Postingan

Menampilkan postingan dari September, 2025

Litani Ironi Zaman

Kita hidup di abad tercepat, namun jiwa kita terseret, seperti sandal jepit usang di banjir jalanan kota. Jam digital berlari seperti kuda liar, sementara dada kita sesak seperti penumpang terakhir yang selamanya ditinggal kereta. Kebebasan katanya milik semua, tapi lidah kita gemetar seperti burung di sangkar kaca, takut patah sayap karena dipandang algoritma. Kedekatan jadi sandiwara murahan: tangan tak lagi menggenggam, hanya menari di atas layar, dan senyum palsu terpajang seperti topeng badut yang dipaksa tertawa di pasar malam. Pelukan terganti stiker, air mata diganti filter, dan tragedi disulap jadi “konten.” Pengetahuan jatuh dari langit seperti meteor bercahaya, namun otak kita cuma ember bocor, membiarkan derasnya api menghanguskan isi kepala hingga tinggal asap trivia yang tak pernah menyelamatkan siapa pun. Kita bekerja, bekerja, bekerja— seperti tikus di roda besi, berputar gagah menuju surga neon yang dijanjikan papan iklan. Namun yang kita temui hanyalah punggung retak,...

Opera Boneka Kayu

Di panggung reyot papan usang, boneka kayu berdandan dengan senyum kaku. Giginya terukir dari karat dingin. Tali-tali menggantung dari langit-langit, menggoyangkan tangan dan kaki kaku. Setiap tarikan benang mengusir lapar, telanjang— perut kayunya kenyang oleh pujian. Kardus ia kenakan sebagai mahkota, Serbuk halus ia sebut perhiasan. Orkestra menabuh timpani sumbang, mengiringi lakon keagungan palsu. Penonton terpesona menganggap lakon murahan sebagai dogma tak sadar senyum itu terpaksa Langit ikut tertawa getir, melihat lapar dikemas jadi puasa, sepi dijual sebagai kebijaksanaan, luka dipoles jadi kesucian. Ah, sungguh drama murahan, Kesunyian dijadikan tontonan, dan pengorbanan dipamerkan tanpa pernah ditanyakan. Akhirnya, tirai runtuh dengan dentum murahan. Boneka kayu tetap diam, talinya menertawakan martabat. Kursi-kursi kosong berdiri pongah, Sambil bertepuk tangan Begitulah teater palsu diwariskan sampai kayu lapuk sendiri dan suara “minta” pun dianggap dosa. _________________...

Sejarah yang membatukan

Aku berdiri di zaman purba, menunggu engkau— lelaki yang kujanjikan pada langit. Mengukir prasasti keberanian, meninggalkan jejak di tanah raksasa. Namun yang datang hanyalah gaung suara berputar di lorong gua, mengaku penjaga, tapi terkurung dalam bayangan tulang lama. Kau bicara tentang kawanan, tentang Desa, tentang masyarakat, tentang bumi kecil yang ingin diperjuangkan. Ironi menamparku: kau sibuk meninabobokan semesta, padahal satu jiwa yang menunggumu— aku— kau biarkan tergeletak di altar gelap. Bumi purba berguncang, meremukkan mamut yang tertidur. Langit hitam runtuh, menjatuhkan hujan batu tanpa ampun. Dan engkau— lelaki yang seharusnya menggenggam tombak— lebih suka duduk di ambang gua, mencatat alasan di dinding cadas, bukannya berperang malah malas. Rimba tak terbakar menjalar diam-diam, akar-akar liarnya menjerat segala jalan, menggulung sabar yang tersisa hingga dadaku dipenuhi alasan-alasanmu yang purba Kau bilang aku jangan menunggu, namun kau memanggilku kembali denga...

HALAL HARAM HANTAM

Halal Haram Hantam Iman,. dulu ia bintang penunjuk jalan, naik-turun bagai ombak, kadang redup, kadang menyala. Kini ia jadi lampu diskotik— berkedip hanya ketika musik dunia berdentum, padam kala sunyi menuntut kesetiaan. Dunia ini panggung megah sandiwara, tirai langit terbuka, bumi jadi teater. Manusia berdiri sebagai aktor penuh topeng, lidahnya berdzikir, tangannya sibuk menakar dosa.  Dan naskah paling laris hari ini: halal haram hantam mantra sakti yang membuat semua larangan tampak sah. Riba menjelma malaikat palsu berjubah bunga indah di papan iklan, zina dicat dengan warna cinta neon yang berkilau, arak menetes bagai air surga di gelas kristal hotel berbintang. Yang haram dipuja layaknya mukjizat modern, yang halal diejek sebagai barang kuno. Kuno seperti doa ibu. Oh, betapa agungnya kita menyembah notifikasi! Azan berkumandang, namun kita lebih setia pada dering pesan. Sajadah jadi permadani dekorasi, kitab suci jadi latar estetik di ruang tamu— sementara hati lebih rela...

Turi

Bunga turi tidak pernah menunggu musim pesta. Ia tidak mengemis panggung, seperti manusia yang kerap menuntut sorotan hanya untuk sekadar dianggap ada. Ia mekar di halaman sunyi, tanpa karangan bunga, tanpa orkestra. Dan ajaibnya, ia tetap tumbuh— sementara manusia sering layu sebab sanjungan tidak datang tepat waktu. Orang-orang singgah, memetik kelopaknya untuk sayur menyisipkannya di kenduri seakan-akan hidupnya hanyalah pelengkap nasi. Lalu pergi begitu saja, tanpa pamit, tanpa peduli. Namun bunga itu tidak pernah berkoar: ia tidak menuntut, tidak menuliskan elegi panjang tentang kepedihan, tidak pula meratap menagih simpati. Ia berdiri, rapuh tetapi tabah, sementara manusia kerap runtuh sebab disentuh angin gosip yang sepoi-sepoi. Manusia ingin diagungkan layaknya pohon jati, ingin dipuja sebagaimana beringin tua, padahal dirinya masih goyah hanya karena cibiran remeh. Bunga turi paham letak cukupnya. Ia tidak bermimpi menjadi legenda, cukup menjadi penopang sederhana, memberi gun...

Badut dan pisaunya

Hidup ibarat badut. Tertawa lantang dibawah sorot lampu, sementara darah merembes perlahan dibalik senyum yang dipaksakan.. Begitulah dunia bersenda gurau: melukai, lalu menuntut kita menghibur, seakan derita hanyalah atraksi, air mata sekadar cat wajah panggung. Kehidupan, sutradara licik, mengarahkan lakon tanpa bertanya, menghias wajah dengan tawa palsu, hati koyak dalam diam. Pisau dilempar dengan presisi, selalu menancap di dada, penonton bersorak riang sementara luka dijadikan lelucon. Yang melukaiku bersuka cita, resah kupeluk erat seperti batu terikat di punggung— berat, bisu, namun tak terpisah dari langkah. Lucu, sungguh lucu: susah ditambah susah, tak mencari masalah, masalah datang, seperti hadiah busuk yang dipaksa kuterima. Hidup itu memang lucu: Menjual sabar di pasar sepi, tak ada yang peduli, membagi luka bagai brosur murahan, dilempar ke jalan sunyi. Manusia tampak jenaka, mengemis tepuk tangan basi, mengira sandiwara reyot itu panggung surgawi, nyatanya cuma sirkus m...

Benih yang tak pantas tumbuh di ladangmu

Kau adalah ladang yang setia pada musim: menerima hujan tanpa mencaci, menyimpan kemarau tanpa retak. Segala yang datang kau baca dari arah angin, segala yang pergi kau lepas seperti daun kering. Kesedihan bukan musuh bagimu; ia tumbuh diam sebagai akar— menguatkan tanah saat langit lupa cara setia. Lalu aku datang sebagai benih gugur dari pohon patah— membawa celah masa lampau yang kupendam dalam kepasrahan. Kukira aku akan tumbuh, memberi hijau— tapi kecambahku rapuh sejak biji, dan jamur menyusup ke ladangmu yang tabah. Sejak itu, langitmu langitmu tak lagi biru.  Petir lebih sering singgah, dan hujan tak lagi memeluk— hanya menghantam. Namun kau masih berdiri, menghamparkan tanahmu bagiku, seolah musibah yang datang bukan karena aku, melainkan karena musim lupa caranya lembut. Tapi aku tahu: aku datang bersama musim buruk, dan ladangmu mulai lelah menjadi tanah bagi benih yang tak tahu cara hidup. Maaf— aku datang tak utuh, dan berharap ladang melengkapiku. Jika kau ingin menca...

Di Ujung Dahan Sunyi

Aku tak lagi menghafal arah angin, sebab aroma yang dulu kupuja telah larut dalam waktu yang tak bisa kupeluk. Ada wangi yang tinggal di udara, tapi tak pernah benar-benar turun menyentuh sarangku. Ia hanya singgah di hidungku, tidak di hatiku. Barangkali aku pernah terlalu berani, menerka musim mekar tanpa peta, menawar pada kelopak yang telah dijaga semesta, dengan madu yang bahkan belum sempurna kuramu. Aku—lebah. Bukan pahlawan dalam puisi, bukan perayu bunga yang rajin menulis janji di kelopak. Aku hanya tubuh mungil yang mencoba bertahan di antara bunga-bunga yang bicara dalam bahasa yang tak kumengerti. Lalu aku pergi. Bukan karena diusir, tapi karena tak ada ruang selain diam yang makin tipis. Aku belajar berhenti mencari dalam kebisingan warna, dan mulai mendengar suara dalam teduh yang sunyi. Kutatap kelopak yang tidak menari untukku, namun tak juga menjauh. Ia tidak mengisyaratkan tempat, hanya kehadiran. Dan ternyata, itu cukup untuk membuatku duduk sejenak, melipat sayapku...

Pohon kelapa

Tegak di ujung pasir, dipuji karena berdiri, dikutuk karena sunyi. Laut berteriak seperti anak manja, angin datang—menampar, pergi—seolah bijak, menyisakan luka yang disebut “keteguhan.” Kulit keras dianggap tak retak, padahal di balik sabut kasar mengalir getah letih, ingin rebah, tanpa perlu meminta izin bumi. Tak pernah melangkah, namun letih seperti menempuh padang panjang. Tak pernah mengangkat batu, namun berat menahan gugur daun— setiap helaian gugur adalah cacat luka yang tak pernah dicatat doa. Awan boleh bebas melarung air mata, lalu dipanggil indah: hujan. Sedang kelapa— ditunggu hanya saat haus, ditinggalkan hanya tempurung kosong. Tak seorang pun bertanya, “Apakah batangmu baik-baik saja saat angin malam meremasmu seperti penghakiman tanpa sidang?” Kesepian berbisik lirih, tak cukup keras untuk disebut derita, tak cukup penting untuk diingat siapa pun. Berdiri. Diam. Mendengar, tapi tak didengar. Menanti, tapi tak ditanya. Dan sialnya, tetap disebut “kuat.” Dunia mencintai...

Diam Tak Berarti Kalah

Ada diam yang bukan hening— melainkan altar, tempat gelombang-gelombang batin bersujud tanpa suara. Tapi jangan salah, diam bisa menyala. Ia menyimpan gelegar yang menolak meledak demi jiwa yang tetap utuh. Ada langkah yang tak meninggalkan jejak, namun diam-diam mengubah gurun menjadi taman di tempat yang tak pernah kau jamah. --- Keteguhan bukan keras. Ia adalah lembut yang tak bisa dilipat. Ia tidak menonjol, namun menjulang— seperti akar yang menolak terlihat, namun diam-diam menggenggam akar dunia dalam senyap. --- Mereka menuduh: “Kau tak membela.” “Kau tak bicara.” Padahal, kau sedang menulis puisi dengan luka, menyulam sabar dengan benang langit, di halaman sunyi yang hanya Tuhan bisa baca. --- Lidah bisa berdusta. Tapi diam? Ia tidak bisa. Karena ia tahu— betapa dalamnya laut yang di permukaan tampak tenang, tapi di kedalaman menyimpan badai yang tak bernama. Diam tahu: tak ada yang lebih kuat dari jiwa yang tidak merasa perlu membuktikan apa pun kepada siapa pun. --- Kau adal...

Gelanggang gensi

Gemawan belum pecah, namun langit sudah menampung sabda yang tak sempat diturunkan. Pendhapa Agung menahan napas, saat dua kehendak duduk di singgasana kehormatan yang saling meninggi. --- Satu datang dari tanah tinggi Parahyangan, membawa putri bak ratna manikam, dihantarkan bukan sebagai persembahan, melainkan sebagai kawin akal dan rasa, antara dua kadatuan yang hendak bersetia. --- Namun Surya Majapahit tak menyambut dengan kidung, melainkan dengan gelap di antara aling-aling, di mana sabda disimpan dan prasangka dibiarkan menjelma pusaka. --- Yang semestinya menjadi pisowanan agung, berubah menjadi ajang pengukuhan takhta. Yang semestinya menjadi pelabuhan cinta, berubah menjadi gelanggang gengsi. --- Keris pun mencium tanah sebelum hati sempat bicara. Dan suara gamelan tak lagi menari di udara, melainkan bergema sebagai duka di sela gapura yang menahan arwah. --- Wahai yang mendengar, ketahuilah: tak semua kemenangan harum baunya. Kadang yang kau menangkan hanya kehormatan semu y...

Peradaban dalam dirimu

Kau gelisah, pada masa depan yang belum terlihat, pada langkah-langkah yang masih gamang, pada jawaban yang belum kunjung datang. Seolah semua beban dunia harus kau pikul sendiri, tanpa jeda, tanpa penuntun. Kau merasa tertinggal, seakan segalanya harus selesai hari ini. Tapi, pernahkah kau melihat bagaimana sejarah berjalan? Mesir Kuno—peradaban agung itu— membangun piramidanya selama puluhan tahun, dengan batu yang berat dan sabar. Setiap susunan tak pernah keliru tempatnya, karena yang besar, selalu dimulai dari kecil yang konsisten. Romawi, tak lahir dalam sehari. Ia tumbuh dari desa sederhana menjadi kekaisaran yang mengatur dunia, karena waktu dan visi berjalan beriringan. Tiongkok membangun Tembok Besar bukan dalam terburu-buru, tapi dalam pengabdian antar generasi. Tak ada batu yang sia-sia, semuanya ditata dengan tujuan menjaga masa depan. Dan Yunani, tempat lahirnya filsuf dan pemikir dunia, tak tiba-tiba dipenuhi cahaya. Ia belajar dari mitos, dari kegagalan, dari debat panj...

Patung Di Tepi Sungai

Di tepi Eufrat —— airnya berkilau seperti kitab yang belum selesai ditulis, Mesopotamia menyalakan api pertama di altar tanah liat, lalu menggenggam patung kecil dari batu lunak: perempuan berperut bulat, payudara meledak seperti musim panen, pahanya akar bumi yang menghisap rahim semesta. Mereka menunduk, menyembah pada kesuburan, pada tubuh. yang tak hanya tubuh. --- Tetapi sejarah selalu membenturkan ketuhanan dengan kekuasaan. Di satu sisi: suara ibu-ibu yang memintal benih, di sisi lain: raja yang menuntut tentara,benteng,pajak. Patung itu berdiri di antara dua dunia: suara rahim dan suara pedang. --- Kini, aku membaca tubuhmu seperti prasasti patah: setengah doa, setengah kutukan. Engkau,patung kesuburan yang dipajang dalam museum sunyi: dilihat dengan tatapan turis, diabadikan kamera, tetapi tak lagi disembah. --- Namun aku masih percaya, setiap retakan di pahatanmu adalah peta perjalanan manusia: dari sawah yang basah, ke istana yang tamak, dari pelukan ibu, ke pekik peperangan...

Rahim Kering Di Antara Dua Sungai

Di antara dua sungai —Efrat dan Tigris- lahirlah peradaban, di mana lumpur dan air bersekutu melahirkan gandum, kota-kota berdiri seperti doa yang terkabul, dan manusia menyebut tanah itu subur. Diantaranya. terdapat gubuk doa dan istana raja, ada patung-patung kecil dari tanah liat, perempuan gemuk, dada menonjol, pinggul lebar- figur kesuburan dihadirkan,disentuh,dimohonkan, agar bumi tetap beranak, agar rahim tetap berdoa. Lihatlah, orang-orang Mesopotamia menari di sekeliling simbol itu, dengan harap: panen tak gagal, anak-anak lahir, nama keluarga tidak punah. Tetapi- di dalam sejarah yang sama, seorang perempuan tua, namanya Sara, tanah kering adalah rahimnya gersang,serupa padang di mana angin hanya membawa debu. Bayangkan, peradaban diapit sungai, namun ia sendiri terkurung di padang rahim yang kering: Mesopotamia menumpahkan sungai, Sara menampung kesunyian. Dunia berbuah gandum, ia berbuah kecewa. Orang-orang menyalakan dupa untuk patung kesuburan, doa terderai tanpa jawaban....

Akulah yang tetap tinggal

Aku pernah menjadi tanah yang menampung hujan, Basahnya tak menyakitkan, Tapi lama-lama longsor juga. Sebab rintik pun tahu caranya menggurat luka. Pernah kupelajari cara dunia bicara, Tak lewat suara, tapi lewat kehilangan tiba-tiba. Maka saat engkau bertanya, “Apakah aku takut kehilanganmu?” Ketahuilah— Tanganku terbiasa menggenggam yang akhirnya melarung. Aku tetap ingin menjagamu, Seperti langit menjaga sisa jingga setelah matahari pulang, Tak ada jaminan terang, Namun masih ada sisa warna yang enggan hilang. Engkau mungkin tak melihat, Tapi aku berdiri di tengah gempa yang tak terdata, Menjadi sunyi yang menyangga reruntuhan, Menjadi kabut yang tak pernah cukup padat untuk ditangkap, Namun tetap menyelimuti pagi agar ia tak merasa telanjang. Siapa bilang retakan hanya milik benda pecah? Hatiku pun telah memuat celah, Namun namamu tinggal di sela-sela— Tak tergoyah, tak tergantikan. Rasa ini tak butuh alasan, Ia hidup seperti api kecil di dasar danau beku, Tak tampak, tak dipuji, N...

Dariku untuk Aku

Tanganmu hanya sepasang, dan itu pun telah cukup melelahkan untuk sekadar memeluk dirimu sendiri, pada hari-hari yang terasa terlalu panjang. Maka, jangan kau paksakan menggenggam segalanya— duka yang bukan milikmu, harapan yang tak pernah dititipkan padamu, dan luka-luka lama yang bahkan tak pernah kau torehkan sendiri. Kau bukan penjaga semua perasaan. Tidak wajib menjadi pelipur bagi kesedihan dunia. Kau berhak memilih apa yang ingin kau simpan, dan apa yang perlu kau lepaskan, dengan tenang, tanpa rasa bersalah. Kau tidak harus kuat setiap waktu. Namun, ingatlah: lemah bukan berarti kalah, dan hancur bukan berarti usai. Dunia tidak akan berhenti berputar hanya karena jiwamu sedang hancur.  Matahari tetap akan terbit, meskipun kau memilih berdiam di balik tirai kamar dan keraguan. Tak apa. Hari ini, kau boleh merasa cukup dengan bernapas. Dengan membuka mata, dan tak menuntut diri untuk terus menjadi jawaban. Peluklah dirimu dengan segenap kasih yang mungkin belum pernah kau ter...

Tak Lagi Kuat

Hamba pernah mencoba menanggung semuanya sendiri, dengan kedua tangan yang gemetar, dengan hati yang compang-camping oleh harapan yang selalu hamba tambal, Namun terus robek lagi. Setiap pagi hamba bangun, memakai wajah yang tak pernah jujur pada dunia. Tak ada yang tahu, bahwa senyum ini adalah upaya terakhir untuk tidak runtuh di hadapan mereka. Hamba ingin menjadi kuat— Namun, kekuatan itu perlahan menjadi kutukan. Semua datang untuk bersandar, tapi hamba tak pernah punya tempat untuk bersandar balik. Hamba menjadi rumah yang tak punya atap untuk dirinya sendiri. Ya Allah, hamba tidak sedang memberontak, hamba hanya… sangat lelah. Lelah menjadi yang selalu bisa, lelah menjadi yang tak boleh salah, lelah menjadi penampung luka yang bahkan tak sempat mengobati lukanya sendiri. Jika hidup adalah laut, maka hamba ini perahu kecil yang sudah lama kehilangan dayung dan hanya terbawa arus, berharap tidak karam, meski tahu tak ada daratan dalam waktu dekat. Hamba sadar, hamba bukan hamba ya...

Bayangan dibawah lampu jalan

Aku berjalan seperti bayangan di bawah lampu jalan, Berwujud, tetapi tak pernah dianggap ada. Setiap langkahku kosong, seperti suara yang ditelan lorong panjang tanpa ujung. Aku merasa terlalu berdosa untuk mati, namun hidup ini terlalu sempit untuk menampung luka. Kekuatan yang tampak hanyalah topeng kaca, retak sedikit, pecah semua Aku ingin dipeluk, Namun tak ada siapapun Maka wajar aku diasingkan, seperti batu jalanan yang ditendang kesegala arah. Maka wajar aku disepelekan, seperti bunga liar yang diinjak sebelum sempat mekar. Kesedihan menempel seperti tanah basah di telapak kaki, tak bisa dibersihkan, selalu mengikuti ke mana pun pergi. Aku menaruh maluku di bawah bantal, dan menyembunyikan air mataku di balik tirai malam. Aku menulis doa tanpa alamat, mengirimkannya pada langit yang terlalu jauh untuk menjawab. Aku berbisik pada cermin, namun yang menatap balik hanyalah wajah letih yang asing. Aku lelah, sampai kata-kata kehilangan makna. Aku kosong, sampai senyum terasa sepert...

Tragedi yang kurahasiakan

Di panggung bernama hari, aku berdiri bertopeng— senyumku di poles. Tipuan, siap pamer. Di balik wajah, jantungku mengamuk, menuntut bicara. Lentera ini kehabisan minyak, namun dipaksa menyala— agar mereka tidak terjungkal. Siapa peduli apiku hampir padam, ditelan malam yang rakus? “Tak apa”—kunci palsu menutup peti serpihan kaca; kaca itu menari, melukai daging ketika ada yang asal membuka. Kadang aku ingin jadi hujan, turun tanpa alasan. Tapi di tanah ini, air mata dipanen jadi komoditas, dijual di pasar gosip, untuk membakar aku sendiri. Jadi, aku bungkam. Kupelihara Naga di dada— biar ia menggeram di perut bumi, tidak boleh terbang. Jika lepas, mereka akan menjerat lehernya, menjadikan apiku tontonan, lalu meninggalkanku jadi abu. Aku murka pada mereka yang menikmati tragedi lebih dari doa. Marahku pada topeng yang tak mau lepas— aku ingin merobeknya, memamerkan guratan yang lama dirahasiakan. Jika ada satu telinga tulus, jadikan sumur—diam, simpan, jangan di jual. Hingga hari itu ...

Maafkan aku, Tuan

Jika aku terlihat acuh, bukan berarti aku tak peduli. Aku hanya terlalu terbiasa menyimpan banyak hal dalam diam, hingga lupa bagaimana caranya menunjukkan perhatian sederhana. Saat aku mencoba peduli padamu, ada rasa bersalah yang tiba-tiba tumbuh— seperti sedang meninggalkan diriku sendiri yang telah lama kutelantarkan tanpa sengaja. Aku pun tak ingin menyalahkanmu. Sebab aku tahu, aku bukan tanggung jawabmu. Setiap saran yang kau ucapkan, sudah kucoba dengan sepenuh hati, namun tetap saja tak membawa hasil. Maafkan aku, Tuan. Kadang aku merasa kasihan padamu, karena harus memiliki aku— seseorang yang rapuh, yang bahkan pada dirinya sendiri pun sering gagal memberi arti. Maka bila aku tampak menjauh, jangan anggap itu penolakan. Anggaplah itu caraku merawat luka yang belum sembuh, sambil berharap, suatu hari nanti, aku bisa belajar memberi dengan lebih tulus— bukan hanya untukmu, tapi juga untuk diriku sendiri. ___________ Ditulis oleh: Sarah Bneiismael 

IRONI SANG PUJANGGA

Engkau pandai merangkai diksi, laksana tukang tenun yang menabur benang keemasan di permukaan kain. Indah rupanya, namun rapuh. Seratnya mudah koyak oleh sentuhan kecil. Kau berdiri di hadapan khalayak, menegur dengan suara lantang, menjatuhkan keberanian orang lain seperti raja yang menolak persembahan rakyatnya. Namun, lihatlah ironi itu— seorang raja tanpa takhta, berdiri di singgasana, Dipuji oleh egonya sendiri. Aku pun bersyukur, tak pernah menadah cinta dari hati yang hanya pandai menabur kata namun gagal menumbuhkan Cinta. Apa arti manis untaian kalimat, jika tak sanggup mengangkat derajat orang di sekitarmu? Apa guna keelokan syairmu, jika setiap baitnya hanya mengkerdilkan mereka yang kau nilai tak pantas bersuara. Kau ingin dipuja, namun semakin kau bicara Membuatku semakin miris Seperti burung yang bersuara merdu, tetapi sayapnya patah dan tak pernah sampai ke langit.. Sungguh, Menyedihkan. Maka turunlah dari mimbar, jangan lagi kau jadikan panggung sebagai cermin kesombong...

Silahkan pergi, Tuan

Hari ini, aku pergi. Aku yang menutup pintu. Aku yang melepas diri dari dunia yang kau kendalikan. Aku memilih udara sendiri, tanpa harus menyesuaikan diri dengan egomu lagi. Aku lelah. Lelah mengikuti semua kemauanmu, Lelah mengalah demi keinginanmu. Lelah memberi hati, waktu, hidupku, hanya untuk disepelekan. Hanya untuk diabaikan. Hanya untuk dikucilkan. Aku pernah menyerahkan segalanya padamu, dan kau menatapnya seakan itu biasa saja. Sekarang aku tersadar. Cinta sejati dimulai dari diri sendiri. Aku memilih melepaskan. Bukan karena kau lebih baik atau pantas, tapi karena aku lebih berharga daripada semua yang telah kau sia-siakan. Aku yang menentukan batas. Aku yang menutup ruangmu di hatiku. Aku yang berjalan tegak, bebas, tanpa beban. Pergilah, Tuan. Bawa semua kebingungan dan kesombonganmu. Aku tidak menahanmu. Aku tidak menoleh ke belakang. Aku tidak akan menjelaskan atau membuktikan lagi. Aku sudah cukup lelah melayani ego yang tak pernah puas. Aku melepaskanmu, sebagai bukti...

Kutitipkan hatiku yang remuk, kepada Mu

Aku berjalan di lorong dunia yang panjang dan penuh duri, Setiap langkah menoreh luka, setiap napas terasa berat. Hujan tak henti menampar wajahku, angin mengguncang hati, Dan aku merasa tak ada lagi yang bisa kuharap, selain Engkau, Ya Allah. Aku teringat Nabi Yunus a.s., terjebak dalam gelapnya perut ikan, Sendirian, kesepian, hatinya tercekik oleh penyesalan yang dalam, dan ia berkat dengan lirih:  "Lā ilāha illā anta, subḥānaka innī kuntu minaẓ-ẓālimīn" Aku membayangkan dirinya menangis dalam kegelapan yang menyesakkan, Hanya bisa memohon pada-Mu, meratap dalam sepi, Seakan dunia ini lenyap, hanya ada keputusasaan dan doa yang tersisa. Seperti Yunus, aku merasakan dada ini terhimpit, Setiap kesalahan dan kecewa menekan sampai nyeri, Aku ingin menyerah, ingin pulang, ingin tenang dalam pelukan-Mu, Engkau yang maha tau setiap ketidak kemampuanku. Aku meneladani Nabi Musa a.s., berdiri di tengah kebingungan dan tantangan besar, Melihat jalan yang rumit, bebannya terasa tak t...

Nyatanya Perempuan Itu

Sesungguhnya, perempuan itu tidak takut dihadapkan pada kerasnya hidup atau sulitnya hari. Ia sanggup menapaki jalan yang berbatu dan menahan lelah di bawah terik dan hujan Yang membuatnya gentar bukanlah kesulitan itu. bukan pula kehilangan atau kemiskinan Melainkan kata yang tajam, suara yang meninggi, atau hati yang mengukur setiap kebaikan dengan sempit Ia takut bila perlakuanmu tanpa rasa adil, bila kehadirannya dianggap beban, bukan anugerah. Bukan amanah yang harus dihormati. Ia takut bila cintamu tak bersumber dari kasih dan sabar Nyatanya, perempuan itu kuat. mampu menahan gelombang sedih, menyongsong gelap dengan harapan, dan tetap menapaki hari dengan doa di hati Maka berbicaralah dengan lemah lembut, berlaku dengan tulus dan penuh pertimbangan. Karena setiap kata yang bijak menenangkan jiwa dan setiap senyum yang ikhlas menghadirkan damai Nyatanya, perempuan itu tidak takut hidup susah. Ia hanya berharap hatimu cukup luas untuk menampungnya, menampung orang lain dan menampu...

PUISI BUKAN KODE

Nulis puisi dikira sindiran, padahal nyindir kamu tuh effort. Sementara aku aja males nyindir nyamuk di kamar. Nulis puisi dikira kode rahasia, kayak aku agen intel cinta gitu. Eh plis, kode WiFi rumah aja sering aku salah masukin, masa iya aku niat kasih kode hati ke kamu? Baper tiap baca atau dengar puisiku? Waduh… berarti kamu lagi ngerasa penting sendiri, kayak mic di karaoke yang suaranya fals, tapi tetep pede bilang “ini laguku banget.” Dan yang lucu, yang pernah salah sama aku merasa paling diserang, padahal puisiku lagi ngomongin kucing tetangga, bukan dosa-dosamu yang segede gorengan pinggir jalan. Yang suka sama aku malah nganggep ini kode cinta, padahal kalau aku suka balik, udah dari dulu nge-chat:  “Udah makan belom?” Haha Nggak perlu pake metafora berlapis kayak kulit bawang. Jadi tolonglah ya, jangan GR kalau baca atau dengar puisiku. Kalau pun nyindir, percaya deh, kamu nggak spesial buat dijadikan inspirasi. Kalau aku beneran nyindir kamu, aku nggak bakal pake puis...

Kudeta perasaan

Pernah berdiri kerajaan rahasia. tahta perasaan bertengger pada singgasana sunyi. Mahkota rindu bercahaya seperti permata purba, namun satu demi satu, runtuh oleh kudeta yang tak pernah terlihat mata. Suatu takhta digugurkan restu, diremukkan titah tua yang tak terbantah, perasaan ditawan di ruang takdir, ditutup mulutnya, dikunci pintunya, tak lagi berdaulat atas dirinya sendiri. Mahligai lain ditumbangkan agama, dengan palu suci yang membelah asmara, menyalibkan rasa yang memberontak, mengganti pelukan dengan hukum abadi, mengganti desir hati dengan naskah suci. Sebuah istana dirampas teman, senyuman berubah jadi pisau perjamuan, janji-janji di meja persaudaraan menjadi racun yang mengikis dasar perasaan, hingga dinding hati retak tanpa suara. Banyak kerajaan kecil di dada manusia telah direbut, dilucuti, digulingkan, satu oleh restu, satu oleh dogma, satu oleh pengkhianatan, satu oleh dunia, hingga tinggal reruntuhan sunyi yang berserakan bagai prasasti patah. Namun dari kudeta yang...

Pelukan dari dalam

Wahai jiwa yang kerap tergores, jangan engkau merasa sendirian di persimpangan sunyi. Ada dirimu sendiri yang selalu setia, menjadi saksi luka, menjadi sandar bagi resah. Aku tahu, engkau telah menelan pahit yang begitu banyak. menghadapi gelap tanpa pelita, namun tetaplah percaya: di balik rapuhmu, tumbuh sekepal harapan yang tak pernah padam. Rangkul dirimu—seperti seorang ibu memeluk anaknya, seperti tanah menerima hujan tanpa bertanya mengapa. Kuatlah, bukan untuk dunia yang acap lalai, lakukanlah untuk dirimu yang tak boleh kau khianati. Ingat, hati yang teguh adalah benteng sunyi, dan batin yang tabah adalah perisai abadi. Biarkan dunia melempar batu tanpa henti, kau harus tetap berdiri, meski bergetar dan sendiri. Aku bisikkan berulang kali: sehatlah tubuhku, sabarlah jiwaku, kukuhlah hatiku— sebab aku layak bertahan, aku pantas merasa tenang. Dan ketika esok mengetuk dengan wajah baru, sambutlah dengan senyum yang lahir dari dalam. Karena mencintai diri sendiri adalah keberania...

Bulan, Tuntun Aku Pulang

Bulan, tuntun aku menembus malam yang pekat, Di mana lampu-lampu kota menari tanpa henti, Namun tak satupun menembus rongga hati yang sunyi. Rembulan, jadilah pelabuhan di samudra sepi, Tempat jiwaku bersarang, berlabuh dari hiruk dunia. Aku adalah daun yang terlepas dari rantingnya sendiri, Terbawa arus keramaian tanpa arah, Namun dalam sepi, aku menemukan akar, Menyatu dengan malam, menyerap cahaya yang redup. Biarkan musik kota berdentang seperti gelombang jauh, Aku hanyut dalam tempo yang lambat, Mengukir diamku sebagai mantra, Menyulam ruang kosong menjadi selimut ketenangan. Bulan, bisikkan padaku bahasa rahasia para bintang, Yang tak bisa dimengerti oleh kaki yang tergesa, Ajari aku menyeberangi malam tanpa tersesat, Menjadi bayang lembut di antara desir angin dan cahaya. Setiap detik yang lewat adalah kristal yang rapuh, Aku genggam dengan jemari yang gemetar, Tak ingin dilepas, tak ingin terganti, Karena sunyi ini bukan kekosongan, Melainkan samudra di mana aku belajar memaham...

MENUJU DIRIMU

Kenalilah dirimu, selami apa yang kau cintai, apa yang menyalakan gairah dalam tiap tarikan napas. Hobi, minat, kekuatan yang tersembunyi, itulah petunjuk yang lembut namun tegas dari hatimu sendiri. Dengarkan hatimu. Jangan takut menatap cermin kehidupan, jangan ragu menelusuri jalan yang belum kau pijak. Zona nyaman hanyalah ilusi hangat, dunia menunggu langkahmu yang berani. Ambil satu langkah. Setiap kegagalan adalah guru yang setia, setiap kesalahan adalah cahaya yang membimbing. Berani mencoba bukan tanda kesombongan, melainkan bukti bahwa kau menghargai hidupmu sendiri. Belajar dan tumbuh. Jadilah dirimu, bukan tiruan dari harapan orang lain, biarkan hasratmu menjadi kompas, senyummu jadi peta. Di sanalah kau menemukan arahmu, di sanalah sinyal itu muncul—bisikan dari masa depan: Ini jalanmu. ini waktumu. Bangkit, melangkah, temukan, dan ciptakan, hidup bukan tentang menunggu kesempatan, tetapi menyalakan cahaya dalam diri sendiri dan membiarkan dunia menyaksikan pancarannya. Pa...

HARGAI DIRI

Tubuhmu adalah rumah jiwa, rawatlah ia dengan kasih, dengan sabar. Setiap napas adalah anugerah, setiap langkah adalah kepercayaan yang harus dijaga. Pikiranmu adalah kemudi perjalananmu, hargai setiap ide, setiap bisikan hati. Isi dengan ketenangan, dengan kebijaksanaan, supaya keputusanmu lahir dari damai, bukan tergesa. Hatimu adalah pusat segala rasa, perlakukan ia dengan lembut, dengan hormat. Jangan biarkan amarah atau lelah merusak cahaya di dalamnya. Dengarkan ia, percayai ia, karena ia tahu arah kebahagiaan yang sejati. Lelah dan susah itu bagian hidup, namun jangan biarkan ia merusak perhatianmu pada diri sendiri. Beristirahatlah dengan penuh hormat pada tubuh, pikiran, dan hati, sebab merawat diri adalah tanda cinta dan penghargaan pada kehidupan. Jaga tubuhmu, pikirkan dengan bijak, hargai hatimu, karena di sinilah kehidupanmu berpijak, di sini jiwamu belajar untuk bersinar, dan setiap langkah yang dirawat dengan hormat akan menuntunmu pada kedamaian. _____________ Ditulis ...

Melebur Lara

Duhai Puan, jelita titisan Dewi, Sudikah kau pangku harap yang merajut belenggu di dada, menjalar ke sudut kepala? Kau rapalkan mantra pemabuk sukma, menyulap luka menjadi bayang semu tanpa rasa. Aku bersimpuh di hadapan kenyataanmu, tentang terang yang kehilangan makna, tentang rindu yang dihunus sepi, dan harapan yang enggan menari dalam sunyi. Puan, rona senyummu selaksa jingga di ufuk senja, namun tetap tenggelam di penghujung cerita. Aku menabur harap di setiap jejak yang kupijak, berharap namamu abadi dalam kidung semesta. Namun deras hujan lebih dulu tiba, menghapusnya tanpa sisa, menjadikannya tiada. Duhai Puan, Jika cinta adalah mantra yang kau rapalkan, aku telah terjerat jaringnya, terkurung dalam pusaran yang tak kunjung reda. Namun jika cinta bagimu ilusi fana, biarlah aku meluruh bersama angin senja. Aku menelusuri waktu, mencari jejak yang kau tinggalkan. Barangkali sepotong rindu masih tersisa, namun ternyata hanya kehampaan yang bersisa, seperti perahu tua karam tanpa ...

Aku Menghianati Rasamu

Aku telah menghianati hati ini Aku membuatmu menahan rasa perih sendiri Aku membiarkanmu menjatuhkan air mata membasahi pipi Lalu, dengan teganya aku telah mengakhiri Maafkan aku Aku harus melepaskanmu Meninggalkan setelah bertemu Menyisakan bayangan semu Membuatmu menahan rindu Yang selalu kamu tunggu Didalam pikiranmu itu Sehingga berakhir dengan pilu Sebenarnya Aku tak mampu melakukannya Yang membuatmu terluka Aku tak mampu melakukannya Yang membuatmu kecewa Aku tak mampu melakukannya Yang membuatmu merana Aku telah berdusta Kepadamu yang aku puja Dan kini aku menghianati rasa Kepadamu yang aku cinta ___________ Karya: Tuan☕ (Kopi) Jakarta, 1 Oktober 2023

SUARA RAKYATMU

Wakil rakyat seharusnya merakyat Jangan tidur waktu sidang soal rakyat Wakil rakyat bukan paduan suara Hanya tahu nyanyian lagu setuju Hey wakil rakyat Dengarlah... Dimana janji janji mu Ketika kau meminta suara kami Untuk kepentingan pribadi Hey wakil rakyat Lihatlah... Kini kau telah mendapatkannya Tapi rakyatmu masih menderita Hidupnya kian merana Mencari uang kemana mana Mencoba meminjam ke para tetangga Dan kau malah asik makan direstoran mewah disana Bersama pengawal dan pengikut yang setia Hey wakil rakyat Dengarlah... Suara jeritan rakyatmu menahan lapar Walau harus diudak udak aparat yang sangar Meski pun mendapatkan luka memar Kau malah asik bernyanyi dalam kamar Bersama teman teman dan sang penghibur yang kau bayar Hey wakil rakyat Lihatlah... Tangisan para wanita yang rela menjual diri Untuk bertahan dalam negri Bahkan kau pun ikut mencicipi Untuk memuaskan nafsu birahi Liahatlah rakyatmu yang rela berjam jam untuk mengantri Walaupun harus melupakan harga diri Dan kau malah...

KAU PELABUHANKU

Puan, Kau kulupakan, namun nyata dalam ingatan. Rasaku merayap di lekuk tubuhmu, seperti malam menempel pada bumi, membawa panas yang membakar, namun menenangkan, menjadi pelipur bagi kesepian yang kau sembunyikan di balik senyuman. Puan, sudi kiranya aku meramu pilu, merajut asa, menghapus luka yang bersemayam dalam binar matamu Bila cintamu adalah telaga suci, izinkan aku meneguk setetes rindu dalam rona jingga matamu. Menyerap setiap detakmu, menelusuri rahasia yang tak terucap. Puan, tatapmu teduh, meluruhkan hati. Pelukku menutup celah dunia, tanganku menangkap gelisahmu, Menghapus lelah yang kian menepi. Tubuhmu, pelabuhan dalam gejolak. Jejak rindu menempel, tak bisa kau hapus. Setiap napasmu: racun sekaligus obat. Manis memabukkan, gila menenangkan. Kau, Pelabuhan tempat rinduku dilabuhkan. ______ Naskah ini. Digagas oleh Pororo, diperdalam oleh Sarah Bneiismael, dan disempurnakan oleh Tuan Kopi Note: Naskah ini termasuk puisi bebas, karena tidak terikat aturan baris, bait, ata...

Kepada diri

Hidup, sering kali hadir dengan pukulan yang tak terduga, mengguncang hati dengan hal-hal yang tak pernah kuinginkan. Namun kutahu, ia bukan datang untuk menjatuhkan, melainkan menuntun langkahku agar belajar berserah, bukan menyerah. Sepi, bukan tanda bahwa aku kehilangan, melainkan bisikan lembut kehidupan yang hendak menguji ketegaranku. Ia berkata lirih dalam diam: “Lihatlah, kemandirian sedang kau jalani. Kesendirian ini bukan kutukan, tetapi tempaan.” Aku teringat, hidup telah melatihku dengan cara yang luar biasa— mencetak luka menjadi pelajaran, membiarkan tangis menjadi penguat, dan menjadikan sunyi sebagai guru yang tak kenal lelah. Maka aku bertanya pada diriku sendiri: kapan terakhir aku menuturkan terima kasih kepada jiwa yang setia menuntunku sejauh ini? Kapan terakhir aku memohon maaf atas segala caci dan beban yang tanpa sadar kutimpakan padanya? Wahai diri, engkau yang sabar dalam diam, engkau yang bertahan di balik gemetar, engkau yang terus berdiri saat dunia menjatu...

MARTABAT

Aku pernah mengira, Menitipkan isi hati pada telinga manusia adalah cara terbaik dalam menenangkan gemericik. Namun setiap selesai bicara, lahirlah kegamangan: apakah ia menutup pintu setelah mendengarku, apakah wajahku kini disusun ulang menjadi wajah yang pantas dikasihani? Sungguh, dikasihani adalah kehinaan yang halus, semacam tepukan di bahu yang terasa seperti paku tak terlihat. Aku tidak ingin dilihat karena rapuh, aku ingin dipandang sebagaimana aku berdiri— karena masih ada hembusan terakhir yang setia, meski udara terasa berat. Maka aku berjalan ke arah kebun, menemukan pohon yang kurus, namun batangnya tetap tegak menolak tumbang. Kutautkan kepala ke batangnya, kutambatkan tangan pada kulit kasarnya. Ia tidak menilai. Ia tidak menimbang. Ia hanya diam—dan diam itu lebih dalam dari nasihat manapun. Angin lewat, menyentuh ranting, membuatku serasa diayun oleh sesuatu yang tak ingin disebut siapa. Di sana aku paham: tenang tidak mesti lahir dari percakapan, kadang ia tumbuh dar...

Pengembara Kata

Di lorong sunyi antara kertas dan tinta, Seorang pengembara kata menunduk, Menangkap gelora yang terselip di celah naskah, Meresap hikmat dari pandang yang agung. Namun, yang hadir bukanlah bimbingan, Melainkan teka-teki yang memutar akal, Dan kalimat panjangnya dicicipi seperti rempah di piring bangsawan yang tak pernah kenyang. Ia diminta menyingkatnya menjadi inti yang sempurna, Seolah sungai yang tenang tak pantas mengalir di antara pegunungan, Dan daun gugur yang jatuh di musim hampa tak pernah layak dianggap. Seribu kalimat bagai serpih hujan di atap senja, Disapu angin kritik yang tak bersuara, Menjadi pupuk tersembunyi di tanah, Seperti gelora yang tersimpan di dasar samudra: Diam, namun cukup kuat untuk menggerakkan arus yang bisu, Menjadi rimba sunyi tempat benih-benih sabar bersemayam. Pena tetap menari, Melintasi lorong-lorong, Menyulam huruf-huruf yang mencari ruang di antara penyingsing. Menjadi sinar bagi benih-benih yang tak tampak, Menjadi seperti rempah dalam sup kehi...

Kini biar aku | Lirik lagu

Aku tak marah, aku hanya terluka. Dipeluk saat kau butuh, dibuang saat bahagia. Kau datang saat gelap, lalu pergi di pagi yang hangat. Bukan karena aku jahat, tapi karena aku lelah. Bukan karena aku berubah, tapi kini biar aku yang aku jaga. Kupikir cinta adalah memberi, tapi kau ajarkan aku arti rugi. Kupikir setia adalah menanti, tapi kau tunjukkan arti dilupakan lagi. Kini biar aku… mencintai diriku. Menangis bukan lagi untukmu. Kini biar aku… memeluk hatiku, karena yang kau sisakan hanya debu. Bukan karena aku jahat, tapi karena aku lelah. Bukan karena aku berubah, tapi kini biar aku yang aku jaga. Kau tak tahu… berapa malam aku bisu, menahan rindu yang hanya aku tahu. Kau tak peduli… saat aku menunggu, kini aku pun belajar… untuk tidak menunggu. Kini biar aku… yang sembuhkan aku. Tak perlu lagi sosok palsu. Kini biar aku… yang jaga langkahku, tak lagi kuseret bayangmu. Bukan karena aku jahat, tapi karena aku lelah. Bukan karena aku berubah, tapi karena aku pantas bahagia… sendiri ...

Tabir penghianatan

Burung-burung mengepakkan sayapnya, paruh mereka menggenggam gulungan naskah Agung. Naskah terbuka di udara, seakan langit sendiri yang membacakan Titah: bahwa Seorang Putri bungsu akan berjalan di arak-kan cahaya, menuju singgasana, duduk bersanding dengan seorang Raja muda yang digadang sebagai penopang kejayaan Keluarga. Tiupan angin membawa kabar itu ke segala arah, hingga desa-desa kecil pun bergetar mendengar, bahwa akan ada pesta terakhir di istana keluarga yang sudah menua. Tiada seorang pun meragukan, bahwa perjamuan itu akan menjadi tanda kemenangan dan keharuman nama. Maka istana berhias. Tenda menjulang bagai benteng penantian. Lampion berderet, laksana gugus bintang diturunkan untuk menyaksikan. Meja-meja dipenuhi persembahan manis, seindah upeti bagi para tamu Agung. Segalanya disusun dengan hikmat. Tak ada halangan seolah janji itu tak mungkin terguncang. Namun— sebelum lonceng kemuliaan dipukul, sebelum genderang kejayaan ditabalkan, mata hamba dipaksa menyaksikan kenya...