Litani Ironi Zaman
Kita hidup di abad tercepat, namun jiwa kita terseret, seperti sandal jepit usang di banjir jalanan kota. Jam digital berlari seperti kuda liar, sementara dada kita sesak seperti penumpang terakhir yang selamanya ditinggal kereta. Kebebasan katanya milik semua, tapi lidah kita gemetar seperti burung di sangkar kaca, takut patah sayap karena dipandang algoritma. Kedekatan jadi sandiwara murahan: tangan tak lagi menggenggam, hanya menari di atas layar, dan senyum palsu terpajang seperti topeng badut yang dipaksa tertawa di pasar malam. Pelukan terganti stiker, air mata diganti filter, dan tragedi disulap jadi “konten.” Pengetahuan jatuh dari langit seperti meteor bercahaya, namun otak kita cuma ember bocor, membiarkan derasnya api menghanguskan isi kepala hingga tinggal asap trivia yang tak pernah menyelamatkan siapa pun. Kita bekerja, bekerja, bekerja— seperti tikus di roda besi, berputar gagah menuju surga neon yang dijanjikan papan iklan. Namun yang kita temui hanyalah punggung retak,...