lihatlah diri sendiri yang sudah lama babak belur. Kepala; aula kosong, sibuk menata kursi tamu— diri sendiri tak pernah diundang. Hati menunggu dalam diam, menyala seperti lampu kecil di sudut rumah yang tak pernah dijenguk. Tangan Bebal, Selalu mendahulukan orang sementara kerusakan diri ditunda perbaikannya. Pada suatu malam, ketika rasa mulai menyempit, dada terhimpit, orang-orang jadi julit, dan segala sesuatu terasa semakin sulit. Barulah disadari: yang paling sering ditinggalkan bukan dunia; itu, diri sendiri. ______ Karya: Sarah Bneiismael 

Tumbal untuk kemajuan

Saudara-saudara, mari kita tempelkan telinga pada trotoar yang menyimpan gelisah, di bawah keramik yang dilicinkan sebagai wajah kota. Di sana, isi bumi menyusun rencana. Tanah, pohon, air, api, angin, batu— seluruh tubuh alam merapat, berdialog murka dan menggeram dalam satu napas. Mereka merencanakan kudeta atas penduduk bumi, menuntut balas atas keberadaan yang dipaksa diam oleh aturan menjadi garis tanpa suara. Sementara di ruang pembuat keputusan, alat ukur diasah semakin congkak, bersiap memahat ulang alur air dan lekuk tanah. Sungai digeret dari jalurnya, bukit dipangkas dari martabatnya, pohon disuruh minggir, derit patahnya dibungkam demi agenda pembangunan yang dibalut jargon hilirisasi. Saudara-saudara, kata “kemajuan” menyambut arak-arakan proyek dengan seringai binatang lapar— melahap hutan hingga baris banirnya, mengunyah lereng sampai asin darahnya, meneguk sungai hingga sesak nadinya. Kita diajak percaya bahwa beton adalah bisik masa depan, bahwa mesin memiliki nurani y...

Melepas yang tak semestinya

Siang merobek cahaya di pelipisku. Angin menari, menyisir ruang-ruang kosong di hati. Hatiku menjerit, menuntut jawaban: “Mengapa aku harus jatuh?” Bayangku terseret di serpihan senja, sementara bayangmu melintas, tipis, tersenyum. Awan menunduk, meramu rindu yang lengket di udara, menekuk diam di rongga senja yang menahan napas. Perasaan ini berkeliaran, menyalakan api di relungnya sendiri, lari seperti kuda hampa tanpa pelana, bertanya: “Kenapa aku memilih yang salah?” Aku menunduk, menulis kata patah: kasihan pada diri sendiri, kecewa pada langkah yang tak bisa dihentikan. Namun hati masih bergaung, ingin tetap bersama. Siang menumpuk di dada, membawa bisikan halus: Cintailah tanpa menahan. Lepaskan tanpa jeritan. Biarkan langkah tetap ringan, meski dunia menertawakan. Aku merasa bersalah— cintaku tak semestinya merambat keseluruh nadi. Rindu yang menuntunku pada absurditas, Tak bisa dihentikan. Namun hatiku perlahan mengerti: “Biarkan mengalir. Biarkan waktu merapikan serpihan yang...

Versi lebih baik

Di lekuk terdalam ruang ingatan Rongga hening menyerap pantul langkah sebagaimana pasir menyeruput hujan pertama. Tak ada suara pulang tersisa hanya udara renggang. Desir tipis, sirip bayang terpelintir sebelum fajar membuka garisnya. Ketika dunia menjauh dengan pandangan yang memudar, ada gerak halus di bawah arus waktu: seutas sinyal muncul dari kedalaman, mengikat ulang serabut hidupmu dengan benang tipis yang meriap seperti urat laut di antara arus gelap. Kesedihanmu terangkat perlahan, menjadi kabut pucat yang disentuh angin malaikat tanpa tapak. Turun kembali ke dadamu sebagai serpih bening yang menyimpan bayang dari sesuatu yang sudah lama menunggu. Sakitmu menggores sebuah ruang— relung sunyi dilapisi senyap setipis kulit air. Allah menahannya seperti batu mungil yang menghangat di tengah telapak hatimu, menuntun langkah ke arah yang terarah. Luka datang perlahan, menyentuh engsel pintu yang tak pernah bergerak. Ia mendorong dinding yang kau kira perlindungan, mengalihkan tubuh...

Ruang untukmu

Ku letakkan namanya di punggung angin yang tak tahu arah. Biarlah ia membawa sisa gaung bisu yang dulu kita rawat dalam senyap. Sahabatku, jangan tafsirkan wajahku sebagai penahan gerimis. Aku telah menanggalkan riwayat itu seperti bulir garam yang lupa akan lautnya. Dengan sadar, aku menimbang kemungkinan: kau dan dia— dua benih yang mungkin tumbuh di ladang yang pernah kutinggalkan, tanpa menunggu siapa pun menoleh. Ketahuilah, aku tak membawa apa pun darinya. Hatiku kembali menjadi tanah lengang, tempat pijakan tak meninggalkan jejak, tempat desir hanya lewat, tanpa ingin menetap. Jika suatu hari kalian saling setubuh dan alam bersenandung setuju, biarkan saja. Tak ada yang pecah. Tak akan ada aku yang menuntut ulang. Aku telah menjadi nol— bukan kehilangan. Ini adalah ruang bening, yang tak menuntut siapa pun untuk mengisi. Di tikungan waktu lain, mungkin aku juga akan dipertemukan dengan seseorang yang menyimak hatiku. Jadi, sahabatku— pergilah jika hatimu bergerak ke sana. Tak ad...

Aku Berhenti Menjadi Korban

Ada saat ketika aku mengira setiap yang kupeluk akan abadi. Dunia: Rupanya, selalu menyiapkan langkah di balik gemerisik rahasia yang belum pernah menjangkau tepi pendengaranku. Di telapak tanganku ada garis-garis yang semakin dalam Sebab aku menahan sesuatu yang sejak lama memohon untuk dibiarkan luruh. Malam datang dengan baunya yang teduh, mengajari aku bahwa kehilangan tak pernah benar-benar merampas apa pun— ia hanya memindahkan beban ke tempat yang lebih siap menampungnya. Pelan, harapan di dadaku mencair seperti embun yang menyerah pada matahari; penyesalan pun beterbangan, menjadi serpih angin yang tak memerlukan petunjuk. Aku berhenti memahat diriku sebagai korban dari apa yang sudah lewat; setiap detik yang jatuh menghapus bayangan-bayangan yang dulu kukira bagian dari napasku. Dan ketika genggaman itu akhirnya kulepas, ruang kosong yang tertinggal tidak menyergapku dengan sunyi; ia justru membuka sejenis jalan pulang— tempat aku belajar menjadi ringan, menjadi jernih, menjad...

Yang tetap dari segala yang luruh

Pada pagi yang berjalan pelan seperti pikir-pikir daun sebelum jatuh, kita akhirnya sadar bahwa hidup hanyalah singgahan tipis— semacam bayang bening yang dititipkan sesaat pada embusan hari. Di setiap sudut perjalanan, selalu ada gurat halus yang menggeser keutuhan, sejenis sunyi yang merayap dari balik peristiwa, atau kehilangan yang tumbuh diam-diam seperti embun yang lupa pulang ke langit. Dan ketika perubahan datang dengan langkah seteduh abu —menghapus nama, meluruhkan tempat, menggugurkan kenangan yang dulu berpendar— kita melihat satu hal yang tak pernah goyah oleh edaran masa. Ia lahir dari ruang terdalam yang tak berhasil ditemukan oleh duka: Cinta. Ia tak meminta diingat, tetapi menetap begitu saja di sela napas yang tak kita hitung, menyala lembut meski dunia perlahan kehilangan warnanya. Pada suatu jeda yang datang tanpa tanda, kita akan tahu bahwa segalanya kembali mengendap menjadi hening: langkah, suara, bahkan desir yang dulu akrab. Dan di tengah hening yang tumbuh itu...

Pengaduan Malam kepada Allah

Ya Allah… malam ini aku datang kepada-Mu dengan hati yang nyaris tidak mampu berdiri. Semua yang kutahan seharian jatuh satu per satu di hadapan-Mu, tanpa bentuk, tanpa suara, hanya pedih yang menempel seperti bayangan yang enggan meninggalkan tubuhku. Aku ingin kuat, ya Allah, tapi luka yang ia tinggalkan seperti tangan yang mencengkeram jiwaku dan tidak mau melepaskan. Setiap kali aku mencoba bernapas, ada bagian dari diriku yang kembali mengingat sakit itu seolah ia tinggal di dalam darahku sendiri. Aku tidak datang untuk membesar-besarkan luka. Aku datang karena tidak ada tempat lain yang mampu menampung tangisku selain Engkau. Ya Allah… jika Engkau melihat apa yang aku tanggung, Engkau tahu bahwa aku telah kelelahan. Engkau tahu betapa hati ini sudah berjalan terlalu jauh dengan beban yang bukan berasal dariku. Aku memohon, jika Engkau mengizinkan rasa sakit ini kembali kepadanya, kembalikanlah setepat rasa yang pernah ia tusukkan padaku. Tidak untuk menjatuhkannya… hanya agar ia ...

Dialog : Dua bagian dari diri saling bicara

Prolog: Sebelum percakapan ini mengalir, ketahuilah bahwa yang berbicara di sini adalah dua ruang terdalam dalam diri: jiwa yang lama menyimpan gemuruh, dan raga yang terus berdiri walau tulangnya gemetar. Mereka saling memanggil di tengah keheningan, menyentuh luka yang tak pernah diucapkan, menyampaikan keluh yang hanya mereka berdua yang tahu. Inilah saat ketika tubuh berhenti berpura-pura kuat, dan batin berhenti bersembunyi. Saat ketika dua bagian diri akhirnya duduk berhadapan untuk mengatakan kebenaran yang selalu tertahan. . . . RAGA: Aku… Raga. Yang dipaksa tegar. Yang disuruh berdiri bahkan ketika dengkulku ingin patah. Yang dipuji karena kuat, Padahal aku hanya pandai menyembunyikan roboh. JIWA: Dan aku… Jiwa. Yang kau suruh diam. Yang kau ikat dengan perintah “jangan lemah.” Yang sejak lama bergetar, namun kau paksa tersenyum untuk menyenangkan dunia. RAGA: Jiwa… mengapa kelammu menjalar sampai ke tulangku? Setiap pagi aku bangun seperti menanti vonis. Setiap malam aku tidu...

Arti Bertahan

Kadang kita lupa bahwa hati tidak keras seperti batu. Ia adalah hutan kecil yang tumbuh perlahan— tempat ranting-ranting rapuh belajar berdiri, tempat cahaya singgah meski tersesat, tempat hujan turun untuk menghidupkan kembali apa yang sempat mengering oleh perjalanan. Memang butuh waktu untuk berdamai dengan keadaan. Tidak semua hal bisa diterima dalam satu tarikan napas; ada luka yang enggan dipulihkan, ada kenangan yang diam menempel seperti bayangan yang tidak mau pergi. Ada rasa yang perlu dilunakkan, seperti gula yang mengeras oleh malam namun mau mencair ketika disentuh hangat. Ada harapan yang perlu dilepaskan, seperti burung yang terlalu lama digenggam hingga kita lupa bahwa ia selalu membutuhkan langit. Dan di antara semua itu, hati akhirnya memahami bahwa menerima adalah cara lembut untuk menjaga diri tetap utuh, agar tidak pecah oleh hal-hal yang sudah tidak sejalan dengan langkah kita. Sebab hidup tidak selalu hadir sesuai doa yang kita panjatkan. Kadang ia datang sebagai...

Beri hamba uang

Kota merenggangkan kulit malamnya, membiarkan lampu-lampu berpendar seperti luka yang dipoles agar tampak indah. Uang muncul dari celah-celah gelap, bergerak setenang racun yang tahu di mana letak jantung manusia bersembunyi. Ia menyentuh leher seseorang—dingin dan licin—membuat napasnya pecah menjadi bisu. Dalam sentuhan itu, pikirannya retak; moral yang dulu tegak mulai roboh seperti tulang rapuh yang dipeluk terlalu keras. Di sebuah klub, uang menautkan dirinya pada pinggang seorang gadis yang dulu begitu percaya pada batas-batas tubuhnya. Ketika uang menekan punggungnya, ia mendengar getar asing—getar yang menukar masa depan dengan sebuah jamuan yang memabukkan. Seorang pria di sudut ruangan meminum bayangannya sendiri, sebab uang meremas pundaknya dengan kelembutan yang mengancam. Dalam remasan itu, harga dirinya mengecil menjadi serpihan yang bisa ditiup pergi tanpa ia sadar kapan hilangnya. Di kamar hotel, uang membaringkan tubuh seseorang yang dulu berteriak lantang tentang keb...

Kemungkinan Kamu

Cinta itu aneh. Pagi tadi ia mampir sebagai pesan suara, padahal aku tidak mengirim apa pun dan ponsel sedang kutidurkan agar berhenti ikut campur urusan hatiku. Pesannya singkat saja: “ Jangan lupa bahagia .” Lucu, sebab aku sudah lama lupa letak rak kecil tempat bahagia terakhir kusimpan. Seingatku, bahagia sudah kabur tanpa pamit, membawa payungku yang paling mengerti hujan. Wahai entah-siapa di luar sana, mungkin namaku pernah lewat di telinga angin. Tapi angin suka membesar-besarkan cerita, jadi jangan langsung percaya. Ia pernah membual padaku, bilang aku ditakdirkan berjumpa seseorang yang selalu tersenyum meski hatinya sedang mogok dinyalakan. Kupikir itu dirimu. Atau diriku. Atau kasir minimarket yang selalu bilang “terima kasih” dengan suara seperti lampu yang nyala–mati. Kadang aku merasa Tuhan sedang bercanda. Setiap kali aku minta petunjuk, yang turun malah hujan— hujan yang selalu ingat bahwa aku baru menjemur hati yang tak sempat benar-benar kering karena angin sibuk men...

Di Ulu Luka Mu

Aku menyingkap tabir yang sejak lama kugembok dengan keras kepala: bahwa aku telah kehilanganmu— Seperti matahari yang tercabut dari singgasananya, membuat langit bergetar dan ruang bergema oleh sunyi yang menusuk sampai ke tulang waktu. Kucoba menahan langkahmu dengan seluruh musim yang pernah memihakku, namun kakimu adalah kafilah bintang yang memilih rasi lain untuk beristirahat. Dan jika hatimu telah pergi, apa yang tersisa untuk kupeluk selain bayang-bayang yang menolak mengenali dunia mana pun? Sapaan pagi menjelma abu, kerinduanmu yang dulu menari ringan ke arahku kini duduk di sudut waktu, mengalihkan wajahnya seperti peri kecil yang kecewa pada harapanku.  Aku memohon maaf pada langit dalam dadamu yang dulu kutempati dengan badai tanpa izin. Pada panah-panah kecil dari egoku yang menembus ketenanganmu hingga cahaya yang pernah kau titipkan di mataku ikut tersedu. Maaf untuk cinta yang tumbuh menjadi raksasa haus, meneguk beningmu sampai hanya menyisakan serpih-serpih yang ...

Lentera di Tengah Hutan

Aku pernah mencintai seperti menyalakan lentera di tengah hutan— hutan yang tak pernah menahanku, tak pernah memanggilku pulang. Cahaya kuberi, hangat kubagi, sementara seluruhnya tak pernah benar-benar berjalan searah dengan langkahku. Cintaku setenang angin merapikan daun gugur: Berharap dipahami, di sentuh. Perlahan hatiku menjadi tanah basah diguyur hujan dari langit. Luka-luka  tumbuh seperti rumput liar— tak kuundang, tak kuinginkan, namun diam-diam mencengkram tepi napasku. Kupungut pahit dari malam pecah, kubiarkan diriku mengalah hingga batasnya bergetar, seolah kesetiaanku mampu menggeser arah yang telah ditetapkan semesta. Ternyata tidak. Tidak semua pertemuan dilahirkan untuk menjadi jembatan panjang; sebagian hanyalah perahu kecil,  singgah di dermaga jiwaku, menyisakan riak hangat sebelum hilang tanpa jejak langkah. Pernah menjadi teduh, tetapi tak pernah memilih tinggal. Dan aku mengerti—kami hanyalah dua burung, kebetulan berteduh di ranting yang sama, bukan du...

Matahari dari Timur

Pernahkah engkau duduk dalam hening, lalu bertanya mengapa sejarah dunia yang kita pelajari selalu dimulai dari Yunani dan Romawi— lalu tiba-tiba melompat kepada Eropa yang bangkit melalui Renaisans? Seakan ada satu bab yang disobek dari buku besar peradaban, sebuah cahaya yang sengaja disembunyikan dari mata kita. Padahal saat Eropa terbenam dalam gelap panjang, Timur menyalakan fajar: Zaman Keemasan Islam, masa ketika ilmu bukan sekadar pengetahuan, melainkan jalan untuk memahami ciptaan Tuhan dengan hati yang tunduk dan akal yang terjaga. Semua bermula setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW, ketika kata pertama dari wahyu—Iqra, bacalah— turun seperti cahaya yang membelah malam. Sejak saat itu tumbuh generasi yang mengerti bahwa iman dan ilmu bukan dua arus yang saling bertentangan, melainkan dua sayap yang membuat manusia terbang lebih tinggi. Ketika Kekhalifahan Abbasiyah berdiri di Baghdad, Khalifah Harun ar-Rasyid dan putranya, Al-Ma’mun, membangun sebuah rumah yang kelak menjadi len...

Dialog Rumah Tangga: Tentang Kejujuran, Luka, dan Keberpihakan

Prolog: Malam turun perlahan, menyisakan cahaya lampu yang menggantung letih di sudut kamar. Di antara dua napas yang berbeda ritme, ada jarak yang tidak pernah benar-benar disebutkan. Rumah itu tenang, tetapi hati perempuan itu tidak pernah sempat diam. Ada luka-luka kecil yang ia kumpulkan dari hari-hari sebelumnya— luka yang tidak berdarah, namun mengikis pelan dari dalam. Di sisi lain, lelaki yang mencintainya tidak pernah benar-benar tahu betapa beratnya diam yang istrinya simpan. Kadang, cinta tidak kurang— hanya suaranya saja yang tidak selalu tepat waktu. Dan malam itu, untuk pertama kalinya, keheningan memanggil mereka untuk duduk berhadapan, membuka pintu yang selama ini ditahan, agar keduanya bisa benar-benar saling mendengar. Dari sinilah percakapan itu dimulai… --- (Suara pintu dibuka) Suami: Kenapa belum tidur? Bukannya kamu biasanya sudah tidur jam segini? Istri: Aku tidak bisa tidur, dari tadi gelisah. Suami: Gelisah kenapa? Besok kerja, lho. Kamu perlu istirahat. Istri...

Tempat ku meletakkan dunia

Kakiku pernah jatuh berkali-kali, seperti kalender kusut yang terus kehilangan tanggal-tanggalnya. Lantai menampung tubuhku dengan kesabaran yang tak pernah kumiliki, sementara bayanganku melarikan diri ke sudut ruangan, mencari arti dari semua langkah yang patah. Ketika aku bangkit, Takut mendekat dan berkata, “Aku hanya ingin menumpang sebentar.” Ia duduk di bahuku, mengibaskan kenangan masa kecil yang tak sempat tumbuh. Aku punya hobi yang aneh: berpura-pura tenang di tengah pasar suara dalam kepalaku. Di sana, Marah sering datang menggedor pintu dadaku, menyuruhku menatap cermin yang tidak lagi mengenal namaku. “Lihatlah,” katanya, “Kau hidup dari retakanmu sendiri.” Di gang sempit antara tulang rusukku, Lelah menjemur selimutnya, menggantungkan sunyi pada tali rafia agar kering sebelum malam tiba. Aku pernah bercita-cita menjadi angin— bukan untuk pergi, tapi untuk menyusup ke celah-celah hati yang terlalu panas menahan dirinya sendiri. Aku ingin menjadi dingin yang mampir di jend...

Uang dalam gelap kota

Kota merenggangkan kulit malamnya, membiarkan lampu-lampu berpendar, luka dipoles agar tampak indah. Uang muncul dari celah-celah gelap, bergerak setenang racun; ia tahu di mana letak jantung manusia bersembunyi. Uang menyentuh leher seseorang— dingin, membelai, erotis— membuat napas pecah menjadi bisu. Dalam sentuhan itu, pikiran kacau; moral yang tegak mulai roboh seperti tulang rapuh yang dipeluk terlalu keras. Di sebuah klub, uang menautkan dirinya pada pinggang seorang gadis yang dulu begitu percaya pada batas-batas tubuhnya. Ketika uang menekan punggungnya, ia mendengar getar asing— getar yang menukar masa depan dengan sebuah jamuan yang memabukkan. Seorang pria di sudut ruangan meminum bayangannya sendiri, karena uang meremas pundaknya dengan kelembutan yang mengancam. Di bawah remasan itu, harga dirinya mengecil, menjadi serpihan yang bisa ditiup pergi tanpa ia sadar kapan hilangnya. Dan di sebuah kamar hotel, uang membaringkan tubuh seorang wanita yang dulu berteriak lantang t...

Kangkareng, Sumpah Alam (Pelajaran untuk Kita)

Di dalam jalinan angin yang tak pernah diam, kangkareng perut putih muncul seperti ikon museum tanpa dinding, tempat sunyi merangkai bisu, dan bayang merajut waktu. Paruhnya mengetuk celah hitam penyimpanan rahasia rimba— suara jatuh menyebar sebagai serbuk terang, lalu berkumpul menjadi percik sinar hutan yang tersesat di lantai rimba. Betina dalam sarang menjadi bayangan yang menahan waktu. Di luar, sang jantan memunguti buah yang pernah dibisikkan warna merah, lalu mengubahnya menjadi bentuk kesetiaan yang bekerja tanpa perlu penamaan. Dahan menunduk seperti menyimpan keputusan yang tak ingin dibocorkan pada manusia. Kangkareng bergerak di antara daun-daun yang kehilangan cerita, tubuhnya menjelma riwayat hening yang tak lagi dipahami hutan, kesetiaannya bekerja tanpa suara, tanpa rencana, tanpa menunggu tepuk tangan dari oksigen. Di sudut hutan, seekor serangga menulis catatan tipis pada hembusan gaib yang merayap antara akar tua: bahwa manusia sering kehilangan arah. Terlalu sibuk...

AMBANG KEHAMPARAN

Aku menapaki gang-gang sunyi hatimu, di mana setiap bisikmu tersimpan rapi seperti permata yang enggan bersentuhan dengan tangan. Aku menggali bayanganmu, mencari cahaya di balik selubung rahasiamu, dan semakin kulihat, semakin berat langkahku. Engkau sempurna, tapi tersembunyi; keagunganmu menegakkan dinding antara kita, dan aku, yang hanya manusia biasa, terjebak di pusaran kekaguman dan gentar. Ucapanmu, lembut disertai ujung tajam, menebar luka di tubuhku yang hampa. Kau menahan maafmu, sementara aku menahan tanya yang membakar. Bagaimana aku dapat memeluk keindahan yang menolak disentuh? Aku bingung: haruskah bangga atas kemuliaanmu, atau mundur, mengakui ketidakberdayaanku? Seperti daun yang gugur tanpa angin, hatiku terhempas antara kagum dan menyerah, antara menanti dan melangkah pergi. Dan aku menyerah pada absurditas ini— cinta yang terlalu sempurna untuk kutemui sepenuhnya, Juga terlalu manusiawi untuk kutinggalkan begitu saja. _____ Karya: Sarah Bneiismael 

SERPIHAN TANPA JEMBATAN

Langit tergantung di ujung jari, wajah-wajah melintas tanpa menyapa, doa bergetar di celah antara detik dan bayang, suara Tuhan bergaung, dan melarung.  Sulur cahaya menelusup ke tubuhku, menjadi nyawa yang tak bernama, burung-burung memperebutkan ruang di kepalaku, aku hanya menonton, membiarkan mereka menemui, mengisi, atau sekadar singgah. Kabut menempel di sudut rumah, rintik-rintik menulis pesan yang tak terbaca, detik-pecah dan udara-luka bercampur, bayangmu terjepit di antara lampu dan dinding malam, aku titik air yang menolak jatuh, menjadi cermin yang memantulkan dirimu lebih tajam, lebih dingin, lebih asing. Mereka berbicara dalam menara kata, aku pecahan kaca yang terserak sendiri, tidak diinjak, tidak disentuh. Menunggu sesuatu yang tak pernah datang. Di ujung patah ini, aku menyadari: serpihan paling indah adalah yang dilepas, tanpa suara, tanpa janji, tanpa kepastian. Tanpa aku. __ Karya: Sarah Bneiismael 

Doa di Balik Tirai Luka

Malam sunyi setelah hujan. Di sebuah ruangan kecil, hanya satu lilin menyala — cahayanya terpantul di tirai tipis yang memisahkan dua sosok. Adikara berdiri di satu sisi, menunggu dengan dada penuh amarah dan rindu. Sarasvati di sisi lain, berdoa agar cinta itu tidak berubah menjadi luka. Malam ini, keduanya dipertemukan kembali — bukan untuk bersatu, tapi untuk mengakhiri doa yang belum selesai. ADIKARA: Sarasvati… malam ini terlalu panjang. Angin berbisik membawa nama yang tak henti kuingat. Bahkan bintang pun tampak lesu, seolah lelah menyaksikan aku menunggumu. Tidakkah kau lelah bersembunyi di balik jarak yang kau ciptakan sendiri? SARASVATI: Aku tidak bersembunyi, Adikara. Aku hanya menjaga sesuatu yang masih suci — agar tak ikut hancur bersama amarahmu. ADIKARA: Amarah? Kau menyebut rinduku amarah? Aku menunggu bertahun-tahun, menantang dunia, melawan darah dagingku sendiri! Kau tahu apa yang kupikul demi kau? Aku kehilangan ayahku, kepercayaannya, kerajaanku! Semua karena aku m...

IBU, (KETIKA KEMATIAN MENJADI KEBEBASAN)

Pada hari napasmu berhenti, aku melihat waktu tersungkur seperti hamba yang lupa berdiri dari sujudnya. Matahari memadamkan dirinya sendiri, seakan malu bersinar di hadapan perempuan yang lebih terang bahkan pada saat ajal memeluknya. Aku menggenggam tanganmu— tangan yang dulu menuntunku mengeja Al-Fatihah seperti mengeja hidup. Tangan itu dingin, dingin yang membuat seluruh tubuhku merasa bersalah karena tak mampu menghangatkanmu sebelum malaikat datang mengambilmu seperti embun yang kembali ke langitnya. Syahadatmu keluar perlahan, patah-patah, seolah huruf-hurufnya memohon izin untuk kembali menjadi terang. Dan ketika suara itu hilang, aku mendengar bumi menahan napas: bahkan tanah pun tahu bahwa ia sedang menanti seorang wanita yang lebih mulia daripada segenap penghuninya. Saat rohmu terbang, angin berhenti di tengah langkahnya— takut menyentuhmu, takut mengotori perjalananmu yang begitu bersih menuju Allah. Dan aku merasakan lega, lega yang suci dan kejam, seakan dunia akhirnya k...

Catatan Boneri

Karya : Tanpasuara Kapal sudah siap untuk kita gunakan nona  Tidak megah dan mewah, tetapi maaf   Tak dapat saya pastikan untuk terhindar dari gelutan ombak dan angin badai yang melanda kapal ini nantinya. percayalah Telah saya upayakan dengan segala  kemampuan untuk sampai ke-dermaga yang telah kita tentukan. Tak akan saya biarkan angin riuh mengusutkan rambutmu Tidak akan saya biarkan air laut itu membasahi tubuhmu. Tetapi jika nona masih dalam keraguan jangan pernah melihat atau memilih kapal saya— sebab bila saya sudah berlayar Tidak akan ada kata untuk berbalik haluan. Sederas apapun arusnya, sekencang apapun badainya. Maka dengan nafas ini, saya pastikan kita sampai pada tujuan. . . . Kota kerang, 14 Nov 2025

Dalam nama kehormatan dan cinta (Dialog)

Puan: Malam ini terasa tenang, tapi anehnya hati saya tidak. Seperti ada sesuatu yang belum selesai, sesuatu yang menggantung di antara kita. Tuan: Tenang sering kali menipu, Puan. Kadang, di balik diam ada badai yang menunggu. Mungkin itu sebabnya kau merasa gelisah. Puan: Atau mungkin karena Tuan selalu membawa badai ke mana pun Tuan melangkah. Kata-kata Tuan selalu seperti kilat—tajam, terang, tapi melukai mata yang mencoba melihat terlalu dalam. Tuan: Saya hanya bicara apa adanya. Dunia ini keras, Puan. Siapa yang terlalu lembut akan mudah dipatahkan. Puan: Tuan bicara seperti prajurit Bubat. Gagah, berani, tapi terluka oleh kebanggaannya sendiri. Apakah Tuan berperang untuk kebenaran… atau hanya untuk diakui benar? Tuan: Saya berperang untuk kehormatan. Puan: Kehormatan siapa? Tuan sendiri, atau bayangan dari masa lalu yang Tuan belum ikhlaskan? Tuan: Kau tidak tahu apa yang saya alami, Puan. Dunia tidak ramah bagi mereka yang berhati lembut. Saya belajar bahwa menunduk berarti di...

Diluar jangkauan pengertian

Langit menggulung pikirannya sendiri. Ia meneteskan waktu, ke dalam dada yang belum selesai belajar tenang. Udara berjalan tanpa penjelasan, membawa kabar dari sesuatu yang tak pernah sempat kita tanyai. Akar bergumam di bawah tanah, Dia berbicara dalam bahasa yang tak dimengerti siapa pun. Batang mendengarkan. Daun menafsir. Dan hening menjadi penerjemah. Rerumputan menunduk, bukan karena kalah, Mereka tahu cara memahami angin. Mereka tumbuh tanpa bertanya, dan tetap hijau bahkan setelah dilupakan. Hujan menulis pesan di telapak bumi — hurufnya sudah pudar, Meski begitu, tetap terbaca oleh hati yang sabar menunggu reda. Ada tangan yang tidak terlihat. Ia menata ulang kejatuhan, menjadikannya bentuk baru dari pulang. Bayang-bayang menua di dinding sore, namun tak pernah benar-benar hilang. Waktu berjalan tanpa bunyi, tapi kita tahu: ada yang sedang diperbaiki, di luar jangkauan pengertian. Langit menyimpan catatan di antara awan, tentang siapa yang tetap jernih saat segalanya menjadi k...

Cinta seharusnya mengarah ke langit

Cinta adalah rahasia yang diselipkan di dada manusia, bukan rasa yang tumbuh dari tatap, ia adalah cahaya yang menuntun jiwa menemukan arah pulang. datang tanpa suara, menetap tanpa janji, Menjadi alasan bagi hati untuk beriman pada kehadiran yang tak terlihat. Cinta bukan sekadar hadir di antara dua insan, ia lahir dari ruang sunyi tempat hati bertemu niat. Bukan dari pandang yang jatuh di mata, melainkan dari rahasia yang dbisikkan dalam doa. Ada cinta yang tak menyentuh, tapi melindungi, yang tidak berjanji selamanya, namun membuat waktu seolah berhenti setiap kali namanya disebut dalam sujud. Ia tidak menuntut jarak, Sebab tahu jarak hanyalah ujian untuk melihat siapa yang mencintai tanpa menggenggam. Cinta sejati bukan panas yang membakar, melainkan cahaya yang menuntun gelap menuju tenang. Ia datang lembut seperti angin yang mencium dedaunan, lalu pergi diam-diam tanpa meninggalkan luka. Jika cinta itu hadir dari-Nya, ia akan membuatmu tunduk tanpa diperintah, teguh tanpa dipaksa...