Obat Bebas Terbatas (tentang ketergantungan pada seseorang yang tak lagi punya izin edar)
Obat ini dijual tanpa resep, di rak paling bawah, berdampingan dengan analgesik dan ilusi harapan. Aku membelinya dengan sisa kesadaran, tanpa membaca kontraindikasi yang tertera di balik senyummu. Dosisnya sederhana: dua tatap sebelum makan, satu rindu menjelang tidur — jangan lebih, jangan kurang. Efek sampingnya? Detak jantung meningkat, nalar menurun, dan sesekali rasa ingin mati yang terasa manis seperti parasetamol kadaluarsa. Aku menelannya dengan air mata hangat, membiarkan kenangan larut perlahan seperti obat yang hancur sendiri Rasanya getir dan sarkas. Di brosur tertulis: "Hentikan pemakaian bila muncul gejala cinta berlebihan." Sayangnya aku keras kepala — menambah dosis setiap malam, Sebab diam tanpamu terasa seperti gejala putus zat bahagia. Tubuhku mulai resisten, reaksi simpangan terjadi di antara denyut dan doa. Kata-kata tak bekerja seperti obat, mungkin karena kadar hatiku sudah melewati ambang toksik. Aku mencoba berhenti, tapi efek lanjutan terlalu dalam:...