Postingan

Menampilkan postingan dari Januari, 2026

Yang miring selalu tergiring

Ada yang menyebut itu strategi; padahal, lebih tepat disebut jalan pintas bagi mereka yang alergi pada kemampuan.   Ketika daya saing tidak cukup kuat berdiri sendiri, pengaruh dijadikan tongkat. Opini digiring, reputasi dipelintir, dan nama baik diperlakukan seperti segenggam koin receh yang dilempar; Berantakan, Berisik.   Cara ini memang efisien: tidak perlu belajar lebih jauh, tidak perlu diuji secara terbuka. Cukup rajin bercerita, dan berharap orang lain cacat logika.   Persaingan sehat menuntut keberanian untuk kalah dan kapasitas untuk menang. Menggiring kebencian justru menyingkap kepanikan menghadapi perbandingan yang jujur. Ketika kemampuan ragu tampil, cerita naik panggung menggantikan prestasi.   Namun cerita tidak hidup sendirian; cerita memerlukan penonton—dan sialnya, selalu ada yang bersedia. Mereka yang menelan tudingan tanpa klarifikasi, yang mengulang kabar tanpa koreksi; sering merasa netral, padahal sedang menjadi perpanjangan tangan kebodohan. ...

Jujurlah

Bertuturlah lurus; biarkan mengalir, seperti sungai yang tak mengkhianati hulu. Bila ada cela yang muncul di jalan, tataplah sebagai cermin— bukan ancaman yang menggangu.   Sering, bisu dijahit menjadi selimut, menutupi apa yang harusnya terucap. Salah disimpan sebagai simpul rapi, namun kebenaran tidak akan memudar oleh sunyi.   Suara jujur adalah bintang tetap, diam, setia pada porosnya. Tidak menelanjangi luka. Seperti kompas tua, tak tergores usia, Selalu mengetahui arah lekukan keausan. Menuntun langkah yang nyaris lupa, mengingatkan pada arti pulang— ke tempat di mana hati bisa kembali lega. ______ `Karya: Sarah Bneiismael` Bondowoso, 29 Januari 2026    

Diri pasti berdiri lagi

Pada halaman kronik janggal lara, diri terbawa tak punya harga; hati mewadah tak pernah menarik tira—   Jika air mengalir, tak henti riaknya jika rimbun dedaun, tak pudar bayangnya bila diri diperalat, hilang mahkota dirinya.   Ketika waktu menyapa dahan dingin, kuasa diri semakin terasing. Tak ada satupun selain diri— bertumbuh meski akar sudah pincang lirih.   Kau tau? Rasanya seperti kulit terkoyak seratus kali lipat, dengan seribu panggilan membuatku tuli.   Direndahkan seperti rerumputan, dipaksa akrab dengan lumpuran; aku diperalat, diseret dari kesadaran. Dunia bersekongkol dengan lara hati, menguji diri dengan patah-patah. Hingga banjir air sedih mengucuri wajahku.   Sakit datang angin sunyi mengikuti getah luka yang perlahan mengalir. Aku— rumput liar. Rapuh, terhempas, terlunta sendiri.   Mengubangkan harap bersama susut rerumputan yang tak lagi mau menampakkan diri. Tarinjak, hilang— dunia berbalik muka.   Namun sadar: Helai-helai pasti tumb...

Amplop Gemurra

Jam patah menyimpan naskah lama, Aksara berjalan tanpa gemurra. Aku membaca hidup sebagai gelar, padahal sunyi telah lebih dahulu bicara.   Pagi kubeli dengan sisa terang, malam kubawa dalam genggaman. Langkah bermula dari yang tampak terpisah, menuju arah yang menolak pemahaman.   Daun jatuh perlahan ke tanah basah, air diam memeluk bebatuan. Sampiran luruh, isi kehilangan bingkai, makna bernapas tanpa penjelasan.   Angka dihitung lalu dilepas, dua dan satu bertukar rupa. Kupikir jarak adalah batas, ternyata batas hanya cara pikiran bekerja.   Pasir menulis doa tanpa tinta, ombak datang menghapusnya pelan. Yang dicari lenyap dari cerita, sebab pencarian pun mulai dilupakan.   Aku menyebut “aku” dengan gemetar Dari penghujung, gema menjawab tanpa wajah. Yang memanggil dan yang mendengar, larut menjadi satu arah.   Burung terbang tanpa peta langit, namun tiba tanpa pernah sesat. Begitu pula langkah menyempit, saat tujuan tak lagi disemat.   Sampiran sur...

Musim datang, daun akan berganti

Ku sampaikan Kepada-Mu— Dari sehelai hijau yang keriput dan kering, di atas bumi yang telah lama merenung.   Cintaku bertumbuh di ranting-Mu Bersama janji tertulis pada serat lurus: "Hijau kita tetap walau musim berganti terus." Kemudian terlihat— lembarku menguning perlahan, kecoklatan seperti tanah.   Kau cari yang lain— Menumbuhkan tunas dengan hijau lebih muda.   Serat rapuh dan halus, Halus— Menari digiring angin dingin yang sedang bersiul. "Ini takdir," kau ucapkan lembut— "Alam yang bergerak, bukan pilihan-Mu yang menjauh."   Sengaja kau patahkan ranting tempatku menggantung padamu. Helai demi helai gugur— Tertusuk.   Kau abaikan sambil tersenyum Kau datang dengan wajah yang sama, seolah masih mengenalku yang sudah tiada nilainya. "Musim telah tiba," kau katakan dengan nada yang tenang— Perhatian-Mu untuk tunas baru yang tumbuh. Aku, tergeletak di tanah. Setiap helai yang pernah setia pada ranting-Mu Sepenuh hati—   Mungkin begitulah cinta...

Kedalamanku

Apa yang kau tanam di relung diriku hingga kau tahu tanah mana yang paling mudah runtuh? Aku merasa disentuh oleh keakraban— sementara pengertian berjalan tertinggal, jatuh satu demi satu ke dasar ingatan.   Kedekatan membuatmu hafal setiap hembusanku; Mulai dari Jam yang berdetak di dinding batin, hingga cara suaraku berderit saat berpura-pura kuat. Lukamu memilih tinggal— mendangkalkan danau yang dulu memantulkan langit biru.   Cintamu pernah menjadi air jernih yang kuteguk tanpa memprediksi dampaknya. hingga kehilangan tumbuh sebagai musim panjang. Hari-hari berlumut di sudut, udara berbau lembap dan penantian panjang tak berujung, jamur menua di ronggaku tanpa pernah diperdulikan kedalamannya.   Kau, orang terdekat paling tahu cara memanggil pulang tanpa bersuara, juga cara pergi dengan lembut— meninggalkan pintu tetap terbuka. Memperhatikan kelemahanku seperti peta usang: robek, tapi masih akurat.   Aku berada di tepi kenangan, airnya memanggil namaku dengan sua...

Neraca tua (tentang menimbang waktu, penantian, dan memilih ikhlas sebagai jalan pulang)

Karya: `Sarah Bneiismael` Bondowoso, 20 Januari 2026. Sepertiga malam. Rumput liar bangun lebih dulu dariku, menyebut dirimu dengan bisikan paling lirih— agar pagi tak cemburu pada sisa getar yang masih tinggal di bibirku.   Aroma berjalan sendiri, menyusuri hari. Ia tahu rindu perlu disembunyikan; namun salah memilih arah— namamu dibawanya masuk Pada relung dalam, berdenyut terlalu cepat.   Angin berhenti di hadapanku. Ia menatap lama, membaca sesuatu yang tak pernah kuucapkan. Lalu ia menyentuh waktu: jam-jam terguncang, langit memejamkan mata, dan laut di kepalaku kehilangan ingatan tentang gelombang.   Diam. Sedalam batu yang lama tinggal di kegelapan.   Aku duduk di tepi hari yang mulai melengkung. Sepi datang membawa neraca tua— di satu sisi, detik-detik yang kuhabiskan menunggu; di sisi lain, langkah-langkah yang tak pernah jadi.   Menakarku seperti menimbang biji-biji waktu yang siap dikubur dalam tanah.   Padang membentang tanpa ujung, bertanya den...

Pohon ditengah keramaian

Aku adalah pohon, yang getahnya bercucuran. Seisi bumi tak pernah benar-benar berpihak, atau memahami— betapa berat hari-hariku.   Tumbuh di tempat ramai, menjadi teduh bagi banyak orang. Mereka datang membawa tawa, menyandarkan lelah, lalu pergi— tanpa pernah bertanya, apa yang tertinggal padaku.   Daun-daunku menyimpan perasaan yang ingin luruh. Ingin lepas setiap kali angin lewat, namun selalu mampu menenangkan diri, seraya berkata: "Bertahanlah, biarkan semuanya tetap tampak damai."   Mereka menyebutku rindang: tempat ternyaman untuk bersandar, bercerita, hingga terlelap. Mereka pernah berjanji— melindungiku dari musim.   Namun kulihat mereka berjalan bergandengan, menutup mata pada luka yang kualami. Aku mencoba mengerti. Meyakinkan diriku sendiri: "Bahwa tidak semua yang mengaku cinta bersedia memihak kebenaran."   Setiap senja turun, aku meratapi satu pertanyaan: "Mengapa selalu aku yang disisihkan?" Aku hanya ingin tenang. Aku hanya mengharapkan— a...

ALJABAR SOSIAL

Dunia adalah sistem persamaan yang variabelnya terkunci dalam kotak rahasia.   Segelintir orang menyimpan konstanta: kekayaan, status, jaringan di dalamnya.   Tak ada rumus yang tertera— hanya aturan yang mereka tetapkan sendiri.   Hasil akhir yang dipajang adalah angka yang sudah dihitung sebelumnya.   Kebenaran adalah bilangan prima yang kokoh tak terbagi.   Tetapi kekuasaan adalah operator perkalian yang menggeser semua nilai.   Tak perlu bukti atau alasan; cukup dikalikan dengan nama yang dikenal.   Prima pun akan jadi komposit— diterima sebagai kebenaran yang sah.   Argumen adalah ekspresi aljabar dengan variabel dan pangkat yang kompleks.   Namun yang dilihat hanya koefisien yang ada di depan kalimat.   Siapa yang berbicara lebih penting dari apa yang disampaikan.   Omong kosong pun dianggap benar jika yang berbicara memiliki beberapa huruf yang disingkat dibelakang nama.   Kekuasaan adalah angka nol yang berdiri di pusat...

Sadar

Berkumpul. Tetapi tidak bertemu.   Berbicara. Tetapi tidak menyampaikan.   Ada. Tetapi tidak memberi makna apa-apa.   Kesepian. Terlalu banyak manusia kehilangan arti.   Berjalan seperti bayangan. Berpapasan dengan wajah yang sama, tak mengenal wajah sendiri.   Duniaku terjaga. Saat dunia memilih tertidur.   Menutup mata dari apa yang ada di hadapan mata, menutup telinga dari suara yang berbisik, menutup hati dari kehidupan yang sesungguhnya.   Duniaku terjaga. Saat dunia memilih tertidur. Ini adalah beban. Sadar.   Kegelapan datang. Sebagai teman.   Sunyi adalah ruang—pikiranku tumbuh seperti rumput liar.   Sunyi adalah tanah—kegelisahanku berakar seperti pohon tua.   Sunyi adalah udara—kebenaran berbisik namun tak ada yang mau mendengar.   Teman. Mengapa kita harus sendirian di tengah keramaian.   Lampu menerangi setiap sudut. Cahaya menerangkan tapi tak menjelaskan.   Ini adalah peradaban kita: penuh terang namun t...

Selisih Utara (Perasaan yang ada di hati seseorang—tak disadari, tak disambut, tetap tinggal)

Aku berangkat dari jarak yang kita izinkan tinggal tanpa ditanya ke mana ia akan berakhir.   Semesta boleh menorehkan kisahnya sendiri; aku memilih menjadi selisih yang membuat matamu tertahan di antara utara dan segala arah.   Ada masa ketika pendar hari menunduk terlalu ramah— menyandarkan kepalanya pada bahu waktu yang uzur, membujuk jiwa agar percaya segalanya telah rampung.   Ketahuilah, bahwa itu hanya tenang yang dipinjamkan sebentar; semesta mencoba menahan langkah, seperti paru yang sengaja tak berhembus, memberi ruang bagi sesuatu untuk tinggal meski tak pernah disambut.   Aku tidak hadir sebagai terang, aku adalah nada purba yang tak pernah kau undang.   Kususuri rongga batinmu, memutar poros perasaan, mengajari rindu cara berdiam tanpa layu.   Dan bila kesepian menarik kursi kemudian duduk di sebelahmu, menyilangkan kakinya tanpa bertanya apa pun, namun tak juga pergi.   Ingatlah— barangkali aku sedang kembali: Sebuah irama yang tak pernah ...

Rintik abu pada mata memandang

Oleh Sarah Bneiismael Bondowoso, Kamis 15 Januari 2026   Setiap hati yang pernah disentuh badai akan membawa kuyup basahnya kemanapun.   Cinta adalah lautan yang tiada batas. Mencintai diriku sama halnya dengan menyelam pada kedalaman yang menyimpan runtuhan kapal karam.   Mencintai diriku bukanlah hal yang mudah. Kau harus menerimaku beserta segala ketidakberuntungannya— misalnya ombak yang mengikuti jejak pasir, batu-batu pantai yang menusuk dari kaki sampai ke hati.   Sebagaimana laut tak pernah bisa diam, setiap langkah membawa beban. Dan itu telah menjadi bagian dariku.   Yang paling menyakitkan bagiku adalah harus selalu meminta maaf— seperti jam pasir, aku terus menurunkan rintik abu pada setiap mata memandang. Pedih dan menyakitkan, semakin lama.   Dan kau tahu? Bumi di bawahku selalu gelisah, tanpa pantai yang bisa jadi pijakan. Layaknya hanyutan kayu tanpa memiliki hak untuk bersandar.   Aku selalu membayangkan diriku dipeluk dan ditenangkan,...

Mengapa aku begitu mudah larut

Betapa selama ini aku telah dipecundangi. Bagaimana tidak— aku terluka karena terlalu mencintai, aku menangis setelah kelewat senang, lalu tertidur setelah terlalu lama menangis.   Baru kupahami, bahwa aku kerap menaruh seluruh jiwa pada sesuatu yang tak pernah janjikan kekal.   Kugenggam bahagia seakan abadi, pada cahaya sore— indah nan lembut, namun pasti kembali ke pangkuan malam.   Mengapa aku begitu mudah larut, begitu ingin menemukan akhir dalam satu pelukan?   Haruskah aku menurunkan harapan ke lembah yang lebih tenang? Mencintai tanpa hilang diri, merasakan tanpa terbenam dalam lautan. __________________ Karya: Sarah Bneiismael  Bondowoso, 13 Januari 2026

Pelangi

Aku pelangi. Hadir selepas hujan reda, melengkung sebentar di langit yang masih basah luka. Kupikir warna-warniku cukup, membuat mata berdiam dan ingatan bertahan. Tak ada pengikat antara aku dan biru yang kupinjam, aku hanya uap, cahaya, dan air yang membias. Embun menjanjikan sentuh, tapi tak pernah memeluk. sementara mentari naik perlahan, memintaku menghilang. Saat tubuhku menipis ditiup angin yang dingin dan tenang, Kekaguman padaku pun satu per satu berpulang. Mereka tak mencari ke mana warna ku terbang, Tak ada yang bertanya ke mana aku menghilang. cukup puas pernah melihat—lalu lupa tanpa bimbang. Perhatian mereka seperti salam di ambang pintu senja, bertanya sekilas, lalu menutupnya begitu saja. Mereka mencintai cerah, menolak kelabu. tak ingin tahu betapa kabut setiap hari berusaha menelanku. Dalam lengkung yang kian pudar, aku mengerti aku bukan hiasan langit untuk dipuja lalu ditinggalkan. Aku pekerja antara jatuh dan terang, menyusun warna dari luka hujan dan sinar kepayah...

Samudra dalam Bidukan-Mu

Tak perlu menggerus pantai, apalagi melucuti waktu— cukup bidukan matamu, di mana samudra berdiam dalam sepasang mutiara batu.   Di sana arus mengalir dengan irama syair; betapa piawai, engkau, menari di antara relung-relung embun yang membasahi geloraku.   Kulihat lautan dalam sekeping mata: gelombang menggoda dengan bisikan kata cinta, dasarnya memeluk detik-detik kita yang bersentuhan di alam mimpi, permukaannya membelai dengan senyum pada seluruh kerinduanku.   Aliran purnama menggelarkan karpet merah mengantar langkah kita, melintasi bentangan warna menyatukan malam dan siang; cakrawala membungkus semesta, setiap arus mengabadikan cinta kita seutuhnya.   Tak ada kata yang bisa menyamai alunan dari pandanganmu ini— hanya lautan dalam diriku, berombak ingin memelukmu. Rela aku tenggelam sepanjang hayat, dalam lautanmu; dalam cinta yang kita ukir di antara gelombang dan pasir— di mana samudra berdiam selamanya, dalam sepasang mutiara batu.     _____ Karya...

Memberi ruang, teman

Aku memilih memberi ruang agar hidupmu dapat bernapas dengan bebas. Ada bahagia yang perlu dijalani tanpa kehadiranku di sekitarnya, dan aku menghormatinya dengan tidak mengganggu. Aku menahan diri, memberi waktu pada cinta yang sedang kau rawat. Aku mengerti bahwa perhatian tak selalu berdiri di tengah; kadang cukup di tepi, menjaga agar segalanya tetap baik. Diamku adalah keinginan untuk tidak menguasai. Aku percaya, ketulusan yang dewasa tidak menuntut peran, dan kepedulian yang bijak tidak perlu menentukan arah. Jika suatu hari langkahmu melelahkan, jika hatimu membutuhkan tempat singgah yang tidak bertanya dan tidak menilai, kau tak perlu ragu. Aku tidak menyimpan hitungan tentang jarak atau waktu, tidak mengingat siapa yang lebih dulu menjauh. Kau boleh kembali sebagai dirimu yang apa adanya— tanpa alasan, tanpa rasa bersalah. Bagiku, persahabatan adalah ruang yang tetap ada, meski lama tak disinggahi, Tidak menyimpan dendam. Memahami bahwa setiap orang berhak mendalami perjalana...

Biarkan diri, sendiri

Langit dalam relungku menyimpan lapisan gelap, Setiap hela menyusuri jalur tersembunyi. Pijar-pijar pikiran terbenam kelelahan, segala riak perlahan lenyap. Setiap lirik Menatapku dengan kilat berselimut misteri. Menangkap wujud samar pada permukaan tenang Mengombaki diri. Bak perkebunan  Hatiku tandus, Kesuburan getih tak sanggup menjawab beliung. Jalan sesat bukan arah yang hendak dituju, Aku hanya ingin mengendap dengan tenang, Kujadikan tiap tutur bagai embun titis lalu menghilang, Jangan memaksa menyentuh jiwa yang tengah menguap. Biarkan diri ini sendiri. _____ Ditulis oleh: `Sarah Bneiismael`

Lentera

Kita adalah dua lentera yang digantung berjauhan, menyala pada jam yang sama, namun memilih menahan terang agar malam tak terusik. Sinar kita saling mengenali, tetapi lidah api pura-pura lupa cara menyapa. Sejujurnya, aku dapat menerjemahkan bahasamu melalui asap yang meruap— dari panas, dari arah pandang yang sengaja melenceng. Namun aku berpura-pura buta. Sengaja kubiarkan isyarat itu berlayar tanpa pelabuhan, seolah angin tak pernah meniup bau asapmu padaku. Ketahuilah, di dalam relungku ada kuncup yang menahan mekarnya. Sebab, bunga tahu: tak semua kuntum boleh dipetik sembarangan. Kau akan tetap utuh meski tak bersandar padaku, seperti matahari yang tak berkurang sinarnya meski awan memilih singgah. Bukankah kita telah mahir memainkan peran sebagai dua aktor yang hafal naskah lupa, menyembunyikan rasa di balik dialog biasa? Maka biarlah sandiwara ini berlanjut— hingga waktu, dengan sendirinya menarik tirai dan memperlihatkan jalan keluar tanpa ada nyala yang harus dipasangkan. Men...

Siapa penjajah itu?

Pundak bumi meradang; Mengenang masa ketika bebannya ditata sebelum setapak meretih, dilentang habis lalu dihancurkan. Hutan mengerang, ditumbang habis-habisan. Batangnya ditebang tak diberi malam. Dia bungkuk meratapi rimbun, memeluk sisa-sisa serabut. Sungai menggigil, airnya sesak nafas. Dan ia meraung ketika serpih-serpih sayup merobek selaput bening tubuh; Arusnya patah di tengah jalan, menyisakan gemuruh. Di telan sendiri. Gunung menghela napas: " Siapa yang peduli pada punggung yang disayat oleh tikus lapar, pada remuk, dan luka yang bahkan angin tak mau tanyakan? " Jalan-jalan geram; Tubuhnya menganga, dibiarkan lapar, meringis diinjak janji setengah jadi. Pondasinya dimakan binatang sebelum siap ditapaki. Bumi frustasi: pikiran kelu, tubuh membatu, akal sehatnya buntu, mendengar gunung, laut, hutan, dan jalan merintih bersama. Berpuluh musim berganti: dari renggang tanah, banjir sungai, hingga gelombang di ujung pantai. Satu pertanyaan perlu dijawab! : " Siapa s...

Tak mengapa

Judul: Tak Mengapa "Suara bising itu sudah tak asing lagi. Dia adalah apa yang dibutuhkan oleh telinga, agar otakku bisa berjalan". Ujarnya. Sedang aku sibuk mencari letak kaki. Semangkin kudengar, semangkin berkeringat pula semut-semut yang menempel, sampai aku, tak mengenal lagi cahaya yang dulu nan indah ku pandang.  Ternyata itu bukan hadiah untukku. Tenang saja aku tetap ber do'a agar ia tidak redup.  Seperduli itu aku. Walaupun hanya berdiam di balik tembok yang keras.  Seriuh ombak bergelut Aku tak takut  Sebab aku lebih riuh dari itu. Sepatah-patahnya dahan  Segugur-gugurnya dedaunan  Setumbang-tumbangnya pepohonan Toh tetap tumbuh jua, Tak mengapa meski tak berbuah, tak mengapa meski di guyur hama, dan tak mengapa meski busuk. Bukankah pada akhirnya, Kita pun akan menyatu dengan tanah? ________ Karya: Tanpasuara

Menanti pagi

Apakah dunia sengaja meniadakanku dari daftar segala yang layak dirayakan, atau sejak awal aku dilahirkan sebagai selisih dalam barisan peradaban? Titik terang menjauh layaknya garis katulistiwa, setiap langkah menjadi pemisah. Keindahan berpaling, menutup mata, enggan berdamai. Luka terus bertahan. Aku lelah menjadi musim yang tak dinanti, Melayari cinta sebagai angin berubah. Saudara juga kawan telah menemukan dermaga mereka sendiri, meninggalkanku bersama ombak Laksana bintang jauh dari pandang, Masih berjuang.  Aku duduk di bawah, berdiam diri. Menanti pagi entah, kapan akan datang.  ___________ Karya: Sarah Bneiismael 

Pulang

Aku sudah pulang, namun rindu masih terkenang Seperti hujan jatuh, diam-diam ia menggenang. Kupikir rumah sekadar alamat tempat singgah sebelum lelap. Nyatanya, pulang adalah niat di mana rasa boleh menetap, tanpa ditimbang, tanpa disikap. Rintik mengajarku bersabar, bahwa tidak semua harus tumpah. Ada basah yang harus tersasar, menjadi genangan pasrah. Biarkan semuanya luruh seperti rintik teduh. Meski air mengalir membawa arah yang rapuh, meninggalkan basah pada diri yang kian utuh; semoga sabar berdiam dalam setiap keluh, menampung genangan tanpa perlu mengeluh. Ikhlaskan alamat lama yang telah lenyap. Dan , Pulang Bertumbuh Kembali utuh.  _____________ Karya: Sarah Bneiismael 

Kemuliaan diatas sajak

Ragukan aku— tak apa. Bahkan pagi pun boleh gamang kepada siang, sebelum matahari berani meninggi.   Namun bila kau hendak menilai, arahkan pandangan pada karyaku— sebelum bicara, sebelum mengumandangkan pendapatmu.   Aku tak sudi menyediakan waktu untuk merenungi putusan yang diteriakkan tanpa pertimbangan oleh seseorang yang enggan membaca, menolak mendengar, namun memukul palu keras-keras dan menyebut dentumnya objektif.   Jika karyaku cacat bagimu, cacat di bagian mana? Di larik yang kubuat, atau di caramu membaca?   Jika barisku tak layak, ukurannya apa dengan standarmu? Jangan-jangan, suaramu lebih didulukan daripada pikiranmu. Bila akalmu enggan menimbang serta matamu menolak meneliti, untuk apa berbicara? Lepaskan saja keduanya!   Sejak awal yang kau bawa pada sajak Adalah vonis sepihak— dipaksakan menjadi hukum.   Aku tak meragukan kapasitasmu. Namun saat kau naik di atasnya untuk menginjak orang lain, saat itu tampak jelas: kau terdidik, namun tak...

Tidak semua perjalanan perlu di lanjutkan

Perhatian, Dantang seperti jawaban saat kehadiran yang intens memberi rasa aman. Pada zaman ini, kedekatan dapat tumbuh tanpa perjumpaan. Suara mampu mengisi ruang batin tanpa pernah sungguh menjejaki kenyataan. Dan karena hati manusia diciptakan untuk berharap, kita sering melangkah tanpa merenungi, tak memberi cukup jeda untuk bertanya ke mana kita sedang dibawa. Kita kerap berjalan yakin, lupa bahwa tidak setiap arah menuju utara; sebagian hanya mondar-mandir, menyangka selatan sebagai pulang. Kesepian tidak selalu berarti sendiri. Hadir dalam hubungan yang terasa dekat namun tak pernah benar-benar sampai. Tulus, sunyi, Rawan disalahartikan sebagai keharusan. Waktu diserahkan. Cerita dibuka. Kepercayaan diletakkan seperti benih di tanah yang belum tentu siap menumbuhkan. Dan kehidupan, dengan caranya yang tenang, mengajarkan bahwa tidak setiap harap ditakdirkan untuk berakar. Ketika kehadiran berhenti bersuara, yang tersisa tinggal ruang hening tempat hati sadar diri, menjernihkan p...

SEREMONI KISAH CINTA

Ketika langit berkenan merendahkan pandangan, aku diangkat sebagai pusat tempat segala rasa pulang. Taman menjadi ruang perjamuan, kedai kecil cukup disebut istana. Sebab harapan pernah duduk dengan tenang di sana. Dia menempatkanku dalam sebuah kisah, menobatkanku sebagai ratunya. Aku percaya pada keberlangsungan. Lalu perubahan datang  Irama meluruh, cahaya menarik diri, ruang yang dahulu akrab menjadi jarak yang dingin. Tempat-tempat itu masih ada, namun tak lagi bernuansa sama. Kemewahan runtuh menjadi kesederhanan, dan di sana tahtaku di lengserkan. Rupanya aku bukan Ratu, apalagi pusat dunia, bahkan bukan tokoh utama dalam cerita manapun. Aku hanya manusia yang pernah menyerahkan kepercayaan sepenuhnya, dan kini memanggil kembali harapan agar pulang ke dalam diri. Cinta selesai sebagai pemahaman. Membuatku mengerti arti kehilangan; dunia tak pernah berjanji menetap, namun selalu membuka ruang bagi hati yang bersedia tumbuh dalam pemikiran yang lebih dalam. ______ Karya: Sarah...

Menepi

Kami pernah menjadi dua perahu yang singgah pada teluk yang sama. Laut menerima keteduhan, air menyapa kayu dengan begitu lembut, angin menahan layar hingga waktu berhenti mendorong. Segala sesuatu nampak selaras pada mulanya. Arah memberi keyakinan, jarak tidak menakutkan, dan laut membuka dirinya tanpa desakan yang berlebihan. Namun perlahan waktu mengubah tabiat air. Riaknya mulai menyimpan pertanyaan, gelombang datang berulang, mengetuk perahu dengan kegelisahan. Angin kehilangan keseimbangannya, menarik layar dengan waswas, membuat arah meragukan dirinya sendiri. Satu perahu menjaga kemudi dengan ketakutan akan kehilangan pegangan, yang lain memikul letih sebab terus diminta menegaskan tujuan yang sebenarnya tak pernah berubah. Kayu mengeluh pada senyap, tali menegang menahan cemas, simpul-simpul mulai kesulitan bertahan. Hari-hari dilalui dengan suara laut yang serupa. Meski tak pernah menjadi amukan, gelombang kecil selalu menghantam sampai kami babak belur, kesabaran tergerus. ...

Lintasan

Saat angin sore menyingkap tirai kamar, kemudian menyorot terik mentari kearah wajahku. Saat itu aku memahami: hari tak pernah benar-benar milik siapa pun. Kita hanya penumpang. Menanti, sambil diajari berpamitan bahkan sebelum sampai. Aku pernah hidup dengan keyakinan berlebih: ingin menggenggam, menuntaskan, memenangkan. Lalu letih berbicara, Kemudian harapan luruh, dan realitas hidup mudah dipahami. Harapan kabur melarikan diri. Untuk apa mengejar? Biarkan sampai lelah sendiri.  Dan saat jingga mulai mewarnai senja: Aku sadar, bahwa upaya tak boleh disia-siakan. Maka kuluruhkan diri— gagal kupulangkan, luka kubiarkan, ketidaktahuan kurawat sebagai ruang. Kubiarkan waktu berjalan acuh. Dan aku memilih hadir, rendah hati, Memahami detik jika ingin berlalu. Dan bila segalanya mesti selesai, aku ingin sampai pada tujuan  tanpa beban. Lega Luruh Jujur. — Tenang _______ Ditulis Oleh: Sarah Bneiismael

Belajar menahan angin, Teman

Aku ingin berbicara dengan cara paling jujur yang pernah kulakukan. Sejujur angin yang bergerak apa adanya; kadang hanya lewat, kadang menggugurkan daun tanpa sadar. Beberapa hal, hadir tanpa direncanakan. Seperti hembus yang datang tanpa tujuan mengubah arah— hanya menandai bahwa sesuatu pernah bergerak di antara kita. Tentang candaan yang kuucapkan tanpa niat meremehkanmu. Aku mengerti, tak semua kata mendarat dengan perasaan yang sama. Jika ada yang membuatmu tersinggung atau tak nyaman, aku meminta maaf dengan sungguh-sungguh. Kejujuran pun kadang datang terlambat untuk mencegah rasa yang terlanjur ada. Atas kejadian ini, aku mendapat pelajaran berharga. Bahwa kata bisa lebih cepat dari perasaan, dan tawa bisa berlari sementara hati masih tertinggal di belakang. Di sanalah kesalahpahaman tumbuh tanpa disadari. Aku tahu, aku keras kepala. Sering memilih diam dan membiarkan sesuatu berlalu, seperti angin yang tak berhenti untuk menjelaskan arah. Ada hal-hal dalam diriku yang selesai ...

Merindukan tubuh semesta

Angin tahu rahasia yang kubungkam. Dia mengetuk, masuk membawa aroma tanah basah. Melepas ingatan tentang mu di setiap ombak malam yang dipeluk desir pantai.   Rindu menjadi tidak sopan; dia meretas gerbang mimpi—ambang pemisah antara duniaku dan duniamu.   Dia hembuskan angin pada tirai malam saat sedang merenung sendirian, menaruh bentangan mu hingga melauti batinku.   Kau tidak pernah meninggalkanku— Kau hanya berbalik arah, menyerahkan layar pada angin yang memanggil. Laut memeluk, Tuhan membuka pelabuhan tenang, dan di sana, kau beristirahat tanpa gelombang. wahai tubuh semesta beraroma Ibu. Ketahuilah, Jalur yang kau ukir di hatiku sedang tertutup kabut, membuat langkah ku goyah seperti dedaunan yang ditiup oleh angin liar.   Hati ku menyusut jadi anak kecil di tepi pantai, Digiring air, menceritakan jarak. Lalu mataku berombak meluarkan air sedih. sepanjang lautan mengingatkan setiap detik bersamamu— setiap arusnya bersaksi bahwa rasa rindu itu nyata, bahwa ak...