Postingan

Menampilkan postingan dari Desember, 2025

Akhir tahun menanti pagi

Akhir tahun melangkah pada malam yang lembut, lapisan langit mulai mengungkap warna pagi. Segala upaya telah dituangkan dengan sepenuh hati, menundukkan diri pada setiap takdir yang menyapa lembut.   Beberapa harapan masih melayang di ruang antarbintang, ada pula yang meresapi dedaunan pagi. Tak perlu berkecil hati atau menyimpan beban dalam hati, semua adalah bagian dari jalan yang kita lalui.   Waktu membawa warna hidup, mengalir lembut dan tenang, menyimpan setiap detak di dalam sanubari. Kebahagiaan membuat hati riang, penuh semangat, kesedihan membuat mata seperti kolam embun malam.   Beratnya beban dan ringannya harapan telah dirasakan dalam-dalam, semuanya berkesan dalam cerita hidup yang kita miliki. Tak pernah ada yang sempurna. Yang terpenting adalah, kita tetap berdiri tegak dan melangkah dengan yakin ke depan.   Desember datang dan berakhir dengan kedamaian. Jadi, mari kita merenung dan melepaskan segala beban. Tak ada yang tahu apa yang akan menyapa esok...

Mari Menarik diri

Ada fase ketika kehadiran dijalani sebagai kebiasaan yang dinilai cukup.   Datang dengan langkah yang terukur, bertahan dengan hati yang masih menanti. Waktu diberikan, perhatian dijaga, ruang disediakan. Semua bergerak tenang, seolah arah akan menemukan dirinya sendiri.   Namun perjalanan tidak selalu berujung sampai pada tujuan. Kehadiran yang berulang dapat diterima tanpa pernah dipilih. Yang datang menjadi latar yang perlahan hilang konturnya, yang setia berubah menjadi asumsi yang tidak pernah diperiksa. Di sana, arti mulai dikikis—perlahan, tidak lagi diperhatikan.   Diam yang terlalu panjang seperti jurang yang terus membesar, Respon yang tertunda seperti kabar yang tak pernah datang. Kedekatan hadir hanya saat perlu, lalu menjauh begitu saja. Tidak ada penolakan yang jelas, tidak ada keputusan yang diucapkan.   Kesetiaan terus berjalan seperti ritual harian. Tenang. Konsisten. Menyerupai doa yang diulang tanpa pengeras suara— tetap tulus, namun terkadang lupu...

Hukum lautan

Aku adalah lautan yang pernah membuka setiap selatannya. Pada setiap kapal yang mencari peruntungan tanpa pernah mengukur seberapa berat muatan yang kugiring pada isi kedalaman.   Kututurkan setiap ombak sebagai sapaan hangat, kubasuh setiap dermaga dengan air yang kusimpan dari awan surgawi. Keyakinan pernah berkata kepadaku, bahwa kebaikan adalah bahasa yang tak perlu terjemahkan.   Namun matahari menyinari pasir yang kusembunyikan, dan aku melihat jejak kaki menginjak-injak hamparannya. Mereka yang melautiku dengan keserahakan, Lalu marah ketika aku berombak dan menenggelamkan kapalnya. Itulah kenapa, aku mulai membatasi diri dari pelaut, pelayar, pengendara kapal atau siapapun itu. Kubangun tembok dari batu-batu Untuk menetapkan batas yang jelas. Siapa yang berkata mampu membelah lautan? Kupastikan mereka tenggelam sebelum sempat mengarungi samudra ku. Aku masih lautan; membuka selatan untuk kapal yang bersedia berdamai dengan ombakku, Memahami setiap riak dan desir air. T...

Dermaga dan sang pelayang

Sang Pelayang Layar menari bersama angin luput, datang dari bintang yang kehilangan arah, melukis jalur bulan luntur di ufuk. Matamu kompas bagi arah yang belum tiba, tanganmu dayung— nyanyian legenda laut. Tak pernah terjamah. Kau sapa ombak yang jauh, Hingga bisik pantai menyusupi relungmu, Lalu matahari menyorot wajahku: sebuah dermaga berdiri teguh di tepian. Akulah dermaga. Batuan yang bertumbuh saat ombak pertama memeluk pantai. Kau bicara tentang badai, takut lambung kapalmu digigit gelap, layar lupa terbang dan bergelantungan di langit ragu. Kau kira pelayaran Hadir tanpa tempat kembali. Ketahuilah — pelayaran sejati selalu punya dermaga, meski kapal harus menjauh untuk mengenali lautnya. Kau membungkus diri dengan kabut bingung. Embun dan keraguan berputar, hingga angin pulang memanggil dirimu. Bersama pelukan fajar kapalmu akhirnya bersua, menyandar padaku. Dan bersama malam kuceritakan kembali tentang bulan— saat layarmu berhenti sejenak. Kau peluk aku di tepian, kuhangatkan...

Bulan di seberang pagar

Bulan adalah tetangga yang tinggal di seberang pagar. Dari langit dia melihat aku setiap malam, ketika aku duduk di lantai belakang rumah, menahan napas hingga rasa sakitnya mengeras di antara tulang rusuk. Dia tidak mengeluarkan suara, hanya menyinari pagar bambu yang kususun sendiri, menjadikan setiap bilahnya jelas terlihat seperti garis-garis yang memisahkan aku dari semua yang ada di luar.   Aku belajar dari ibuku: apa yang menyakitkan harus disimpan di dalam, agar tidak membuatnya harus bangun dari tempat tidurnya tengah malam. Jadi aku susun batu demi batu di ruang dalam diriku— setiap ejekan membuat batu tambahan terasa lebih berat di pundak, setiap rasa malu membuat celah di antara batu semakin sempit, setiap ketidakadilan membuat batu tersebut menancap lebih dalam pada relung hati.   Bulan mengamati dari posisinya yang tetap—dia tahu kapan aku menangis dengan mata terbuka, kapan aku tersenyum padanya padahal tubuhku sedang menggigil, kapan aku berdiri diam di bawahny...

Kisah anak pohon kayu manis

Aku datang ketika kebun mulai mengering— matahari telah lama memanaskan tanah hingga mengelupas, langit hanya menjawab dengan hembusan udara panas yang kering.   Hanya satu pohon kayu manis berdiri tegak, batangnya melengkung seperti tangan yang meraih jauh, kulitnya retak-retak seperti kertas tua yang dilipat berkali-kali, setiap celahnya menyimpan jejak hari-hari yang lalu.   Aku adalah tunas di pangkal batangnya, akar-akarku menancap di dalam tanah yang sama— tempat dia menyimpan semua cerita badai dan kekeringan.   Telingaku adalah celah di kulitnya, setiap hembusan angin membawa bisikan: tentang badai yang menerjang, tentang air yang harus dicari jauh-jauh, tentang buah yang diberikan sebelum sempat matang.   Kisah-kisah itu meresap seperti air lewat akar— tidak membuat basah permukaan, tapi membuat tanah dalamku penuh dan berat.   Aku belajar menjadi daun yang tidak bergoyang, membaca irama napasnya ketimbang mengikuti angin untukku sendiri. Paradoks dalam...

Aku dan biarkan angin berlalu

Di Tempat dimana Langit dan Tanah Bersatu Pasir-pasirnya tersusun dengan harmoni alam, setiap satu membawa esensi tersendiri. Tak ada jejak yang pernah mengakar di permukaannya, tak ada sosok yang pernah meluangkan waktu untuk merenungi apa yang ada di bawah lapisannya. Berdiri utuh dalam kesendirian dianggap Cacat. Pengetahuan tumbuh dari ego sendiri.   Angin Berkelana melintas dengan gesit tanpa tujuan pasti, menyapu segala yang ditemuinya dengan hembusan yang semena-mena, mengangkat ekspektasi sebagai bukti tak terbantahkan. Mari sepakati, menybutnya: Si cacat logika  Pembawa zarah gelap. Menyatakan kepahitan yang tak pernah dialami, mengaku memahami meskipun tak pernah mendalami.   Tunas Kokoh Berdiri tegak dengan duri. Menyembunyikan kedamaian, Menyaksikan bagaimana angin mempengaruhi seluruh entitas. Tempat air yang dulu jernih, mulai melihat dengan pandangan keruh, semak-semak yang tumbuh di sekitar mulai menjauhi tanpa alasan. Merasa jadi penuntun yang paling cerd...

Kuyakin kita satu

Laut Biru pekat mengalir dalam dirinya, menatap tinggi dengan raut wajah yang menahan segala ucapan. Aku tahu dia melihatku juga — ia merasakan hangatnya pancaran yang menyapa setiap pagi, ombaknya mengalun lembut sesuai ritme napas yang sama. "Aku merasa tak cukup layak untuknya," Hati ini berombak perlahan di kedalaman. Setiap gelombangnya selalu menghadap ke arahnya, seolah ingin berpadu.   Langit Biru cerah membentang luas, menatap rendah dengan pandangan menahan setiap lirikan. Dia pasti tahu aku mengaguminya — ia mengirim angin, menyapu permukaan dengan lembut, sinarnya menyinari setiap sudut kedalaman tanpa terkecuali. Aku tidak tahu apa yang dia pikirkan tentangku, kecuali setiap awan selalu membentuk bayangan yang mengikuti gerakannya.   Setiap biru dalah warna yang menyatu di ufuk jauh, tak ada batas mana yang memisahkan keduanya. Kita berdua menyimpan rasa dalam pelukan diam-diam. Kuyakin alam semesta tahu betul bagaimana kita ingin bersua.   Angin Menjadi nyaw...

Biarkan cinta mengalir

Seperti sungai yang mengikuti lekukan alam. Dia datang dengan arus tenang, menyentuh setiap bagian dari bantaran hatiku.   Menyalurkan airnya melalui parit kecil yang kusembunyikan dalam diri, seolah aku adalah salah satu bagian dari lembah yang disiapkan alam, menampung alirannya dengan lapang dada.   Kulihat cahaya matahari memantul di permukaan, kupikir dia hanya akan mengalir di atas bantaran diriku, mengisi setiap lekukan yang ada dalam hatiku.   Nyatanya aku melihat dia mengalir terus, ke sawah yang sedang mengering, ke waduk kecil milik orang lain, dan tanah dalam diriku perlahan mulai merasakan kering.   Aku tidak akan memaksa sungai untuk berhenti atau berbelok ke arahku, tetapi aku juga tidak akan membiarkan diriku hancur karena aliran yang tidak sesuai.   Aku akan merapikan diri sebagai bantaran yang kokoh, menyiapkan lekukan yang pas agar air bisa tinggal jika ia mau, atau tetap ada dengan tenang jika ia memilih untuk melanjutkan perjalanannya ke hil...

Jarak diantara kami

Langit menahan arah sejak pagi. Terangnya bergerak tertib, menyusupi kelabu. Udara menyesuaikan lapisannya, menjaga bentang tetap terbuka. Di bawah keadaan itu, aku berdiri sebagai satu kemungkinan, dan dia sebagai kemungkinan lain. Kami berada dalam jarak yang cukup dekat untuk saling menyatu, cukup jauh untuk bersatu. Menjelang siang, awan tidak bergeser jauh. Regangan ditata, tekanan mengendap. Hujan berada dekat, dan aku tahu perasaanku juga begitu: siap, namun belum diputuskan. Aku menyukainya seperti langit menyimpan airnya— hadir sebagai muatan, tidak dijatuhkan. Siang bergulir. Angin lewat membawa getar tipis. Percakapan kami berjalan terbawa angin. Tak ada yang dilepas, tak ada yang digenggam. Aku mengerti kebebasannya sebagaimana langit memahami batasnya. Dia mengerti kehati-hatianku seperti udara membaca tekanan. Pengetahuan itu berdiri di antara kami, menjaga jarak. Sore mendekat. Cahaya melemah, Awan beringsut ke jarak lain. Hujan tetap tertunda, dan kami tetap berada pada...

Hari ini saja

Aku menemui fakta bahwa hidup tidak selalu menuntut kemenangan. Kadang ia hanya meminta napas yang cukup panjang untuk menyeberangi hari. Kebutuhan tumbuh seperti deret di papan kotor. sementara pendapatan datang sebagai kemungkinan. Tak pasti. Di antara jarak itu aku berada— sebuah tubuh yang berusaha tetap waras. Aku mengira kuat adalah tak tergoyahkan. Lalu aku memahami. Kuat berarti; tetap melangkah meskupun sambil gemetar. Aku berjalan dengan pikiran riuh, menawar harapan agar tidak membebani diri. Ada hari-hari ketika doa kehilangan kata, menyusut menjadi satu permintaan: Hari ini saja, cukup. Mari kesampingkan harapan. Sudahi imajinasi tentang masa depan yang megah; Satu hari tanpa runtuh sudah terasa indah. Bertahan hidup ternyata bukan soal menaklukkan apa pun. Ia lebih mirip keputusan harian tentang apa yang masih layak diutamakan: makan seadanya, tidur seperlunya, dan hati yang tak terus dipaksa merasa bersalah. Jika hidup adalah perjalanan batin, barangkali aku sedang berad...

Belajar mundur darimu

Aku menjumpaimu di sela makna, saat bahasa memilih diam agar tidak mengkhianati dirinya sendiri. Kau tahu caranya membuat ungkapan terdengar seperti rumah. Tenang. Hangat. Dan aku—tanpa sadar— ingin duduk lebih lama di sana. Aku singgah untuk menguji sejauh apa hati dapat merasa aman, Sebab aku melihat kau meneduhkan banyak bahu, menyapa banyak luka dengan suara yang sama. Dan aku bertanya pada diriku sendiri: apakah aku istimewa, atau hanya sedang berada di giliran yang tepat? Perasaanku berjalan menyusuri harap yang masih gamang. Kadang ia berlari, kadang berhenti di persimpangan yang tidak kau beri petunjuk. Masalahnya, aku bukan satu-satunya yang kau hangatkan. Kau membuat banyak orang merasa aman, merasa didengar, merasa dipahami. Dan aku di sana, merasa istimewa sendirian. Aku mulai lelah menjadi kemungkinan yang selalu menunggu kepastian dari seseorang yang nyaman membuat orang lain menunggu. Maka aku belajar mundur, Demi menjaga diriku tetap utuh. Aku menyimpan perasaan seperti...

Rangkuman kota

Dengarlah— kota menipis oleh kebiasaan. Langkah dipersingkat, nama dipangkas, manusia diringkas. Ketertiban belajar menyamar. Berbahasa prosedur, bernapas dalih. Yang kuat menukar alasan, yang ringkih membayar; Diam. Prasangka menemukan alat. Bisik dipadatkan jadi cap, kerumunan menggantikan bukti. Tubuh dipres: wajah jadi kategori, nadi jadi fungsi. Kesopanan mengenakan kostum. Senyum rapi, siku bekerja. Kekerasan berbicara dan menamai dirinya kelancaran. Hening tidak selalu teduh, rapi tidak selalu adil. Kemanusiaan tidak menunggu restu untuk melawan. _______ Karya : Sarah Bneiismael  Bondowoso, 20 Desember 2025

Nasi goreng aroma pulang

Mengapa kita begitu mudah terjerembap dalam kesepian? Pada jam yang disebut dini hari, saat tubuh ingin rebah. Tangan tak sanggup melepaskan ponsel. Mungkin karena kita terlalu sibuk menyelam dalam perasaan orang-orang, menjadikan kesepian sebagai bahasa bersama. Aku mendengarkan cerita mereka, namun apakah aku sungguh hadir, atau hanya ikut tenggelam? Jika tidak benar-benar mendengar, mungkin tidur saja bukan pilihan yang buruk. Akhir-akhir ini, aku sering memikirkan nasi goreng Jawa. Warung kecil yang dulu sering kudatangi kini tak lagi menyala lampunya. Nasi goreng yang sederhana, dengan aroma bawang dan kecap yang entah bagaimana menyentuh bagian hatiku yang paling sepi. Sayangnya, aku belum menemukan tempat yang bisa mengenyangkan perasaan seperti itu lagi. Jika kamu tahu, tolong beri tahu aku. Tentang nasi goreng Jawa yang benar-benar enak, dan tentang cara memejamkan mata tanpa harus menggulir layar terlalu lama. Aku merasa kesepian. Karena rindu pada nasi goreng yang dulu teras...

Semua hari adalah Ibu

Tak pernah ada kalender yang kami lingkari, tak ada lilin yang diajarkan menyala atas nama satu hari. Rumah kami tak mengenal perayaan. Kami, hanya paham pagi yang setia datang, dan malam yang pulang bersama doa. Aku tumbuh di rumah yang tak menamai cinta, sebab cinta terlalu sibuk bekerja. Ia bangun lebih awal dari matahari, menyapu lantai sambil bershalawat, memasak waktu dengan sabar agar kami kenyang oleh cukup. Valentine, hari ibu, bahkan hari ulang tahun— tak pernah mengetuk pintu kami. Bukan karena ibu tak mampu memberi hadiah. Sebab Kasih; Tak pernah menunggu tanggal berapa. Di rumah ini, cinta beralih bentuk menjadi hembus— terasa tanpa disadari, hadir tanpa pernah diumumkan. Kami tertawa oleh perkara kecil, dan tawa itu diam-diam tumbuh menjadi perayaan: tanpa undangan, tak perlu disebut-sebut, tetap hangat dan meriah. Marah, lalu diam, Kemudian saling memeluk; Pelukan itu lebih semarak dari perayaan apapun. Ibu mengajari kami: hari kasih sayang adalah saat amarah luluh, saat...

KAMU

Zaman berjalan lebih lambat sejak langkah disamakan, seolah hari menunggu agar tak ada yang tertinggal. Ujung perjalanan mulai saling mendekat, jarak belajar mengecil, dan arah tak lagi saling menoleh. Lalu niat menemukan tempatnya, berhenti tanpa aba-aba, menjadi diam yang ingin dijaga. Kaki-kaki hari masuk ke halaman, rumah membuka pintu dalam keheningan yang disepakati, lantai mengenali berat langkah yang berniat tinggal. Isi waktu disusun perlahan, pagi dan malam bergantian merawat, agar yang rapuh tak lagi sendirian. Fajar datang sebagai saksi, meja dan jendela menahan terang, menyimpan harap agar tetap hangat. Lama-lama hari saling mengikat, oleh kebiasaan yang tumbuh bersama. Ini keinginan yang kupelihara: menjadi satu arah pulang, menjaga langkah tetap seiring, sampai waktu belajar menyebut kita sebagai tinggal. _____ Karya: Sarah Bneiismael 

Musim datang

Musim gugur tiba ketika hari mulai memendek. Udara terasa lebih ringan, langkah berjalan waktu mengendur dari genggamannya. Di hamparan yang lama terbuka, warna mengendap. Daun menurunkan dirinya satu per satu, tanpa penundaan. Sebagian jatuh lebih dulu, sebagian tinggal lebih lama. Tanah menerima semuanya dengan berat yang sama. Tidak ada perubahan besar. Susunan hanya bergeser. Yang berlebihan lepas, yang perlu menetap menemukan tempatnya. Ruang tersisa agar hari-hari berikutnya dapat berlangsung. Ketika musim selesai, dunia tetap seperti semula. Lebih lapang. _____ Karya: Sarah Bneiismael 

Bersama malam

Malam memang suka bercanda, tapi ia selalu tahu batasnya. Ia datang ketika hari mulai kehilangan arah, lalu mengumpulkan sisa-sisa berisik yang tercecer. Udara dilonggarkan agar napas kembali mengenali diri. Malam mengajak duduk. Ia membuka ruang agar pikiran berhenti berputar. Ingatan dipanggil seperlunya, disentuh dengan tenang, lalu dikembalikan ke tempat yang aman. Di bawah pengawasan malam, waktu belajar berjalan lebih jujur. Detik tidak lagi tergesa. Bayangan lama hadir sebagai pengingat, mengajarkan bahwa setiap langkah pernah membawa maksud, meski baru dipahami setelahnya. Malam menyimpan cinta. Hidup bersama napas yang lebih lapang dan cahaya lampu yang memilih tetap menyala. Dari sana tumbuh pelajaran tentang ketulusan yang tidak meminta pengakuan. Sebelum pergi, malam merapikan isi diri. Perasaan diberi tempatnya masing-masing. Yang perlu dijaga dikuatkan, yang siap dilepas diberi jalan pulang. Di akhir percakapan. Malam meninggalkan pesan:  Beri waktu pada diri sendiri....

Cinta di ruang tertutup

Andaikan cinta menitipkan satu peluang aku ingin tahu sejauh apa diriku sanggup meluruh menjadi ikhtiar. Berapa lapis nyali harus kutanggalkan agar namaku diizinkan singgah di lengkung batinmu. Namun bila kau menjelma kaca bening tanpa engsel, tak memberi celah bahkan pada sisa kemungkinan, aku pun jatuh dalam akuarium duka tempat kesedihan dipelihara hingga penuh. Airnya merambat dari penglihatan yang terbelah, menggenangi relung, menelan isyarat-isyarat yang tak sempat berpermukaan. Aku bertahan dengan napas pinjaman, menyimpan pekik dalam gelembung rindu yang pecah sebelum mencapai makna. Di sana, air mata telah menjadi arus yang kupilih untuk menggantikan langkah. Alih-alih mengetukmu, aku membiarkan diri larut seluruhnya, menjadi hening karena harap telah letih. Aku menangis seluas wadah kesedihan itu, sebanyak-banyaknya, hingga duka berubah arus yang mengayun jiwaku pelan. Dan di dasar kaca aku paham: tak setiap cinta dititipkan untuk menemukan jalan keluar— sebagian hanya dihadi...

Aku bersyukur kau pergi

Awalnya aku mencoba tenang. Setiap pertemuan memiliki batasnya, dan setiap orang berhak menentukan arah. Aku menerima itu sebagai bagian dari hidup, meski hatiku tidak selalu segera paham. Aku melihat kepergianmu tanpa terburu-buru menyimpulkan apa pun. Kupikir perpisahan adalah proses yang bisa dilewati dengan kepala tetap tegak. Namun ada hal yang akhirnya tidak bisa lagi kuabaikan. Kau pergi kepada seseorang yang, sejujurnya, tidak menunjukkan sesuatu yang lebih baik dariku. Lalu aku bertanya: apa yang sebenarnya kau lihat darinya? Nilai? Kejujuran? Atau hanya kemudahan agar kau tak perlu bertanggung jawab? Di titik itu, aku berhenti bersikap lunak. Aku harus jujur pada diriku sendiri: ini bukan tentang selera, ini tentang nalar. Memilih dengan menutup mata, menukar yang hadir dengan yang asal ada, lalu menyebutnya keputusan— itu bukan kesalahan kecil, itu kebodohan yang dilakukan dengan sadar. Apakah kau benar-benar tidak melihat apa yang sedang kau tinggalkan? Atau kau melihatnya,...

Ketenangan adalah kemenangan

Ada saat dalam hidup ketika tidak perlu menjelaskan apa pun kepada siapa pun. Penjelasan yang panjang sering melahirkan salah paham yang baru. Nama baik justru terjaga ketika kita fokus pada laku dan perilaku yang konsisten. Hidup memberi ruang bagi setiap orang untuk menilai. Sebagian melihat yang baik, sebagian lain bertahan dalam prasangka. Kita tidak dapat mengatur cara mereka memandang; yang dapat kita jaga adalah cara kita berjalan. Perilaku baik berbicara lebih tenang.  Integritas tumbuh dari kebiasaan yang kita ulang setiap hari. Ada pikiran yang sibuk mencari kesalahan orang lain karena persoalan dalam dirinya belum selesai. Fitnah lahir dari hati yang gelisah, Jiwa yang membutuhkan pengobatan melalui pengertian dan kedewasaan. Ketika kita tidak terbawa arus itu, kita menjaga diri dari energi yang menguras batin. Ketenangan adalah kemenangan yang tidak selalu tampak dari luar, namun paling terasa dari dalam. Berbuat baik memberi kita tempat berdiri yang kuat  Setiap t...

Sketsa diri yang belum rampung

Aku belum pantas merindukan apa pun. Di dalamku, alat-alat masih berserak, paku belum menemukan kayu, dan niat berdiri miring, dipaksa menanggung beban di atas fondasi yang belum dituang. Ada yang kurang, seperti baut hilang di engsel batin— menggantung, membuat setiap gerak tak pernah sungguh menutup atau membuka. Aku mengerti mengapa pintu jarang memberi jalan. Tanganku sering terlalu cepat, menarik gagang sebelum rangka di seberang selesai menguatkan sepi. Ke dalam, aku masih denah— garis-garis ragu belum sepakat menjadi ruang. Ke luar, aku hanya kerangka, menunggu sesuatu yang layak disebut bentuk. Beberapa cela muncul di titik tumpu, membuat beban berpindah ke arah yang salah. Dan tak ada yang menunggu di dalamku selain aku sendiri. Maka aku membiarkan perancah tetap di tempatnya. Ia menyangga kemiringan agar tak jatuh sebelum waktunya. Aku berdiri di bawah rangka ini, menyimak kerja beban hingga diam menunjukkan bagian mana yang perlu diperkuat, dan mana yang harus dilepas. _____...

Tentang Kebijaksanaan dalam Menjadi Sastrawan

Menjadi sastrawan tidak hanya soal kemampuan merangkai kata, tetapi juga tentang sikap ketika berhadapan dengan karya orang lain. Ada saat kita membaca tulisan yang tidak sesuai dengan selera kita. Diksinya terasa kasar, nadanya terlalu keras, atau gagasannya tidak sejalan dengan pemahaman kita tentang sastra. Perbedaan semacam ini wajar dan tidak perlu dibesar-besarkan. Setiap karya lahir dari latar, pengalaman, dan proses yang berbeda. Karena itu, tidak semua tulisan harus memenuhi standar pribadi kita. Selera bukan ukuran mutu yang mutlak, dan ketidaksukaan bukan dasar untuk merendahkan. Dalam sastra, kritik memiliki tempatnya sendiri. Namun kritik yang baik bertujuan memperjelas, bukan mempermalukan. Ia membantu pembaca dan penulis bertumbuh, bukan sekadar menunjukkan kesalahan. Ada batas yang perlu dijaga. Ketika tulisan digunakan untuk menghakimi atau menjadikan kekeliruan orang lain sebagai bahan sindiran, maka yang muncul bukanlah kedalaman berpikir, melainkan sikap arogan yang...

Tentang Orang yang Membenci Tanpa Mengenal

Ada hal yang selalu terasa aneh: bagaimana mungkin seseorang membenci, padahal kita tak pernah benar-benar saling kenal. Kita tak pernah berjumpa, tak pernah berbincang, tak pernah berbagi cerita apa pun. Namun entah dari mana, prasangka itu tumbuh begitu saja, seperti penilaian picik yang sengaja memilih tidak tahu. Aku mencoba memahami, mungkin ia melihat sesuatu yang tak ia miliki. Atau mungkin ia hanya menilai dari permukaan— tanpa tahu bagaimana isi sebenarnya. Bisa jadi bukan tentang diriku sama sekali. Kadang, orang melampiaskan kecewa pada siapa pun yang tampak baik-baik saja. Bukan karena salah, melainkan karena tak semua luka berani diakui oleh pemiliknya. Aku belajar satu hal: tak semua kebencian perlu dibalas, dan tak semua penilaian layak dijelaskan. Menjadi diri sendiri tidak seharusnya meminta izin siapa pun. Namun jika seseorang memilih membenci tanpa pernah mengenal, tanpa pernah bertanya, tanpa pernah mendengar— maka itu bukan ketidaktahuan yang polos, itu kebodohan y...

Romantismeku hilang arah

Suatu saat aku menyadari sesuatu. Bahwa dalam diriku, romantisme  kehilangan arah. Dulu, aku bisa menatap layar dan percaya pada cinta hanya dengan menonton Ada Apa Dengan Cinta? cara Rangga diam-diam mencintai, atau Dilan 1990, dengan kalimat sederhana yang entah kenapa bisa terasa begitu serius. Aku pernah berpikir, bagaimana jika suatu hari aku mencintai seseorang dengan cara sesederhana itu— tanpa perlu banyak bukti, tanpa perlu terlalu keras meyakinkan dunia. Namun mungkin, karena aku tak pernah benar-benar menemukan seseorang yang bisa diajak berbagi perasaan-perasaan seperti itu, maka pelan-pelan hasrat dan emosi itu layu sendiri. Seperti film yang selesai, lampu bioskop menyala, dan kita pulang sendirian. Aku masih menginginkan romantisme. Meski kadang terasa canggung mengakuinya di usia yang terus berjalan. Rasanya seperti tersesat di jalan menuju cinta. Seperti ketika Dilan yang dulu terasa menggemaskan, di kemudian hari tak lagi seindah ingatan Milea. Namun tetap saja, s...

Arus akan datang

Di antara hal-hal yang kita sebut rasa, aku mengenalnya sebagai laut yang bernapas; datang ke tepian, menjauh ke dalam, lalu bersikap seolah tak pernah berubah. Aku ingin menjadi pasir yang cukup lembut baginya— tidak membuatnya ragu untuk menapak, tidak pula mudah terhempas pergi. Aku ingin jejak kakinya tetap tinggal. tanpa dorongan untuk menepi ke lain pantai. Kita sering terjatuh oleh air yang tampak tenang di permukaan, oleh kilau yang memikat matahari, oleh suara gelombang yang menyapa dari kejauhan. Kita memeluk kesan, tanpa sungguh menyelami arus yang menggerakkan segalanya dari dalam. Aku membayangkan hatinya bergerak bersamaku— tidak selalu seirama, namun cukup saling tahu kapan harus mendekat dan kapan memberi ruang untuk surut. Lalu aku menimbang dirinya Dan Aku meyakinkan diri bahwa pantai ini aman, bahwa tak ada bebatuan tajam yang menunggu langkahku. Begitulah aku menenangkan diri: menyebut keyakinan sebagai keberanian. Suatu hari, apabila ia membuka dirinya, dan aku mel...

Ingin klepon, hari ini.

Hari ini aku ingin membeli klepon. Klepon yang tidak dimakan sambil lalu, yang tidak dicari hanya karena hangatnya uap kukusan. Klepon yang dibungkus satu per satu, lengket dan lembut di telapak tangan, dengan gula merah yang mencair perlahan saat digigit dengan sabar. Di setiap bulir kelapa yang menempel, aku ingin menemukan rasa tenang— manis yang mengalir lirih, kenikmatan yang tidak berisik, bahagia yang singgah  lalu menetap dalam ingatan. Harganya mungkin sedikit lebih mahal, dan aku memilih yang ini. Ada rasa yang dijaga, ada kelembapan yang dibiarkan tinggal. Ada niat yang terasa, meski tanpa kepulan asap. Mungkin ada yang berkata, klepon paling enak adalah yang masih panas, yang disantap cepat sebelum dingin datang. Aku mengerti itu. Namun hari ini, hatiku condong pada klepon yang ketenangannya bertahan. Tidak hangat, tetapi lembut. Tidak bersap, namun menyisakan jejak. Seperti beberapa pilihan dalam hidup— yang tidak ramai, Tidak diburu waktu. Klepon yang diam-diam tingga...

Sungai panjang dan alirannya

Jabatan adalah sungai panjang, membentangkan tabiat di setiap lekuk alirannya. Di tepi air, kejernihan belajar menghilang. Arus berdesakan dengan riaknya sendiri, bersinggungan, berisik, namun enggan beranjak ke hilir. Muara menunggu lama, tanpa keluhan. Buih menarik perhatian permukaan; pusaran kecil diberi arti, diulang, lalu dipercaya sebagai hambatan besar. Sementara itu, batu-batu berat berdiam di tubuh sungai— dingin, tak terusik, mengunci aliran, membiasakan jengah sebagai putaran yang diterima. Air berkumpul dalam satu ingatan, mengental oleh pengulangan. Arah mulai ragu. Kelancaran surut diam-diam. Aliran menahan napas, ranting memilih tinggal, perahu menunda niat keberangkatan. Di hilir yang lain, sungai belajar cara baru. Tak mengamati riuh, tak menjadikan buih sebagai tanda kuasa. Batu yang mengganjal dipeluk lalu disingkirkan, jalur yang tersumbat dibujuk untuk terbuka, ruang dibiarkan lapang agar ingatan pada muara pulih. Ketika aliran menyimpang perlahan, kesabaran menye...

Cara hujan melepaskan.

Sejauh hujan mengingat jatuhnya, kuluruhkan diri pada cara langit mengajarkan lepasan— bahwa yang berat tak mesti ditahan. Air menyentuh atap, merendah ke tanah, lalu menyusup pada ceruk terdalam agar ingatan tak kembali melukai, sampai waktu belajar menerima. Dingin hadir sebagai pengetahuan sebagaimana desir di sela hembus, menyentuh tubuh. Tak ingin pulang. Tetes demi tetes menyusun keheningan. Pikiran menyusut, menjadi diam yang lapang, menjadi rehat sejenak. Tak lagi menuntut jawaban. Ada yang harus tinggal dipelihara tanpa dipercepat. Biarkan maknanya matang. Tak semua harus dipetik sekarang. Barangkali hujan memang begitu: meruntuhkan batas antara yang digenggam dan yang seharusnya dibuang Maka langkah kuendapkan pelan, mengikuti alir Disanalah aku belajar cukup— menjadi hening yang tidak lagi meminta hujan untuk menjelaskan dirinya. ____ Karya: Sarah Bneiismael  Bondowoso, 14 Desember 2025

Hamparan menuju pulang

Kala penantian menjadi garis-garis samar pada hamparan tanah yang menahan musim, dan malam menebalkan rindu seperti kabut yang enggan lepas dari punggung bukit, semoga embun tetap singgah, membawa isyarat bahwa harapan belum rapuh. Di antara lalu-lalang pengkhianatan yang tumbuh menjadi duri pada relung tenang, aku berharap hidup masih menyimpan sebidang teduh— Dimana ketabahan bisa kembali berakar, meski angin kerap datang membawa luka tanpa diundang. Meskipun kebencian menjulang seperti ilalang liar, mengaburkan jalan menuju damai, aku percaya ada desir yang menjaga agar gelap tak menjadi penguasa, mengusap lembut helai-helai rasa yang hampir layu oleh lelah panjang. Dan di antara cobaan yang turun mengikis kesabaran sedikit demi sedikit, aku menunggu saat ketika langit mengedarkan kembali suara hati, membiarkan titik-titik sinar meresap perlahan ke ruang batin yang mulai suram. Semoga suatu hari, bahagia tumbuh tanpa keramaian, sebagaimana benih kecil yang menembus tanah dengan kebe...

Yang pergi jangan kembali

Jangan kejar seseorang yang pergi tanpa sepatah kata. Jika ia menghilang begitu saja, biarkan bayangnya luruh bersama angin. Hidupmu terlalu berharga untuk dihabiskan menafsir teka-teki dari hati yang bahkan tak sanggup menyuarakan dirinya sendiri. Tetap tenang. Tetap teduh. Martabatmu adalah lentera yang tetap menyala, bahkan ketika seseorang memilih memadamkan suaranya sendiri. Ada yang pergi karena hatinya kusut seperti benang basah, ada yang pergi karena tak kuat menatap tajamnya ketegasanmu, ada pula yang pergi karena dirinya adalah kapal yang tak tahu pelabuhan mana yang ingin ia tuju. Apa pun alasan itu, biarkan semua berhenti pada batas pintu. Tidak setiap kehilangan wajib diselami. Dan bila suatu hari ia kembali membawa cerita yang terlambat seperti surat tercecer angin, sambutlah dengan senyum tipis yang tak lagi mencari makna. Kau telah tumbuh—akar jiwamu lebih dalam, langkahmu lebih teguh dari gelombang yang mencoba meruntuhkan. Kau tak menunggu siapa pun; dirimulah rumah u...

Tinggal, Bukan singgah

Jangan jatuh cinta karena seseorang menaruh sebutir hangat pada harimu. Kadang musim hanya mampir, lembut hanya singgah. Tidak setiap semilir ingin menetap. Tidak setiap kehadiran berniat menjadi rumah. Ada hati yang datang seperti awal gugur menyapa angin  lalu merontok perlahan, meninggalkan lengang dan tidak pernah perduli sungguhan. Cintailah dia yang memandangmu tanpa jelaga peran, yang melihat kerut-kerut jiwamu tanpa mengendurkan langkah, yang menerima kacau-mu sebagaimana musim menerima ranting: tanpa menuntut, apalagi meminta syarat untuk menjadi lebih teduh dari yang kau bisa. Cintailah dia yang tak menuntutmu menjadi langit. Pertahankan diri. Meski mendung, kadang berangin, Dingin, Asal jujur pada diri sendiri. Cinta tumbuh dari keberanian. mengetuk gelap, mengulurkan tangan, berdiri di sisi yang tidak selalu nyaman. Dan saat malam turun lebih rendah. ia mendekat, menyentuh riakmu seraya berkata: “Mari kita perbaiki. Kita selesaikan ini bersama.” Kalimat lembut meredakan...

Retih malam menanggung cinta

Aku tak sedang mencari yang sempurna. Aku hanya menginginkan kamu— tetap bertahan ketika senjaku melepaskan sekujur gemerlapnya, memanggilku dari sela kemungkinan seperti angin menitipkan rahasia pada kedalaman sanubariku yang telah lama letih. Teduhku melata setiap kali hadirmu menyentuh ambang jiwaku. Detik-detik rapuh kembali menegakkan wajah, dan malam, semula pudar mendekat lirih seakan hendak menampung gerak rasa yang kita sembunyikan. Kamu tahu? Detikku berganti rona setiap kali kau memilih duduk di sisiku. Waktu menurunkan degupnya, langit merapatkan denyarnya, dan semesta menyingkirkan gemerisiknya agar kita dapat saling mendengar tanpa repot mengeja. Jika itu bukan cinta, aku kehilangan sebutan bagi keajaiban penjahit ulang lukaku dan membuat harapan kembali mekar di sela hembusan sepi. Bersamamu, jiwaku membuka pintu-pintu yang lama menutup, membiarkan cahaya merayap masuk ke sudut-sudut yang pernah kubiarkan beku. Bagian-bagian kupendam keluar ragu, dan kau menyambutnya sea...

Meniti gurun dalam diri

Di atas pasir yang terus bergeser oleh desah angin panas, aku mendengar keluh yang disimpan siang panjang. Terik merayap dari ufuk, keheningan kering menjalar, mengguncang ruang terdalam. Bayang-bayang terkedil di punggung bukit pasir, menjauh dari tatapan matahari. Waktu melintas secepat hembus samum, turun perlahan ke lembah dalam diri membaca sunyi dari panas yang mengendap. Kasih tumbuh dari gelombang panas yang naik ke ujung penyeberangan ini. Dari hamparan pasir, isyarat mengalir pada yang bertahan. Tarian udara goyah oleh terik. Setiap penantian meninggalkan guratan pada desir yang tak pernah menetap— guratan yang menjadi penunggu angin dingin. Gurun berbicara dengan bahasanya sendiri: alur terburai, garis sunyi, hamparan panas yang mengantar keberanian meniti jalan di antara kerasnya batu dan diamnya angin. Panas, dahaga, dan gerak pasir— bersekutu menjadi satu tubuh yang menuntut tetap maju. Teruslah melangkah di atas pasir. Sebab di balik desah panas yang mereda, hidup sedang...

Rindu menjahit arah

Layang warna senja dan lengkung mega tipis turun perlahan ke hari ketika cinta masih bersandar tenang di antara gelora kita. Kala itu, dunia bernapas lembut, gumam sungai mencari batu pertamanya. Kita merapatkan tubuh dan tawa; langit membuka ruangnya, kilau jatuh satu-satu, restu turun diam-diam menghangatkan sayup yang belum kita tenun. Pada halaman waktu yang kusapu perlahan, silau wajahmu tampak muram— serupa lentik cahaya yang enggan meninggalkan malam. Aku menatapnya lama; rindu mulai menjahit arah untuk pulang ke pangkuanmu. Tatapanmu yang kutarik dari ingatan datang lagi seperti desir pemalu, mengetuk rasaku dengan sentuhan halus. Suara lama berjalan perlahan, sabar menjulur menjadi nyanyian, cinta berkeliling di ruangku, membiarkan sepi bersandar. Kita pernah disentuh angin lunak yang menautkan langkah. Di tempat itu, senyummu membangun halaman kecil; redam yang kau tinggal tumbuh menjadi peluk panjang, menghangatkan malam. Kenangan itu— sentuhanmu yang menyingkirkan riuh, aro...

Seni menjaga batin

Seiring waktu, kita memahami bahwa tidak setiap ruang layak dihuni. Ada tempat yang terlihat baik, namun tidak memberi ketenangan yang kita perlukan. Tidak setiap hubungan pantas dipertahankan. Beberapa justru mengurangi keberanian, merusak fokus, dan menghambat langkah. Tidak semua situasi layak menguras tenaga dan perhatian. Ada hal-hal yang tidak membawa nilai apa pun selain kelelahan yang berulang. Akhirnya, kita belajar menjaga diri. Kita menutup yang tidak sehat, melepaskan yang tidak selaras, dan memberi batas pada apa pun yang mengganggu kedamaian batin. Begitulah kita tumbuh— lebih jelas, lebih berani, dan lebih setia pada hidup yang ingin kita jalani. _____ Karya: Sarah Bneiismael  Bondowoso, 19 Desember 2025

Medan perhitungan diri

Kesederhanaan menetapkan limit pada ranah dalamku, menahan gerak agar aku mendekati nilai yang selama ini menunggu kepastian. Keputusan bangkit sebagai turunan awal, mengambil perubahan paling halus lalu meletakkannya di jalur yang tak bisa kutarik kembali. Kreativitas melepaskan variabel liar, membiarkan setiap simbol mengaliri kurva interior yang selalu berubah kelengkungannya. Tantangan muncul sebagai titik kritis, menghentikan laju hingga gradien terdalamku menandai wilayah yang harus kubaca ulang. Strategi memanggil kemiringan baru, mengubah arah fungsi dengan ketelitian yang tak bisa dinegosiasi. Inovasi membuka integral yang tersembunyi, mengumpulkan seluruh perubahan menjadi luasan yang akhirnya dapat dipahami tanpa perlu memanggil jejak waktu. Dan ketika seluruh medan itu berkumpul dalam satu perhitungan yang pekat, sebuah tetapan— yang selama ini berdiam di kedalaman tanpa pernah mengalami simpangan— mengirimkan peringatannya: “Hentikan penundaan pada limitmu sendiri. Kenali ...

Kekuatan dalam kerinduan

Menerima sesuatu Ternyata tak sesulit menenangkan kerinduan. Ketika kita sadar bahwa apa yang lama kita inginkan memang layak kita miliki, rindu tidak serta-merta luruh. Ia tetap berjalan di sisi kita—seperti bayang senja yang mengikuti langkah, lahir dari kebiasaan lama: menunggu, merasa kurang, mencari pantulan dari luar diri. Perlahan kita mengerti: rindu bukan rantai ketergantungan. Ia lebih seperti angin yang melintas, mengingatkan bahwa menerima juga butuh ruang. Ia bukan tanda kita belum utuh, hanya jejak lirih yang muncul saat diri masih menata akar untuk tumbuh. Dulu kita mengira kepantasan harus ditebus dengan perjalanan terjal—seolah kebahagiaan baru tumbuh setelah menyeberangi luka dan lelah. Namun waktu, seperti sungai yang sabar mengikis batu, menunjukkan sesuatu yang lebih jernih: nilai diri tidak lahir dari kerasnya arus yang kita hadapi. Nilai itu sudah ada sejak mula; hanya perlu dikenali, bukan dibuktikan. Dengan kesadaran itu, kebutuhan untuk membuktikan diri melebu...

Selalu Saja Aku

Selalu saja aku— Batu bisu, dibentur, dibungkam, dibilang bebal. Selalu saja aku— Daun layu, digugurkan, lalu ditanya “kenapa layu?” Selalu saja aku— Nadir ringkih, dikecup angin repih, dibilang redup, dihitung perih. Dan kalian— Angin angkuh, melintas, Lingkas  melingkar sesuka arah. Dan sudah. Biarkan langkahku lirih— menjauh, menjernih, Memeluk diri sendiri. Menyendiri. Mengamini. _____ Karya: Sarah Bneiismael, Kiky 08 Desember 2025 Bondowoso, Yogyakarta.

Integritas dari dasar laut

Samudra terdiam, merengkuh gelombang, menyimpan asin yang enggan dibawa arus. Ia memilih diam pada pasang, dan membiarkan surut berlalu dengan sendirinya. Arus setia mengalir. Ada yang menatap pada dalaman, ada yang tersesat di permukaan— air tetap air, meskupun tafsir berbeda. Fitnah hanyalah buih: putih, ringan, rapuh. Sekilas tampak seperti badai, lalu pecah dan hilang dari ingatan. Tetap mengalir lebih penting. Sebagaimana karang teguh membisu, menerima ciuman gelombang, lalu menyimpan bekasnya pada relung terdalam. Yang datang disetiap fajar lebih berarti daripada riuh yang sebentar. Gerak air lebih tulus dari tutur, Gelombang laut lebih pasti dari gemuruh. Badai datang— gelombang menjulang, gemuruh membara, amarah mengeruhkan lautan. Namun ia tak terguncang: menyembunyikan getir di palung, menanti pagi meredakan gelap. Fajar membasuh malam, mengembalikan biru pada permukaan. Ketenangan kembali, Kebisingan tenggelam bersama buih. Nama baik layaknya kedalaman samudra. Tak dapat dip...

Daftar Isi Karya Sarah Bneiismael

Gambar
Bergabung di saluran WhatsApp untuk akses lebih mudah:  Codex of Silence | Sarah Bneiismael Daftar isi: 1.  Satu perahu kertas dilautan riuh 2.  Suara yang tenggelam 3.  Sunyi ditengah luka 4.  Ranting yang retak 5.  Cinta yang Terkunci 6.  Jejak dijalan yang sunyi 7.  Hingga berjumpa lagi (Ibu) 8.  Padang yang sepi ( Puisi tentang kehilangan seluruh anggota keluarga satu persatu) 9.  Lelah yang tak terucap 10.  Puisi : Tegar yang tak pernah suka rela 11.  Bayangan yang tak pernah kupilih | Puisi 12.  Lakon dari luka 13.  Langkah yang tak pernah sampai 14.  Aku yang lelah 15.  Taman dari tubuh yang retak :bertahan hidup 16.  Indah yang tak pernah ku miliki l mencintai diam-diam 17.  Orkestra yang retak ditengah senandung | Puisi cinta yang berakhir jadi pelajaran 18.  Pagi yang menyala dalam sepi | Puisi ini tentang perjalanan batin seseorang yang merasa sendiri, tidak dipedulikan,...