Postingan

Menampilkan postingan dari Oktober, 2025

Obat Bebas Terbatas (tentang ketergantungan pada seseorang yang tak lagi punya izin edar)

Obat ini dijual tanpa resep, di rak paling bawah, berdampingan dengan analgesik dan ilusi harapan. Aku membelinya dengan sisa kesadaran, tanpa membaca kontraindikasi yang tertera di balik senyummu. Dosisnya sederhana: dua tatap sebelum makan, satu rindu menjelang tidur — jangan lebih, jangan kurang. Efek sampingnya? Detak jantung meningkat, nalar menurun, dan sesekali rasa ingin mati yang terasa manis seperti parasetamol kadaluarsa. Aku menelannya dengan air mata hangat, membiarkan kenangan larut perlahan seperti obat yang hancur sendiri Rasanya getir dan sarkas. Di brosur tertulis: "Hentikan pemakaian bila muncul gejala cinta berlebihan." Sayangnya aku keras kepala — menambah dosis setiap malam, Sebab diam tanpamu terasa seperti gejala putus zat bahagia. Tubuhku mulai resisten, reaksi simpangan terjadi di antara denyut dan doa. Kata-kata tak bekerja seperti obat, mungkin karena kadar hatiku sudah melewati ambang toksik. Aku mencoba berhenti, tapi efek lanjutan terlalu dalam:...

Aku Sudah Minum Obat Hari Ini (tentang kewarasan yang dipaksakan atas nama cinta dan kebaikan)

Aku lahir dari pelukan yang terlalu manis, pelukan yang meneteskan madu sampai aku lupa rasa darahku sendiri. APA KAU TAHU RASANYA DICEKIK OLEH KASIH YANG KATANYA SUCI?! Pelukan lembut—tapi mematikan perlahan! Aku dibesarkan di taman, tempat cinta tumbuh di atas kuburan. Bunganya wangi, wangi pencitraan yang disiram air mata pura-pura. Setiap napas harus sopan, setiap luka dituntut sabar, bahkan jerit pun harus tampak beriman. SIAL!!! Bahkan sedih pun harus estetik sekarang! AKU BOSAN JADI ARCA BERDIRI GAGAH DIBALIK KEPALSUAN MEMAKAMKAN SEGALA PANDANGAN TANPA BISA MEMUKIMKANNYA DIDALAM KEPALA LALU AKU PULANG KEMANA? Akulah gagak, menyeramkan sekaligus menyedihkan. Sinting gila sinting sinting gila sinting gila sinting gila sinting Gilaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa Aaaaaaaaaaaaaaaaarghhhhhhh AKU PERNAH PERCAYA CINTA ITU CAHAYA Sial, itu obor yang ditanam di dadaku, membakar pelan-pelan sambil mereka bilang: ini pengorbanan. Percaya pernah berkata kepadaku  “Segala yang terbaik adalah mili...

Rasa untuk Jelita

‎Lihatlah rembulan sedang menyendiri  ‎Pohon-pohon sedang berdansa kecil ‎Menikamati hilir angin sunyi ‎Oh jelita yang lahir di desa terpencil  ‎ ‎Deritamu akan segera usai ‎Dia adalah pangeran yang sedang menjemputmu ‎Di tepi sungai ini aku yang menyendiri ‎Tersenyum menahan sakit melupakanmu  ‎ ‎Seluas langit biru dalam kegelapan ‎Diri menyiratkan meninggalkan harapan ‎Kau akan selalu tersenyum di bawah indahnya sang rembulan ‎Dialah pangeran begitu mampu membuat kebahagiaan  ‎ ________________ Karya:Gian ‎27 Oktober 2025

Kucing Tuxedo dalam Bayangan Arsip Paralel

Kucing tuxedo Hitam-putih Lembut-tegas Dan berwibawa, Ia berjalan menurut kemauan sendiri. Aku adalah angka yang tak pernah kau hitung, detektif yang kalah, mencoba meretas hati, Namun firewallmu lebih kuat dari rasa yang kumiliki. Kucing tuxedo itu anggun, dingin, dan tak pernah tergesa. Bayangku terselip di antara tatapannya, diabaikan dengan wibawa yang tenang, seolah dunia hanya miliknya untuk ditapaki. Hatinya lembut, tapi pikirannya laksana kubah besi. Mengangkat dunia orang lain di punggung sementara cintaku tercecer di luar perimeter terlupakan seperti pesan primer dalam arsip paralel yang tak tersentuh. Jika cinta adalah konspirasi, aku menjadi agen rahasia yang kalah, mengamati dari jauh, memetakan jejak di galaksi arsip paralel ini. Kau tak akan tahu—atau mungkin tahu— bahwa di balik semua kebijaksanaanmu, aku masih mencintaimu, meski tak dianggap penting. Dan di sini, di dunia yang berlapis kode dan bayangan, aku tersenyum—satir, mungkin, sarkas, tentu. Kucing tuxedo tetap ...

Perempuan yang Menyiram Duri dengan Air Suci Lalu menangis saat tangannya sendiri terluka.

Ada perempuan yang menutup matanya dengan kain moralitas, lalu berjalan seolah bumi ini terlalu kotor untuk disentuh kakinya. Ia suka bicara tentang akhlak dan kelembutan, padahal lidahnya lebih tajam daripada cermin yang ia gunakan untuk menilai wajah orang lain. Setiap langkahnya terdengar seperti doa, namun isinya sumpah serapah yang berpakaian sopan. Ia lihai — sangat lihai — memainkan nada rendah hati sambil menancapkan jarum kecil di reputasi orang. Setiap senyum yang ia lempar bukan salam, tapi strategi. Ia menyebut dirinya berpengalaman, namun pengalaman itu hanya membuatnya mahir mengulang kebodohan dengan cara yang lebih elegan. Katanya sudah dewasa, tapi kedewasaannya seperti bunga plastik di meja makan — tampak hidup, tapi tidak pernah tumbuh. Ia memuja Tuhan dengan bibir, namun memuja dirinya sendiri di dalam hati. Dan di antara jari-jari yang tampak lembut itu, ia menggenggam bara gosip yang tak pernah padam. Setiap nama orang lain adalah dupa, dibakar perlahan agar ia bi...

Aku Menolak Minta Maaf (Sebuah elegi untuk mereka yang dibenci hanya karena berani menjadi diri sendiri).

Aku lahir bukan dari rahim kesempurnaan, hanya dari luka yang belajar berdandan. Tapi entah mengapa, setiap kali aku lewat, dunia seperti tergesa-gesa menilai. Aku tersenyum, mereka memicing. Aku diam, mereka berbisik. Seolah hidupku adalah panggung publik, dan napasku tiket gratis untuk mencemooh. Katanya aku sok cantik. Ah, tentu saja. Mungkin cermin di rumah kalian sedang mogok memantulkan pujian. Padahal aku tidak pernah memaksa siapa pun untuk menatapku seperti selembar dosa yang mengilap. Tapi memang begitulah—manusia lebih mudah membenci bunga karena tak sanggup menumbuhkan taman di dadanya sendiri. Mereka memanggilku sok bijak, padahal aku cuma berusaha tidak gila di tengah kebisingan dunia yang pura-pura waras. Tapi rupanya, keheningan juga dianggap kesombongan. Orang yang diam disangka menghina, yang bicara dianggap menggurui, yang menangis dituduh drama, yang tertawa dibilang haus validasi. Apa lagi yang harus kulakukan? Mungkin aku harus menjelma jadi batu bata agar mereka ...

Lautan yang Kutunggu, Api yang Kutahan

Dia berkata ia mencintaiku, dengan nada yang seperti peluit kapal di tengah kabut, menandai harapan yang tak pernah kuketahui kapan datangnya. Katanya ia akan menolongku, mengangkat aku dari segala lubang yang tak terlihat oleh mata, membawa aku ke rumah yang seharusnya kami bangun bersama. Aku percaya. Aku menunggu seperti pohon yang menunggu kilat menembus malam, tanpa sadar, setiap janji yang jatuh padaku meneteskan racun lembut ke dalam nadi. Lalu aku melihatnya—tidak lagi di sisi yang kusebut rumah, tapi di pelukan perempuan lain, yang tertawa seolah dunia hanya milik mereka. Tangannya menari di kulitnya, bibirnya bersatu, dan aku berdiri seperti cermin pecah, menatap serpihan diri sendiri. Jantungku berdetak setara dengan ribuan gong yang hancur, napasku tersengal, suara tangisku tertelan oleh dinding kosong. Aku ingin berlari, menjerit, menghancurkan segalanya. Tapi aku hanya bisa diam, menelan kaca yang menembus tulang, dan menyadari bahwa cinta bisa lebih kejam daripada kemati...

Kakiku Luka-luka oleh Lika-liku (sebuah renungan tentang kedewasaan yang tumbuh dari kerasnya perjalanan hidup)

Kakiku luka-luka oleh lika-liku, setiap jejaknya menembus luka yang tajam. Batu bersembunyi di bawah niat, dan waktu Bersijingkat melangkah. Tanah meneguk darah kecilku, seolah berbisik: “Jejak yang bijak bukan hanya mampu mencapai ujung, tapi tetap hening di tengah batu yang terus menanyakan alasan.” Tanganku pecah oleh kerasnya keinginan, menggenggam sesuatu yang tak lagi perlu. Angin berbisik di punggungku, “Belajar melepas bukan berarti kalah, tapi berhenti melukai diri sendiri.” Di rimba waktu aku berjalan pelan, akar menahan, ranting menggores. Setiap luka menyimpan tafsir baru tentang makna bertahan. Langkahku patahpecah oleh arah yang resah Disela retakannya, tumbuh keheningan yang tak lagi menuntut jawaban. Di sanalah aku belajar: tidak semua yang tajam berniat melukai, kadang hanya menegur agar aku berhati-hati. Pernah aku terjatuh pada cahaya palsu, menyembah kilau yang ternyata bara. Namun dari hangus itu lahir pengertian, bahwa api pun bisa menjadi guru bila kita tak t...

Kemesraan tak perlu teori

Tubuhmu dekat denganku, hangat, menenangkan, seperti dunia berhenti sebentar. Bibirmu menyentuh bibirku perlahan-lahan, menempel seperti janji kecil untuk menutupi keraguan yang diam-diam menunggu. Tanganmu menyusuri kulitku dengan lembut, menghapus semua garis tegang di punggung dan bahuku. Aku terbuai dalam kehangatan itu, merasakan kenyamanan yang aneh, damai, menipu. Di momen ini, rasanya tidak ada larangan, hanya napas kita yang bersilang. Kita diajari bahwa menyentuh, berciuman, atau bermain dengan rasa itu wajar— bahkan aman, selama kita tahu “caranya”. Padahal ada sesuatu yang menekan di dada, suara hati yang berbisik: “Beberapa batas tidak seharusnya disentuh.” Ironi mengalir halus di antara tiap desir: kebebasan yang diberikan membuat kita terlena, sementara beberapa hal yang seharusnya tabu kini dibungkus hangat, nyaman, dan erotis. Aku menutup mata ketika bibirmu mengecup bibirku, merasakan setiap desir yang mengalir seperti arus hangat di kulit  Setiap sentuhan menenan...

Aku akan telanjang pada waktunya

Di dunia yang menilai cinta dari seberapa cepat rahasia ditanggalkan, kita memilih menjadi anomali yang tenang— dua nama tanpa tubuh, dua jiwa yang percaya bahwa getar hati tak selalu butuh saksi mata untuk menjadi nyata. Setiap malam, bersama cahaya layar yang meredup.  aku menulis doa-doa yang tak pernah kukirim, hanya agar suaramu terasa dekat, dan keheningan ini menjadi tempat kita bertemu tanpa perlu disentuh. Kau tak pernah memaksa menatap apa yang ada dibalik pakaianku, dan dari diammu aku belajar: bahwa sabar adalah cara paling lembut untuk mencintai. Sementara dunia sibuk menguliti, menilai, menelanjangi, kau memilih menatap dengan mata yang tahu batas. Mereka menyebutku terlalu munafik,  padahal aku hanya tidak ingin menjadi panggung bagi pandangan yang sering keliru menyamakan keindahan dengan penguasaan— seolah rahasia harus dibuka untuk menjadi benar, padahal sebagian kebenaran justru hidup di balik yang dijaga. Sebab tidak semua yang tertutup sedang bersembunyi; ...

Sunyi yang berisik

Barangkali aku terlalu sibuk memuja makna, hingga lupa bahwa diam pun punya doa. Kuseret pena ke tepi logika, sedangkan tintanya memilih jatuh ke oblivion. Setiap huruf menatapku seperti hakim, menyidang dosa karena ingin mengartikan yang tak tertim. Oh, betapa angkuhnya pikiranku— mengira bisa merangkum keindahan dalam satu rindu. Indah, katanya sekaligus tajam di sisi, bening, lalu menenggelamkan isi. Ia bukan apa-apa, tapi menguasai segalanya, bukan cinta, tapi membuatku kehilangan makna. Aku menulis tentang sunyi yang berisik, tentang luka yang memeluk dengan cara paling klasik. Tentang api yang membeku di tengah musim kritik, tentang damai yang justru membuatku statik. Lucu ya— betapa manusia pandai berdusta dengan diksi, menyebut kehilangan sebagai puisi, Meyakini sepi sebagai bukti. Barangkali begini cara semesta bersandiwara: yang hampa terlihat penuh, yang indah menyamar sebagai bencana, dan yang terlalu nyata justru tak bisa disentuh. Aku berhenti di antara dua absurditas: in...

Si Dungu dan Dunianya yang Munafik

Barangkali aku memang diciptakan untuk menonton kebodohan ini tanpa boleh melempar kursi. Segalanya tampak rapi— dusta disetrika, lalu digantung di leher orang waras seperti kalung penghargaan. Lucu ya, betapa lembutnya cara orang menyiksa, mengemas tuduhan dalam pita moral, mengajarkan sopan santun kepada yang sedang terluka. Dan aku, si tolol yang berusaha mengerti, masih sibuk mencari makna di balik cambuk, membenarkan luka seolah itu pelajaran hidup, padahal cuma cara halus dunia bilang: “Diamlah, biar yang bersalah tetap tampak beradab.” Kadang aku berpikir, barangkali seluruh peradaban ini hanya panggung sandiwara, di mana yang paling cepat menunduk akan dipanggil bijak, dan yang jujur harus rela jadi badut, menertawakan dirinya sendiri agar tidak dibakar opini. Semua sibuk memainkan perannya— yang munafik jadi guru moral, yang pengecut jadi panutan, yang berisik disebut pahlawan, dan yang diam dituduh licik. Sungguh, dunia ini pandai menukar makna dengan selera mayoritas. Aku me...

Maaf untuk diri yang pernah ku tinggalkan

Maaf, aku pernah menukar suaramu dengan sunyi yang tampak sopan. Kubiarkan engkau membusuk dalam senyum agar dunia tetap menyangka aku baik-baik saja. Aku memaksa hatimu menelan ribuan luka dengan nama kesabaran. Kupelintir rasa sakit menjadi dalil keteguhan, padahal setiap sabar yang kupaksakan adalah bentuk lain dari ketidakpedulian. Maaf, diriku— aku telah menguburmu hidup-hidup di bawah puing keinginan orang lain. Setiap kali engkau memohon untuk didengar, aku menenggelamkanmu di dalam doa yang tidak pernah benar-benar kusertai dengan hadir. Kau memanggilku dari dalam dada, dengan suara serak seperti angin yang kehilangan arah, namun aku menutup telinga karena aku lebih sibuk menjaga dunia daripada menjaga jiwaku sendiri. Aku menamai semua luka dengan bahasa indah, agar tampak sabar, agar tampak tegar. Aku menulis kata “ikhlas” di atas darah yang belum kering, seolah Tuhan tak bisa membedakan antara redha dan pasrah yang terpaksa. Maaf— aku terlalu sering membuatmu berlutut di depa...

Bayang Dan Cahaya ( Renungan batin tentang kehilangan, kesabaran, dan kebangkitan jiwa)

Bayang: Ada rumah di dalam dadaku. Dindingnya retak, atapnya menampung doa yang tak pernah kembali. Aku duduk di tengahnya, menghitung detak yang tersisa seperti jam tua yang kehilangan jarum. Cahaya: Bangunlah. Rumah itu menunggu kau rawat, bukan kau ratapi. Apa gunanya berdiam dalam reruntuhan kalau debu tak lagi mengingat namamu? Bayang: Aku tidak mau. Setiap kali aku mencoba berdiri, lantai itu seolah menolak kakiku. Ada rasa yang menahanku di sini, rasa yang tak sanggup kuserahkan pada lupa. Cahaya: Tapi kau harus. Rasa itu bukan rumah— itu jerat yang menamakan dirinya kenangan. Lepaskan, sebelum kau ikut terkubur di dalamnya. Bayang: Aku takut kehilangan! Jika aku lepaskan, apa yang tersisa dariku selain ruang kosong? Cahaya: Kekosongan justru ruang paling jujur tempat cahaya belajar masuk, Maka cobalah menyusun kembali dalam ruang kosong itu. Bayang: Tapi aku belum siap menjadi baru. Aku masih mencintai reruntuhan ini— bau tanahnya, retaknya, sunyinya... semuanya mengingatkanku ...

Kenang senang hilang - Tenang

Kabut turun seperti doa yang lupa kepada siapa harus kembali, melembut di bahuku— mendekap letih yang bahkan doa enggan menyentuh. Tanah di bawahku bergetar perlahan, ia mengingatkan: setiap luka adalah benih yang sedang belajar diam. Dan air mata— tak lain hanyalah hujan yang memilih wajah lain untuk jatuh. Aku duduk di antara bau embun dan tanah basah, menatap seutas cahaya menua di cakrawala, berpikir: barangkali Tuhan tidak selalu menjawab, kadang Ia hanya menumbuhkan kesabaran, agar sunyi tahu cara berbunga perlahan. Angin menuntunku dengan lembut, berkata: “Kesedihanmu hanyalah bahasa lain dari rindu yang tak tahu arah pulang.” Lalu aku tersenyum, seperti api yang kehilangan alasan untuk membakar. Inilah cinta: menjadi hangat yang belajar melepaskan. Dan malam pun menutup dirinya perlahan, membiarkan segala yang sempat menyala kembali menjadi teduh. Hanya tersisa desir lembut di udara— seolah semesta menepuk punggungku pelan, mengajarkan: bahwa setiap kenang, senang, hilang, berm...

ANOMALI PENANTIAN(Stasiun Lempuyangan)

Tidak ada yang lebih tubuh Dari pelukan basah hujan Pada senja muram legam Pada purba seuntai manis cerita kepulangan Laki-laki; kursi tungu di terminal kedatangan Merentang lengan kekosongan Patuh merunut titik demi detik Keluh membeku, kepala berisik Sebuah obituari terbaca jelas di senyumnya "mati" katanya; perayaan ulang tahun sunyi  Ketika Seluruh sepi terlahir kembali Saat Napas berjarak. Sehasta lalu sedepa dan purna. Laki-laki, tiket kereta tanpa jadwal Menunggu tiba , menanti laju Tatap menemu semu Peluk merengkuh banal Tubuhnya seketika memudar Tabahnya tertinggal menggenang  Laki-laki melayang  Lagi-lagi ia harus pulang melupakan perihal datang Belum tenang.... Kemballi lengang... ______ YOGYA, 16 OKTOBER 2025 Karya:~.Ky

NADIR: SEBUAH CATATAN DARI TANAH YANG PERNAH BERPIKIR

Di tanah yang dahulu berdebat dengan matahari, angin masih menyimpan desah para pemikir yang terbakar oleh maknanya sendiri. Mereka menulis di batu, di pasir, di nadi sungai, tentang kebenaran yang terus berganti wajah setiap kali dicium cahaya pagi. Nadir lahir dari sisa-sisa itu— dari huruf yang tak sempat dimengerti, dari doa yang hilang arah sebelum mencapai langit. Ia berjalan di antara reruntuhan konsep, mengais serpihan logika yang pernah dianggap suci, lalu menatapnya dengan tatapan nyaris kosong, seolah berkata: > “Segala yang terlalu yakin, akan kehilangan keindahan ragu.” Langit kala itu seperti kaca yang hampir retak, memantulkan wajah-wajah yang lelah menafsir. Di bawahnya, kota berdebu masih sibuk membangun kuil baru untuk dewa yang hanya bisa dijelaskan, bukan dirasakan. Dan Nadir tahu—di situlah letak sunyi paling dalam: ketika manusia memuja pikirannya sendiri dan mengubur hatinya di balik argumentasi yang rapi. Ia pun berkelana ke barat, ke timur, menyusuri gurun y...

Petak umpet versi dewasa

Dulu kami bermain petak umpet di tanah merah yang hangat, menyembunyikan diri di balik pohon jambu, di bawah meja, atau di pangkuan senja. Yang jadi penjaga menutup mata, menghitung pelan sambil menahan curiga. Yang lain berlari — menyembunyikan napas, menyimpan degup agar tak ditemukan, meski diam-diam ingin seseorang memanggil nama mereka. Kami tertawa tanpa sebab besar, karena dulu, bahagia tidak butuh alasan. Berbohong terasa seperti bermain bukan bertahan. Lalu waktu menggulung lapangan itu. Tanahnya mengeras, warnanya hilang seperti kenangan dihapus layar. Kini yang jadi penjaga bukan lagi anak kecil, melainkan mata yang menolak tertutup — takut memantulkan wajahnya sendiri. Yang bersembunyi pun makin lihai: ada yang mengunci diri di balik jabatan, ada yang menyamarkan dosa dengan nada rendah, ada yang berdoa sambil memastikan kamera menyala. Tawa sore telah hilang— semua orang memantul pada citra yang sama: benar, suci, dan berjarak. Yang dulu cepat ketahuan kini dilupakan, yang...

⚙️ LAPORAN TERAKHIR NOMOR 7451(Dialog Antara Sistem dan Manusia)

Prolog:  LOG MASUK: BERHASIL STATUS: AKTIF, NAMUN TERTEKAN ENTITAS: MANUSIA 7451 & SISTEM UTAMA JENIS LAPORAN: KERUSAKAN INTERNAL – KRITIS -------- MANUSIA 7451: Sistem Utama, aku mengajukan laporan.  Bukan untuk perbaikan, tapi untuk memastikan aku masih terdaftar di database kehidupan. Setiap hari aku mematuhi perintah: taat, produktif, tidak mengeluh, terus berfungsi. Tapi aku rasa ada bug di jiwaku — kebahagiaan tidak terkirim ke alamatku, dan setiap kali kuklik doa, yang muncul hanyalah pesan: “Server Not Found.” Aku menyiram sabar yang tak pernah tumbuh, menanam harapan yang mati sebelum subuh, dan belajar tersenyum seperti tombol power yang menolak padam. --- SISTEM UTAMA: Laporan diterima. Kesedihanmu telah diarsipkan di folder “Masalah Pribadi yang Tidak Mendesak.” Apakah kamu masih bisa bekerja? --- MANUSIA 7451: Masih, tapi aku tidak tahu apakah ini kerja atau sekadar penundaan kehancuran. Aku mencatat gejalanya: – sabar bocor, – iman retak, – empati beku, – mak...

Error 7451: Tuhan Tidak Merespons

Tuhan, aku tahu ini bukan giliran-Mu membaca laporan, tapi izinkan aku melaporkan sedikit kerusakan kecil sebelum tubuhku benar-benar berhenti berfungsi. Aku sudah mencoba hidup seperti petunjuk-Mu: taat, bekerja, mencintai, bertahan. Tapi sistem ini macet, Tuhan. Kebahagiaan tidak dikirim ke alamatku, dan setiap kali kuklik doa, yang muncul hanya pesan: “Server Not Found.” Aku lelah menjadi mesin-Mu yang paling rajin, yang setiap hari menyala dengan sisa tenaga, menyemai sabar yang tak pernah tumbuh, menyiram harapan yang selalu kering sebelum subuh. Dunia ini terlalu bising, tapi hanya aku yang masih mendengar detak diriku sendiri. Mereka bilang, kita semua berjuang bersama — padahal aku yang bekerja sementara mereka sibuk membingkai luka jadi motivasi. Tuhan, aku tidak sedang minta keajaiban. Aku hanya ingin tahu kenapa Kau menciptakan manusia dari tanah, kalau akhirnya Kau biarkan kami hidup dalam puing. Aku mencoba kuat, tapi kuat itu kini terdengar seperti sarkasme. Setiap kali a...

Kita Semua Ampas (Narasi Resmi dari Rakyat yang Tak Pernah Dapat Giliran Menyeruput kopi)

Kami sudah terlalu lama menunggu air mendidih, sementara mereka di istana sibuk menghitung gelembungnya — mungkin dikira itu tanda kemajuan, padahal cuma buih kesombongan. Kami tahu, pahit seharusnya sederhana: asal jujur dari bijinya. Tapi kopi negeri ini diseduh dengan kebohongan, disaring dengan janji kampanye, disajikan dalam cangkir propaganda, hingga ampasnya mengendap di dasar kami, dan busanya terbang ke bibir mereka — sebagai pidato, tepuk tangan, dan potongan berita di prime time. Setiap pagi kami menyeruput berita, setiap malam meneguk beban. Harga naik, janji turun, dan doa — ah, doa — tak lagi cukup menetralkan getir di lidah yang dipaksa bersyukur. Mereka bilang: “Jangan terlalu pahit, nanti perutmu sakit.” Tapi pahit ini bukan dari kopi — dari hidup yang direbus. dengan kompor janji yang apinya tak pernah padam — meski bahan bakarnya adalah harapan rakyat. Di televisi, mereka menepuk dada: menyebut stabilitas seperti mantra, memoles angka jadi lukisan, seolah grafik yang...

Rehabilitasi Logika

Aku hanya membaca, tapi tampaknya suaraku dianggap kudeta. Barangkali nadaku menyinggung peraturan tak tertulis tentang bagaimana puisi seharusnya mencium kaki para penjaga selera. Di rumah itu—Berlin, panti rehabilitasi logika— tempat waras disembuhkan dari pikirannya sendiri, tinggallah satu makhluk yang terlalu bangga mendengar suaranya sendiri. Ia duduk di kursi moderator, berwudu dengan kritik, menyiramkan teori air suci ke kepala siapa pun yang tak mau ikut berlutut pada tafsirnya. Katanya puisiku terlalu merendahkan diri. Padahal aku hanya menunduk, menghormati kebodohan yang sedang berkhotbah tentang moral kepenulisan dan etika diskusi, sementara tangannya sibuk menutup mulut orang lain dengan pita bertuliskan “aturan komunitas.” Ia berbicara panjang, mengira setiap kalimat adalah bukti kecerdasan, mengira volume bisa menggantikan kedalaman, mengira tepuk tangan sendiri adalah wujud kebijaksanaan. Dan ketika aku mencoba menjelaskan, ia menutup telinga— katanya, agar objektivita...

Jalan Tol Ilusi (Ayah)

Ada tembok tak terlihat di antara kita, yang lebih kokoh daripada janji manusia, lebih abadi daripada kata-kata manis yang dibuang ke angin. Hari demi hari, bayangmu memudar seperti lilin yang padam di tengah badai. Andai aku punya kuasa, ingin kusumpahi malam-malam kelam yang menelan masa laluku tanpa permisi. Andai aku diberi kesempatan, ingin kurasakan sekejap cintamu, yang selama ini cuma kudengar dari cerita yang menipu telingaku. Ayah... Aku berkecamuk dalam bayanganmu yang dibentuk kisah orang lain— katanya kau tameng dari badai hidupku. Tapi kenyataannya, aku hanyut di sungai amarah, terbawa angin sarkasme, tersangkut di ranting-ranting tajam yang seakan menertawakan langkah telanjanku. Betapa pedih hidup tanpa dirimu. Betapa perih menapak bumi yang tertabur pecahan kaca, sementara kakiku telanjang—dan dunia cuma menonton, tertawa. Mereka bilang Tuhan tahu yang kubutuhkan, tapi mengapa Ia membiarkan aku terhuyung di jalan yang penuh duri dengan ujung yang tak pernah terlihat? A...

Risalah dari Neraka

Entah mengapa rasa tampak suci— seperti dosa yang tekun belajar berdoa. Disembah dengan khusyuk, dipuja dengan takut. Padahal di balik jubahnya, ada iblis yang tertawa pelan, menyebut diri: perasaan mulia. Aku muak pada rahmat yang menuntut darah, pada kasih yang berkhotbah tentang pengorbanan, namun diam-diam menagih luka dari yang menahan. Ia datang seperti wahyu yang salah alamat, membawa janji tentang langit— padahal langkahnya beraroma daging terbakar. Dan aku bertanya dalam sunyi: apakah itu iman, selain cara sopan untuk menjadi gila? Sebab tiap kali aku ingin melupakan, ia datang membawa ayat baru tentang kerinduan, dengan tinta yang menetes dari tangan gemetar di bawah meja mihrab. Aku pernah berdoa agar rasa ini dimatikan, namun yang datang malah pencerahan— bahwa Tuhan mungkin juga pernah menciptakan cinta bukan untuk menyelamatkan, melainkan untuk menguji siapa yang sanggup menolak indahnya neraka. Di antara nyala dan ngeri, aku menahan jemariku yang ingin menyentuh, seperti...

Puisi Ini Tidak Sesuai Standar ISO 9001

Aku menulis dengan pena yang getarnya seperti detak jantung— pelan, berhitung, takut salah menaruh koma. Setiap kata adalah simbol, setiap jeda adalah akar kuadrat mencari hasil dari sesuatu yang tak pasti. Di antara garis dan variabel, kususun rasa seperti algoritma yang hanya aku pahami. Lalu seseorang datang membawa kata "batu" . Dengan senyum seolah penilai, ia berkata: “Tambahkan ini, agar puisimu lebih kuat.” Aku tersenyum kecil. Lucu, pikirku — seolah kekuatan bisa diukur dengan benda padat, seolah perasaan bisa diuji tekan seperti konstruksi jembatan. Aku jelaskan perlahan, bahwa ini bukan tentang bumi. Namun tentang angka yang menolak gravitasi, tentang cinta yang ditulis dalam logaritma dan limit tak berhingga. Bahwa seluruh metafora telah disusun agar tak goyah oleh benda riil. Tapi ia menganggap penjelasanku rumit, dan dengan enteng menuduhku terlalu merendahkan diri. Ah, mungkin benar. Aku ini hanya tukang kata— yang mencoba menata logika dalam irama, menggambar ...

DIA ADALAH; SANG NOL (Untuk yang menulis iman dalam rumus dan menghapus luka dengan logika)

Dia datang tanpa suara, duduk di sudut ruang seperti tanda kurung yang tak ingin dibaca. Bibirnya terkunci, namun pikirannya melangkah jauh ke dalam hitungan waktu yang hanya bisa diukur oleh yang mengerti diam. Dia tidak berbicara pada sembarang telinga, hanya kepada mereka yang mampu menampung sunyi tanpa menjadikannya debat. Ketika akhirnya ia bicara, suaranya seperti palu di meja pengadilan. tegas, lantang, namun tak pernah berlebihan. Setiap katanya adalah hasil dari ribuan pengurangan— ia kurangi emosi, ia kurangi ego, hingga yang tersisa hanya bilangan paling jernih: kebenaran. --- > “Segalanya harus kembali ke nol,” ujarnya. “Sebab di sana tak ada luka, tak ada aku, tak ada mereka— hanya keseimbangan yang suci.” Aku terdiam. Kupikir nol adalah kehampaan, namun di matanya, nol adalah kiblat segala arah. Tempat seluruh garis kembali bersujud, tempat semua kurva melengkung dalam rindu menuju pusat. --- Ia hidup dengan sistem nilai yang ia ciptakan sendiri: kesabaran baginya ada...

DIA ADALAH; SANG SINGA (Untuk pemilik tebas pedang di tegas sabdanya)

William, boleh ya kali ini saja Aku tidak sependapat atas fatwa;  _Apalah arti sebuah nama_ Aku ingin bercerita pada dunia Tentang seorang teman, sahabat, saudara guru sekaligus lawan bicara Dia adalah; Sang Singa Kami baru sekali bertemu "Namun kau serasa tak asing bagiku." Katanya, dan ku aminkan itu Kali lain dia mengirim sebuah sajak; Kekasih yang terbakar Istana kontemplasinya terbakar Aku saksi dia bangkitkan diksi-diksi menggelepar Walau siksa trauma itu masih berkobar "Aku mulai dengan puisi cinta dulu ya?!" Ucapnya "Ajib, semua puisi adalah cinta. Dan puisi cinta adalah cinta di atas cinta. Anjayyyy!" Jawabku sekenanya Tidak, William, jangan salah faham Dia bukan kucing rumahan Meski dia menulis tentang semilir angin, duka dan binar mata Shinta Dia adalah; Sang Singa Aku banyak bertemu dengan manusia pongah Bahkan berucap hadist simpatiknya terkikis Bicara ayat, empatinya tersayat Tapi dia lain, William, ya Dia ilmiah dan apa adanya Dia hanya somb...

Republik Sirkus

Tirai panggung perlahan terbuka, lampu menyorot janji yang terlupa, suara tepuk tangan terdengar hambar— inilah sirkus yang mereka sebut sidang bangsa. Seekor singa gemuk berdiri di mimbar, aumnya bergetar di pengeras suara dengan mulut basah oleh kuah anggaran, dan cakarnya sibuk mengais amplop siluman. Di ranting mikrofon, burung beo berkicau, mengulang jargon seperti kaset rusak, kata-kata dijual kiloan dibungkus plastik dengan bonus sembako Di lorong undang-undang, ular piton melata, lidah bercabang menjelma pasal. Ia melilit kritik seperti mainan, Menjerat leher mahasiswa hingga kaku sebelum sempat menyebut kata merdeka. Tak jauh, babi hutan berguling di lumpur proyek, terdengar tawa serakahnya, perut membuncit oleh kontrak tikus, sementara rakyat diberi kupon janji yang lebih tipis daripada bungkus permen. Kambing jantan naik ke kursi rapat, mengumandangkan “keadilan sosial!”, lalu menanduk rakyat sambil menjilat lutut oligarki seperti anjing jinak yang menunggu tulang. Di arena ...

Parade para bayangan

Cinta bukan takhta di ruang pesta, bukan mahkota yang diperebutkan di meja kaca. Namun langkah asing terus berdatangan, membawa obor kata, membawa rayuan hampa, mengira hati hanyalah permata murah yang mendekati sama dengan sampah. Mereka datang sebagai kesatria, tapi kudanya terbuat dari asap, pedangnya berkilau sebentar sebelum karat menelan sinarnya. Janji mereka ditulis di udara, hilang sebelum sempat terbaca, dan doa mereka hanyalah gema palsu yang terpantul di dinding istana. Di taman janji, mekar bunga ilusi, merahnya menyala seakan abadi, namun akarnya merambat sebagai racun. Setiap tangan yang meraihnya akan berdarah oleh duri, tercabik oleh racun yang mereka tanam sendiri. Asmara bukan perhiasan peri, ia naga purba yang menjaga bara. Siapa pun yang mengira bisa memilikinya, akan dijilat lidah api hingga menjadi abu tanpa nama. Hanya satu yang berhak menyentuh, yang tahu bahwa cinta adalah perjanjian suci, bukan permainan di aula ilusi. Maka panggung pun terbuka: persimpangan ...